
Hamdan merasa benar-benar hancur ketika satu hari mendapatkan dua kabar mengejutkan dan menyedihkan sekaligus, surat gugatan cerai Joya di terimanya, bersamaan dengan kabar duka dari ibunya tentang Ayenir. Hamdan pergi kerumah sakit dan juga berusaha menghubungi Joya namun istri pertamanya sepertinya sengaja menghindar, ingin menghampiri, ibunya terus saja mencegahnya, membuat Hamdan kian frustasi.
Ayenir dinyatakan keguguran. Dokter mengatakan penyebabnya adalah faktor kelelahan dan terlalu banyak beban pikiran.
Sekali lagi Hamdan di hadapkan pada pilihan sulit. Karena ternyata tidak hanya kehilangan calon anak, dokter juga memberi tahu bahwa kemungkinan Ayenir untuk mengandung kembali akan sedikit sulit.
Ya Allah... Bagaimana sekarang? Setelah penghalang untuk mempertahankan Joya sudah berkurang, kini beban Hamdan tidak serta Merta hilang. Ayenir sulit hamil dan itu paska keguguran darah dagingnya.
Tega kah Hamdan menceraikan wanita yang kurang sempurna kini. Sulit hamil bukan perkara remeh. Hamdan kian frustasi akan keadaan. Diantara segala luka hatinya, Hamdan tatap mendapat tekanan dari Rubiah. Dengan tidak berperasaan wanita itu meminta Hamdan agar menceraikan Ayenir secepatnya. Seperti halnya dulu Rubiah meminta Hamdan menceraikan Joya.
Kemanakah gerangan hati ibunya? Bukankah dia juga seorang wanita?
Beban pikiran yang dirasakan Hamdan membuat tubuhnya ikut rapuh, bagaimana tidak, penguatnya, wanita yang selama ini menjadi alasannya bekerja keras sudah menggugat cerai dirinya. Anak yang sempat membuat dirinya bersyukur karena kehadirannya meski di rahim yang bukan ia ingin kan juga sudah pergi sebelum bisa melihat cahaya, dan istri yang akan di ceraikan kini justru sedang sangat terluka karena fakta akan sulit hamil. Jika Hamdan egois tetap menceraikan Ayenir. Adakah laki-laki yang menerima wanita itu dengan tulus? Belum lagi tekanan dari ibunya yang tidak berperasaan.
...----------------...
Waktu kehancuran Hamdan akhirnya tiba. Hamdan dengan kesedihan mendalam menghadiri sidang perceraiannya.
Hamdan duduk menunggu kedatangan Joya. Joya datang setelah sekitar tiga puluh detik Hamdan mendudukkan dirinya di kursi depan.
Hamdan tercenung menatap uluran tangan wanita yang masih bertahta di hatinya.
Joya nya terlihat begitu cantik Dengan baju dress berwarna putih gading. Wanita yang kini rambutnya sudah memanjang itu tampak begitu menawan. Berbanding terbalik dengan Hamdan yang tampak menyedihkan.
"Aku turut berduka cita untuk anak kamu, Mas"
Tenggorokan Hamdan tiba-tiba tercekat, bahkan untuk sekedar menjawab ucapan bela sungkawa dari Joya saja tidak mampu.
__ADS_1
Joya terlihat seperti saat pertama kali Hamdan bertemu, gadis bermata belok dengan kulit kuning Langsat yang membuat mata Hamdan hanya berpusat kepada nya. Seperti saat ini. Mata Hamdan enggan berpaling, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menatap wajah ayu itu sepuasnya selagi di izinkan.
Hamdan ingin mendekap tubuh mungil itu dengan erat dan tanpa jarak, tapi masih bolehkah? Dan yang lebih menyakitkan dari kenyataan sebenarnya adalah 'masih pantaskah?'
Beradu dengan pikiran membuatnya tak sadar berapa lama waktu yang ia gunakan untuk menatap Joya sampai pada waktu pintu terbuka dan orang-orang masuk.
Suasana menjadi canggung sampai akhirnya senyuman itu terbit di bibir Joya. Senyuman tulus dan ceria yang perempuan itu punya.
Sidang berlangsung tanpa adanya banding, karena dari segi hukum Hamdan dan Joya memang sudah tidak layak bersama. Keduanya sering cekcok dan sudah tidak ada kecocokan. Hamdan juga lalai akan kewajibannya. Tidak mampu menjadi kepala rumah tangga yang adil.
Penggugat memiliki alasan kuat yang membuat tergugat tak bisa mengajukan banding. Hakim juga memutuskan secara resmi perceraian mereka. Dan tidak ada lagi sidang berikutnya, Ketuk palu hakim tanda mereka sudah dinyatakan resmi bercerai.
Hamdan menjabat tangan Joya sebagai ucapan selamat dan salam perpisahan.
Tidak ada yang bisa Hamdan perbuat selain mencoba menerima dengan ikhlas jalan takdir.
Hatinya terkoyak saat senyum tipis Joya terbit.
"Aku akan selalu mencintaimu" Ungkap Hamdan dengan air mata yang tumpah.
Joya tak menanggapi, Joya membuang pandangannya ke sembarang arah. Tak tega menatap lelaki yang masih di cintainya itu.
Jika mengingat segala tentang Joya Hamdan rasanya ingin memutar waktu.
Impian sang istri tidak muluk-muluk saat hidup bersamanya. Ada suami dan anak-anak yang menemaninya menua. Sesederhana itu harapan istrinya, namun sudah ia hancurkan tanpa sisa.
"Anak itu Rahasia Yang Maha kuasa. Ada yang di beri cepat, ada yang di beri lambat, ada yang malah nggak di beri sama sekali. Yang jauh lebih penting. Kalian harus selalu bersyukur, Ikhlas dan saling menyayangi" Itu nasehat yang diberikan Bunda Joya ketika anniversary pernikahan pertama mereka. Saat itu Joya terlihat menatap iri seorang wanita yang tengah bercanda ria bersama putri kecilnya.
__ADS_1
Sementara di waktu yang tak jauh beda, sederet Hinaan keluar dari bibir Ibu nya.
"Udah setahun belum juga hamil istri mu, Dan? Kamu yakin nikahi wanita subur? Atau jangan-jangan mungkin istrimu itu mandul?" Itu yang Hamdan dengar kala Rubiah menelpon meminta uang bulanan. Sementara Hamdan hanya kasih alakadarnya karena habis merayakan anniversary pernikahan pertama bersama Joya.
Harusnya, dari perkataan itu saja bisa membuat dirinya sadar. Jika sebenarnya ibunya tak menyukai Joya. Namun, karena kebodohannya Hamdan malah menuruti keinginan ibunya untuk tinggal bersama mereka, dan berlanjut ke keinginan ibunya yang lain-lain.
Kini bahtera rumah tangga yang di nahkodai nya sudah karam. Impian sederhana itu tak akan pernah terwujud. Meskipun Hamdan menangis darah sekalipun.
"Jaga diri baik-baik. Mas Hamdan juga tau seberapa besar rasa cinta yang pernah ku berikan selama ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri sempurna untuk Mas, semoga mas selalu berbahagia"
Hamdan melepas kepergian belahan jiwanya dengan air mata yang berlinang. Ia hanya manusia tak berdaya, secepat itu keputusan pengadilan mengabulkan gugatan mereka dengan begitu mudah. Pengacara Joya orang hebat. Bisa mencari bukti-bukti dengan sangat akurat.
Kini separuh jiwanya kosong. Joya nya pergi tanpa bisa ia gapai lagi.
Hamdan melangkah gontai meninggalkan gedung. Saat melewati pintu, ada wanita yang menunggunya sembari menunduk dalam.
"Mas, aku terlambat"
Hamdan menoleh saat mendengar isakan kecil dari wanita yang sekarang menjadi istri satu-satunya.
Hamdan mengedarkan pandangannya, dan sudah tidak menemukan Joya dimanapun.
Ayenir menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan kecil mulai terdengar. Dia menyesal datang terlambat dan tidak bisa menemui Joya untuk meminta pengampunan.
Padahal sedari pagi ia sudah bersiap untuk datang ke pengadilan bersama Hamdan. Tapi apa boleh dikata saat Rubiah tidak bisa memberinya keringanan. Cucian yang menumpuk harus Ayenir selesaikan sebelum pergi, padahal bisa saja ia mengerjakan setelah pulang dari pengadilan. Akan tetapi titah Rubiah tak bisa dibantah.
Hamdan yang melihat istrinya menangis tak tega. Ingin merengkuh namun tidak sanggup. Hamdan memang tak mencintai Ayenir, tetapi untuk melepaskan dia juga merasa berdosa.
__ADS_1
Akhirnya Hamdan hanya ikut memejamkan matanya. Sebelum pada akhirnya membawa Ayenir pergi dimana motornya terparkir.
Baktinya membawa kehancuran.