
"Sudah bangun?" Joya tersenyum saat melihat suaminya berjalan kearah meja makan. Sementara ia masih sibuk nyiapkan sarapan.
Di rumah Joya memang tidak ada ruang kerja jadi ruangannya sedikit lebih luas dibandingkan unit yang Rion tempati. Tetapi tata letak pasti tak jauh beda, begitupun dengan letak dapur dan ruang makan. Rion tidak terlalu asing pastinya, dan dengan mudah bisa menemukan dapur berada.
Rion terlihat sangat tampan. Meskipun hanya mengunakan kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya yang sedikit basah menambah beberapa nilai plus untuk penampilannya yang terlihat sangat segar dan fresh.
Rion juga tak segan membalas senyum istrinya. Sejak awal pria ini hanya irit bicara namun wajahnya tidak jutek. Rion pria yang ramah dan sebenarnya cukup pandai bergaul.
****
Tiga bulan setelah polisi meringkus sang Ayah. Rian dan Rion pada akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan Ayahnya yang sudah dikirim di lapas pusat. Hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara karena tuntutan pasal berlapis.
Dermawan jauh berbeda, kini tidak ada lagi wajah teduhnya. Kerutan diwajahnya tampak jelas, tubuhnya kehilangan beratnya. Kulitnya keriput dan lagi tatapannya kosong.
Menurut pihak kepolisian beberapa hari terakhir keadaan Dermawan memang sempat mengkhawatirkan, mungkin Dermawan depresi akibat tekanan mental, beban pikiran bertumpuk-tumpuk, anak-anaknya langsung membencinya secara bersamaan. Ditambah Rindi yang juga langsung mengajukan gugatan cerai. Tidak ada yang memaafkan dan memberinya ampunan, yang dulu menyayangi kini berubah membenci.
Keputusan terakhir adalah membawa Dermawan ke rumah sakit jiwa untuk memulihkan kondisi mental nya. Karena kondisinya pula pengadilan mengabulkan permohonan cerai dari Rindi.
Sementara setelah turut mengantar sang Ayah ke RSJ, kini Rion ikut bertolak ke bandara untuk mengantarkan Rian dan sang Bunda untuk kembali ke Kuala lumpur. Pada akhirnya Rian memutuskan untuk meninggalkan jabatannya dan memilih melanjutkan usaha sang Ayah atas keinginan sang Bunda dan pastinya juga dukungan Rion sendiri.
Rion mengembangkan sayapnya di bisnis kuliner di temani oleh Joya. Dari kedai sederhana sampai memiliki puluhan cabang, dalam waktu kurang dari tiga bulan. Tentunya semua karena dukungan modal dan juga pemikiran jitu yang tepat sasaran.
Rindi mencium Rion yang berjongkok di depannya. Petuah bijak diberikan wanita berlesung pipi itu pada putra bungsunya.
Rion memeluk Bundanya, sebelum menjabat tangan sang Abang dan berpelukan ala lelaki.
"Aku akan sering berkunjung" Janji Rion yang membuat keduanya menganggukkan kepala.
Lambaian tangan Rian membuat Rion mau tidak mau harus segera kembali kerumah. Melepas kepergian orang-orang terkasihnya ke negeri Jiran.
****
"Cantik" Ayenir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Terasa ganjil dengan lontaran pujian yang dilayangkan Hamdan.
Waktu sebulan yang diberikan untuk Hamdan molor sampai tiga bulan, dan hingga kini belum ada kemajuan ataupun kejelasan dari hubungan mereka.
Tangan Ayenir di cekal, tubuhnya di tarik untuk di dudukan di samping Hamdan.
"Aku mau kita mulai segalanya dari awal. Aku ingin kamu lupakan rasa sakit yang dulu ku torehkan," Kata Hamdan yang begitu serius."Mari kita mulai semua dari awal, hanya ada aku dan kamu, hanya kita,"
Air mata Ayenir luruh begitu saja. Sangat bahagia ternyata jika seseorang yang kita harap, mau menerima, orang yang kita cintai, turut mencintai kita. Walau dengan perjuangan yang berat, namun hasilnya seimbang dengan usaha yang ia lakukan. La Haula wala quwwata Illa billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.
"Aku akan melakukan apa pun untuk menebus segala kesalahanku." ucap Hamdan tulus seraya mengusap air mata Ayenir.
__ADS_1
Ayenir hanya kembali mengangguk. Rasa syukur tiada henti ia panjatkan pada sang Pembolak-balik Hati Manusia.
"Ayenir?"
"Ya, Mas."
"Aku ingin menjadi imam yang baik untuk mu. Bisakah kamu mengajariku menjadi imam yang baik itu seperti apa?"
MasyaAllah.
Ayenir tertegun. Rasa syukur tiada henti ia panjatkan pada Sang pemberi Hidayah. Hari ini kebaikan terus mengiringi hati suaminya. Tentu saja tidak ada kata lain selain syukur kepada Allah atas segala Kehendaknya.
"Terimakasih sudah mau terus bertahan disisi ku," air mata Hamdan meleleh.
"Kamu tau, Mas. Kenapa Allah masih mempersatukan kita?"
Hamdan mengeleng tidak tahu.
"Karena Allah tahu, Aku adalah tulang rusuk mu. Sekeras mas menolak ku, membenciku, menganggap ku tak pernah ada, kita akan tetap dipersatukan kembali, kamu tahu kenapa? Karena Kamulah takdir ku."
Yang lalu biarlah berlalu, Hamdan dan Ayenir memilih berdamai dengan keadaan. Ternyata Jodoh mereka masih panjang.
Pepatah memang ada benarnya, usaha sejatinya tidak akan pernah mengkhianati hasil.
*****
Setelah mengantarkan Abang dan Bundanya. Sekarang disinilah Rion. Duduk di tepi ranjang seraya memperhatikan wajah istrinya lekat. Sangat teduh, membuatnya ikut merasakan ketenangan. Bagaimana dia tidak mudah jatuh cinta? Jika dengan menatapnya saja Rion merasa tentram.
Joya membuka matanya, dan tertegun melihat kehadiran suaminya yang tengah menatapnya lekat-lekat.
Rion langsung tersenyum lega. Namun Joya melihat genangan air mata disana."Izinkan aku mencintaimu, Joya?"
Joya tidak tau ingin berkata apa, terlalu bahagia karena sambutan bangun tidur yang luar biasa, seperti mimpi. Sebelum ini, ia dengan tertatih berusaha agar Rion mencintainya. Namun sekarang Rion lah yang meminta izin untuk mencintainya.
Joya memukul lengan suaminya pelan, tangannya segera meraih bantal untuk dibawa menutupi wajahnya yang pasti sudah merona.
Satu bulan pun kembali berlalu. Rion dan Joya tengah berbahagia saat mendengar kabar jikalau Rian akan segera memantapkan hatinya untuk melamar seorang gadis, sementara keadaan Bunda Rindi juga berangsur membaik, dukungan dari kedua sahabat yang tak lain adalah kedua orang tua Joya sangat besar pengaruhnya, membuat wanita yang sudah melahirkan Rian dan Rion kembali mendapatkan semangat hidup.
Setelah kabar membahagiakan itu diterima, Rion kembali melakukan aktivitas seperti biasa, mengecek usahanya sementara Joya hanya di rumah dengan berbagai rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
Sorenya Rion pulang dengan dipapah seorang karyawan nya, wajahnya pucat dengan tubuh yang basah kuyup karena keringat dingin.
Melihat keadaan Rion Joya begitu khawatir, apa lagi Rion tadi pagi tidak menunjukkan tanda-tanda sakit samasekali, membuat Joya cemas setengah mati.
__ADS_1
"Jangan khawatir" Rion meraih tangan Joya dan mengecupnya.
Joya hanya menanggapi ucapan Rion dengan cemberut, bagaimana tidak khawatir, sementara suaminya sedang lemas seperti itu.
"Coba ini" Rion menyodorkan sebuah testpack dari saku celananya.
Joya menatap benda itu cukup lama, dan tidak bisa merespon dengan cepat maksud Suaminya.
Rion tersenyum tipis, melihat tidak ada pergerakan dari Joya, mungkin istrinya itu tengah heran dengan maksudnya.
"Kata teman Mas yang seorang Dokter, bisa jadi keadaan Mas ini dikarenakan istri Mas hamil, istilahnya hamil simpatik, siapa tau benar, Sayang. Tadi Mas sempatkan mampir ke apotik untuk beli." Rion menatap Joya penuh harap.
Joya tidak mau Rion menunggu, secepat mungkin dia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
****
"Bagaimana?" tanya Rion excited.
Suara Rion membuat Joya tersadar, sekali lagi, dia menatap dua garis di testpack itu. Rasa haru perlahan menghampiri, ternyata harapan suaminya terkabul, mereka akan segera diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua.
"Sayang," Melihat istrinya yang justru menangis, membuat Rion dilanda rasa bersalah. Bahkan laki-laki itu melupakan lemas nya dan berjalan cepat menuju Istrinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Mas, kita diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua" Tangis Joya pecah di pelukan suaminya.
Rion yang mendengar kabar tak terduga itu turut menitihkan air matanya.
Rion bersyukur mendapatkan kepercayaan menjadi seorang Ayah lagi, ya, meskipun untuk saat ini jauh lebih membahagiakan karena ini murni darah dagingnya, tetapi Rion tidak pernah membenci takdir yang pernah membuatnya merasakan menjadi seorang Ayah yang sebenarnya si kecil itu adalah adik laki-lakinya.
"Terimakasih Sayang" Rion menghujani Joya dengan ciuman. Dadanya membuncah bahagia.
Akhirnya ada pelangi setelah hujan melanda.
Kebahagiaan memenuhi hati keduanya. Rion dan Joya saling berpelukan dan saling mengungkapkan syukur dengan lelehan air mata.
End
####
Terimakasih banyak ya reader yang selalu memberi semangat untuk author.
akhir kata author ucapkan sampai jumpa dan semoga reader selalu diberikan Rizki melimpah juga kesehatan ..
happy reading..
__ADS_1
"