Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Joya dan Rion


__ADS_3

Joya dan Rion saling berhadapan. Mereka berbaring polos tanpa busana, Joya menatap suaminya yang juga sedang menatapnya, bedanya, Rion tersenyum kearah Joya, sedang Joya sendiri hanya diam dan mengamati wajah Rion.


Tangan Joya terulur, membelai lembut dada liat yang tampak lembab oleh cairan keringat sisa aktifitas perang penuh erangan kegelisahan campur kenikmatan yang baru saja mereka lewati, Rion membiarkan apa yang diperbuat oleh sang istri, hatinya justru membuncah karena tindakan sederhana Joya. Joya memberinya rasa nyaman, rasa bangga karena tindakan wanita tersebut membuat Rion menyadari apa yang baru mereka lalui Joya pun menikmatinya.


Sebenarnya Joya sedang merasa malu dan gelisah. Ada rasa khawatir jika Rion tidaklah puas dengan dirinya, keadaan yang sudah tidak gadis tentunya ada rasa minder karena sadar suaminya adalah bujangan, dan bisa jadi dirinya menjadi wanita pertama bagi Rion, sementara Rion bukan lelaki pertama untuknya.


"Mas," Joya mengenggam tangan Rion yang berada di pipinya saat mendengar ucapan terimakasih yang kedua kalinya dari lelaki tampan yang masih tiduran menatap netranya.


Tiba-tiba pipi Joya merona begitu menyadari dibalik selimut itu tidak ada apapun yang membalut tubuh lelaki itu.


"Aku siapkan air mandi" Joya menarik diri dan akan segera bangun.


"Kamu disini saja" Joya yang baru ingin beranjak duduk tangannya di tarik oleh Rion. Membuat Joya sedikit kehilangan keseimbangan dan jatuh di dada bidang yang sejak tadi sudah meredam keinginan untuk mengulang kejadian barusan.


Tubuh keduanya sama-sama menggelinjang manakala penyatuan itu kembali terjadi, bukan karena sakit, melainkan rasa yang luar biasa saling memikat hati. Rion sendiri tidak menyangka jika penyatuan mereka menghadirkan cinta tiba-tiba.


Joya melingkarkan kedua kakinya di pinggul sang suami, berkali-kali merasakan tubuhnya yang seakan di pacu dengan kekuatan prima, akan tetapi tidak membuatnya lelah, Joya justru ingin Rion selalu seperti ini, menginginkannya dan melupakan masalahnya yang bertumpuk-tumpuk.


Bukankah setiap kali penyatuan mengurangi efek keresahan. Karena sesungguhnya hubungan primitif memang memicu kurangnya rasa khawatir dan bisa meredam amarah.


Tatapan keduanya beradu. Napas mereka kian memburu, semakin pendakian kepuncak tujuan akan kian dekat. Joya bisa menatap ekspresi Rion yang terlihat menawan di matanya. Menatap pergerakan tubuh pria itu maju mundur di atas tubuhnya. Joya kembali terlena akan perbuatan Suaminya, peluh di wajah Rion jatuh menetes di atas tubuh Joya, hasrat yang menyala di mata sang pria membuat Joya tegang dan berdesir. Hingga akhirnya rintihan itu tak terelakkan.


Rasanya tidak bisa langsung puas, masih menyisakan dahaga yang belum sepenuhnya mendapatkan penawar. Rion bahagia, benar-benar bahagia tanpa rasa was-was, bukan hanya birahi tetapi menyatuan ini benar-benar menghadirkan cinta.

__ADS_1


****


"Kau pikir kau siapa ha??" teriakan keras itu sungguh membuat siapapun berjingkat jika berada di dekat pria itu.


Hamdan mengeram marah manakala Ayenir menyerahkan sebuah map yang berisi surat gugatan cerai.


Ayenir memilih menyerah. Dia memilih pergi dari hidup Hamdan, dan berniat melanjutkan hidupnya dengan status baru.


Berbeda dengan Ayenir yang sudah rela melepaskan, Hamdan justru tidak yakin bisa melepas wanita itu setelah apa yang sudah Ayenir lakukan. Rasanya sangat tidak adil jika Hamdan menikmati kejayaan seorang diri setelah semua yang telah wanita itu lakukan untuk nya.


"Nye!" Hamdan melembutkan intonasi suaranya, meraih telapak tangan istrinya yang hanya menunduk dalam. "Beri aku waktu untuk berpikir, kamu tau kan ini tidak mudah untuk ku?" Hamdan mengenggam erat tangan wanita yang telah merawatnya selama dia terpuruk. Berharap agar Ayenir mau memberi nya waktu sedikit lagi untuk berpikir.


Hamdan sadar nasehat Joya ada benarnya. Tidak seharusnya dia mengulang kesalahan yang sama, kini Ayenir istrinya, tanggung jawabnya dan juga masa depannya, dia tidak bisa mengelak itu.


Senyum di bibir Hamdan merekah saat Ayenir memberi nya anggukan kepala. Ada rasa lega yang tak disadari telah menyusup masuk kedalam hati Hamdan. Pria itu merasa lega karena kesempatan yang diberikan Ayenir.


****


Rian duduk di samping Bundanya yang masih setia memejamkan mata. Sungguh berat beban yang dia tanggung. Dirinya yang menjemput dan meringkus tersangka yang tidak lain Ayahnya sendiri, dia juga yang melarikan Bundanya kerumah sakit, dia juga yang menanggung rasa bersalah sekaligus rasa kebencian terhadap Ayahnya.


Se tegar apapun fisiknya. Memenjarakan Ayah kandungnya sendiri bukanlah hal yang mudah, Rian bahkan berperang batin untuk hal itu. Rian sendiri tidak menyangkal jika dia menyesal tidak membongkar masalah ini sejak awal, ia seperti mengenggam bom waktu yang pada akhirnya tetap meledak dan menghancurkan segalanya. Dulu ataupun sekarang ternyata bom itu tetap melukai Bundanya, dan kenyataannya memang benar seperti itu, bahkan mungkin lebih menyakitkan berkali lipat karena nyatanya kemungkaran yang diperbuat sang Ayah semakin jauh.


Rian sengaja meminta Rion pergi agar sang adik tidak melihatnya menangis. Sudah cukup Rion menerima kepahitan dalam hidup. Jika boleh jujur Rian tidak pernah menginginkan di puji-puji oleh kedua orang tuanya, Rian memang ingin menjadi juara kelas tetapi tidak untuk bersaing atau bahkan dibanding-bandingkan dengan adiknya sendiri.

__ADS_1


Rion sangat berarti untuk nya, bahkan seperti separuh jiwa, namun karena kesalahpahaman itu ketulusannya selalu diragukan oleh Rion.


Rian tidak sama sekali menyalahkan sang adik, karena jika dia menjadi Rion pasti dia akan melakukan hal yang sama.


"Bunda harus kuat ya Bun, setidaknya demi Abang" Rian tidak bisa membendung air matanya.


Tidak beda jauh dengan perasaan Rion. Hanya saja Rion jauh lebih beruntung karena kini ada tempat untuk membagi kesedihan, ada seseorang yang setia menenangkan. Sementara Rian? Pria itu harus menguatkan dirinya sendiri dan juga Bundanya yang kini terbaring lemah tak berdaya.


****


Joya memerhatikan suaminya yang tidur terlelap di sisinya. Rion mendengkur lirih, bibir lelaki itu sedikit terbuka. Joya tau sudah beberapa hari suaminya tidak tidur nyenyak karena ujian hidup yang tak henti-hentinya, kini lelakinya itu baru saja terlelap dalam.


Setelah apa yang mereka lalui, Joya berjanji akan menyemangati suaminya dan menjadi kekuatan untuk Rion selalu. Joya juga sudah bisa melupakan kelakuan Rian yang kurang sopan padanya, berpikir itu bentuk perlindungan Rian untuk nya karena tujuan Rian itu sebenarnya untuk sebatas menguji perasaan sang adik dan juga dia tentunya.


Joya menutupi tubuh polos suaminya dengan selimut, membelai lembut pipi itu sebentar sebelum ikut berbaring di samping sang suami yang begitu tenang menyelami dunia mimpi. Ingin melingkarkan tangannya di tubuh Rion tetapi malu, pada akhirnya Joya memilih memandangi wajah lelap sang suami hingga dirinya sendiripun jatuh tertidur.


###


Hai reader...


Author mau minta maaf sebelumnya, karena lama baru update, sebab kemarin ponsel author jatuh dan terinjak mobil, lcd nya pecah dan rusak. Untuk itu mohon dimaklumi...


happy reading...

__ADS_1


__ADS_2