Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Kedatangan orang tua Joya


__ADS_3

Hamdan melangkah ke dalam rumah dengan semangat, entah mengapa perasaan lega menghinggapi kedalam kalbu, mungkin sebenarnya hati kecilnya tau jika kehadiran sang Ibu membuat kehangatan rumah tangganya terusik, namun Hamdan percaya Joya akan tetap mencintainya, ya Hamdan percaya itu.


" Assalamualaikum" ucapan salam nya tak mendapat jawaban.


Rumah memang terlihat sepi, buru-buru Hamdan melangkah ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istrinya.


Hamdan membuka pintu kamar dan melihat pemandangan yang tidak biasa, disana Joya tidur nyenyak dengan keadaan kamar gelap, membiarkan jendela kamar tertutup rapat oleh korden.


" Dek," Hamdan menghampiri sang istri yang tengah terlelap.


Joya membuka matanya, namun tetap tak bergeming.


" Kenapa tidur? bukankah Ayah dan Bunda akan datang?" tanya Hamdan, suara lembut seperti sebelumnya, sebelum kehadiran sosok yang mengubahnya menjadi tak perduli pada Joya.


Joya hanya bergumam, yang membuat Hamdan kembali bersuara.


" Rumah masih belum rapi, pasti nanti Bunda akan curiga kalau sesuatu telah terjadi di antara kita" ucap Hamdan yang mendapat sorotan tajam dari Joya.


" Siapa yang membuat kekacauan di sini? Siapa yang berbuat dia yang harus bertanggung jawab, bukan aku!"


Menyadari ucapannya sudah menyinggung perasaan sang istri Hamdan meminta maaf.


" Dek, untuk semua itu mas minta maaf, mas janji akan lebih bijak lagi"


" Terlambat!" potong Joya begitu saja.


Hamdan meneliti wajah istrinya yang kini terlihat tirus, Joya sepertinya kehilangan beberapa kilogram berat tubuhnya, dan mungkin itu karena sikap pengecutnya.


" Apa maksudnya terlambat dek', mas masih disini, Ibu sudah mas bawa pergi, apalagi sekarang?" tanyanya lembut menarik tangan istrinya yang masih setia berbaring.


Tidak taukah Hamdan, bahwa semua yang telah terjadi bukanlah suatu yang ringan, kini tidak hanya Joya tanggung jawabnya, ada wanita lain yang harus ia kasih perhatian yang sama. Sungguh, Joya tidak tau bagaimana bisa Hamdan masih menganggap semua masih sama.


Joya membuang napasnya kasar, sebelum mendudukkan dirinya.


" Mau kemana?" tanya Hamdan yang melihat Joya pergi begitu saja.

__ADS_1


" Cari makanan untuk menyambut Ayah dan Bunda!"


" Kamu tidak masak?" tanya Hamdan lagi.


Joya memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan Hamdan.


Joya POV


Ku langkahkan kaki ini keluar rumah, meninggalkan laki-laki yang dulu begitu kucintai, aku tau cintaku masih utuh untuknya, sayang kini dirinya tak seutuhnya milikku, bersaing dengan ibunya saja aku tidak mampu, apalagi kini ada wanita lain di hidupnya.


Hamdan, nama laki-laki yang dulu teramat ku cintai, dia juga begitu mencintaiku, kami bertemu di sebuah perusahaan komersial dua setengah tahun yang lalu.


Kala itu aku sedang magang di perusahaan tempatnya bekerja, perusahaan itu milik pamanku, kebetulan aku di tempatkan di bagian penjualan, pertemuan kami begitu singkat tidak sampai tiga bulan masa perkenalan, mas Hamdan melamar ku. Ayah sebenarnya kurang setuju karena saat itu aku baru mau mencari pengalaman kerja, Namun mas Hamdan dengan segala kelembutannya mampu meluluhkan hati Ayah, dua bulan setelahnya kami menikah, pernikahan sederhana karena mengingat kala itu Ibu mas Hamdan sedang sakit usus buntu dan baru saja menjalani operasi.


Lagi-lagi karena kepintaran mas Hamdan untuk melunakkan hati Ayah, meskipun Ayah memiliki ribuan teman yang akan di undang di urungkan dan hanya mengundang beberapa saja.


Awal pernikahan kami sangat membahagiakan, mas Hamdan begitu memanjakan ku, apa yang aku mau mas Hamdan pasti berikan, meski begitu aku tetap pada batasan, tidak meminta sekiranya dia tidak mampu, tentu saja.


Mas Hamdan memiliki sikap yang lembut dan pengertian, meski dia bekerja tetapi dia selalu menyempatkan waktu untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah.


Tiada yang kurang sebelum ini, aku sangat berbahagia hidup bersamanya.


Rasa cinta yang kumiliki kini sudah mati rasa, entah kemana debaran jantung yang dulu sering menggila ketika mendengar rayuannya, entah kemana desir halus yang kerap kali datang ketika mas Hamdan mencumbu rayu.


Aku justru merasa jijik berdekatan dengannya, rasa itu datang begitu saja mengingat tidak hanya aku yang memiliki raganya. Apa aku berdosa?


Aku memang bukan dari keluarga biasa, Ayahku memiliki bisnisnya sendiri di bidang properti, hanya saja beliau membangun perusahaannya di Negara sebrang.


Dari kecil aku sudah mendapatkan semuanya, dari kecil aku terbiasa di utamakan, untuk berbagi cukup sulit bagiku, terlebih ketika harus berbagi suami, jujur aku tidak bisa dan tidak mau!


Setelah mendapatkan apa yang ku mau, aku pulang.


Rumah itu sudah tidak enak untuk di pandang, meski semua masih sama, akan tetapi mas Hamdan sudah menodai kebahagiaan kami dengan dia menghisap madu bunga lain, di rumah yang sama ketika dia menghisap madu ku.


" Dek," Mas Hamdan langsung menghampiri ku, mata itu terlihat sangat khawatir, ada dua sendal asing di depan rumah apa Ayah dan Bunda sudah datang?

__ADS_1


" Ayah dan Bunda tungguin dari tadi" Ternyata benar, kedua orang tuaku sudah datang.


" Joy" begitu melangkah keruang tamu, Ayah langsung membentangkan kedua tangannya.


Aku segera masuk kedalam pelukan pria yang menjadi cinta pertamaku itu. Ingin rasanya aku menangis mengadu pada beliau, tetapi ku tahan dulu, biarlah aku menyembunyikan ini untuk sementara, sampai pada waktu yang tepat.


" Kamu kurusan" Ucap beliau begitu pelukan kami terlepas.


" Joya, diet Ayah" Ku dengar Ayah berdecak tak suka mendengar jawaban ku.


Kini aku mendekati Bunda yang melakukan hal yang sama seperti Ayah barusan.


" Dari mana?" tanya Bunda lembut.


" Dari cari ini" Aku mengangkat bawaan ku.


" Sini biar mas siapin" Mas Hamdan mengambil alih bawaan ku, hal biasa setiap kali aku dari belanja memang mas Hamdan akan menyusun belanjaan ku, tapi itu sebelum Ibu nya datang.


Sepeninggalan mas Hamdan ke dapur, aku mengamati ruangan yang sudah kembali seperti dulu, ternyata mas Hamdan benar-benar membereskan kekacauan di rumah ini.


Segala kantong plastik sudah tidak ada, bunga mawar dan anggrek bulan segar sudah menghiasi di meja dan lemari bufet ruangan minimalis ini.


Mas Hamdan memang pria yang baik sebenarnya, hanya... Hatiku berdenyut kala mengingat kini sudah tidak bisa mengharapkan dirinya seperti dulu, mungkin keputusan ku ini akan membuat kedua orang tua ku terkejut, namun terus terang aku hanya manusia biasa, tidak bisa dan tidak mau membagi suami.


Egois kah aku?


" Ayah, Bunda, ternyata Joya pergi membeli sate Padang" Suara mas Hamdan membuatku menoleh.


Pria itu menatap wajah ku dengan binar bahagia, senyum manis itu masih sama, namun sudah tidak berarti di hatiku, ternyata efek sakit hati se dahsyat ini.


Ku lihat mas Hamdan menatapku semakin lekat, ada binar kecewa di matanya.


'Maaf mas, aku memang sudah tidak bisa menjadi Joya yang dulu'


#####

__ADS_1


Mohon untuk memberi jejak cinta untuk author, setidaknya like untuk setiap bab.


Happy reading...


__ADS_2