
Apa yang di takutkan oleh Ayenir benar-benar terjadi. Rubiah kembali menyetir Hamdan dengan alasan sakit.
Kini dengan tidak berperasaan, Rubiah meminta Hamdan untuk menceraikan Ayenir. Ayenir yang tadinya sudah hampir pergi namun di tahan oleh Hamdan seketika gondok.
Jika sampai Hamdan berani menuruti keinginan Rubiah lagi, Ayenir tidak akan pernah memaafkan Hamdan.
"Ibu, tapikan Ayenir wanita pilihan Ibu"
Wajah wanita itu merenggut. " Itu dulu Hamdan. Saat dia memiliki harapan untuk memberi cucu untuk Ibu, sekarang dia sulit hamil, jika kamu tetap mempertahankan dia Ibu tidak akan memiliki cucu, Ibu sudah tua Hamdan. Ingin sekali rasanya mengendong darah daging mu" Lelehan air mata seolah adalah senjata andalan ibunya.
Hamdan melihat kearah Ayenir yang juga tengah menatapnya. Tidak ada lagi tatapan sendu. Ayenir menatapnya seolah berkata. 'Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku sama sekali tidak perduli'
***
Joya menatap anak kecil di hadapannya. Saat ini Joya tengah berada di Bandara. Barusan ia ikut mengantar bersama kedua orang tuanya mengiringi kepergian Rion untuk berobat.
Belum genap lima menit yang lalu Rion dan kedua orang tua pria itu masuk ke dalam bandara, tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil datang menangis dan memangil-manggil nama Ayahnya.
Terlihat lucu sekali ketika anak itu terus menyalahkan sopir Opanya. Karena terlambat mengantarkan dua ke sini.
Melihat tangis anak kecil itu yang tak kunjung mereda, akhirnya Joya berjongkok di hadapannya.
"Ayah, akan segera kembali. Cup, cup, cup. Sudah ya nangisnya!" Hibur Joya dengan tatapan iba.
Anak itu tidak perduli sekitar, dia tetap menangis memangil-manggil nama Rion.
Joya sendiri yang tak biasa berinteraksi dengan anak kecil sedikit kesulitan untuk membujuk. Bingung mau berucap apa. Karena Joya belum pernah mengalami hal serupa.
Siufaslin langsung menggantikan Joya untuk menghibur putra Rion, tak butuh waktu lama tangis anak itu berhenti. Membuat Joya kagum sama Bundanya.
"Jangan takut menyentuh, jika memang kamu mengenal. Anak kecil tidak hanya butuh kata-kata mereka juga butuh sentuhan lembut agar mereka dapat merasa nyaman!" Joya meringis mendengar nasehat Bundanya. Terlalu awan bagi Joya tentang menyikapi anak kecil.
__ADS_1
"Belajar mengurus anak, biar nanti jika dikasih rejeki tidak kaget"
Bibir Joya mengerucut mendengar ucapan Ayahnya.
Dikasih apaan, kalau kini bahkan dia sudah nggak punya suami. Eh?
Joya bingung, pasalnya ternyata hari itu juga kedua orang tuanya akan kembali ke KL. Sementara dirinya di beri tanggung jawab untuk mengantar anak Rion pulang.
"Ini bagaimana ceritanya sih, Bun?" Joya kelihatan sedikit keberatan untuk memulangkan Jio, pasalnya anak itu tidak mau dekat dengannya.
Sebenarnya dari kedua belah pihak keluarga menginginkan Joya bisa menikah dengan salah satu putra keluarga Oktadio. Bahkan kedua orang tua Joya sudah menceritakan tentang kegagalan rumah tangga Joya. Panji sudah lama bersahabat dengan Ayah dari Rian dan Rion. Tetapi keinginan untuk menjodohkan anak-anak mereka baru muncul kini, setelah mereka di pertemukan kembali.
Joya menatap dengan bingung bocah laki-laki di kamarnya. Jio masih terlelap, setelah mengkonfirmasi dengan Rian, ternyata pria itu yang akan menjemput keponakannya, Rian tidak ingin Joya kerepotan dengan mengantarkan Jio ke rumah orang tuanya.
Joya tidak keberatan untuk sekedar mengantarkan. Tapi Jio tak suka padanya, mungkin karena Joya hanya orang asing. Joya merasa canggung, dan Jio merasa tidak nyaman, bukankah itu situasi yang tidak enak?
Jam lima sore Rian benar-benar menjemput Jio, pria itu masih dengan stelan kerjanya. Joya membuatkannya minum dan mereka sedang duduk di teras rumah.
Lelaki itu tentu saja mengerti, mantan pengacara Joya itu tersenyum tipis melihat Joya yang tampak serba salah.
Mereka hanya bicara perihal pekerjaan, obrolan yang sedikit lebih canggung dari sebelumnya.
Rian juga mengatakan ingin menyusul keluarganya dua hari lagi, Joya hanya menanggapi dengan senyuman, tetapi tidak lama karena ternyata ada perkataan Rian yang membuat Joya terperangah.
Menitipkan Jio pada Joya.
What?????
Bukankah mereka hanya sekedar kenal, tapi mengapa sampai seperti ini?
Joya baru saja akan menolak, tetapi ucapan Rian setelahnya malah membuat Joya terdiam.
__ADS_1
"Jio yang mau tinggal sama kamu sementara, dia takut tinggal sama susternya, ini sudah kami bahas bersama kedua orang tua kamu, dan ini untuk pertama kalinya juga Jio tidak takut dengan seseorang"
Bukan. Bukan masalah sudah dibahas bersama keluarga nya ataupun belum. Tetapi lebih ke kata Jio sendiri yang mau. Sungguh? Bahkan pria kecil itu begitu enggan berdekatan dengan Joya.
Joya melihat Rian terseyum.
"Jangankan kamu! Kami yang keluarganya saja bingung Joy, Jio memang se misterius itu, sama seperti ayahnya. Adik ku juga sosok yang susah di tebak, bahkan aku yang Kaka kandungnya saja tidak pernah bisa memahaminya"
...****************...
Keesokan harinya, Joya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan saat seseorang menyapanya, orang itu tak lain adalah mantan Madu nya, Ayenir.
Wanita itu terlihat lusuh dengan beberapa belanjaan di tangannya, pemandangan yang dulu menjadi rutinitas Joya saat masih berstatus sebagai istri dari Hamdan.
"Joya." Joya baru saja akan membuka bibirnya, tetapi satu suara yang memanggilnya membuat pusat perhatiannya teralihkan.
Disana, Joya menatap Hamdan yang sedang menuntun Ibunya, mengandeng tangan Rubiah dengan begitu erat seolah melindungi dari siapapun.
Tatapan wanita itu tak berubah, tetap dengan pandangan ketidak sukaan.
Tangan Joya di genggam oleh Ayenir. Wanita yang menjadi istri Hamdan itu terlihat lelah dengan bawaannya, sementara Hamdan hanya terlihat menjaga sang Ibu, sedangkan Rubiah terlihat lemah fisik, namun tidak dengan mata tajamnya.
'Sakit kah mantan ibu mertuanya itu?' pikir Joya.
"Mba Joya apa kabar?" Suara Ayenir terdengar lirih. Pandangan wanita itu juga terlihat tulus menanyakan kabar Joya.
"Baik. Sangat baik, jauh lebih baik ketimbang masih terjebak dalam pernikahan dengan suami yang lemah seperti Hamdan" Ingin sekali Joya berkata demikian, akan tetapi hatinya tak sejahat itu. Maka jawaban Joya yang keluar dari bibirnya adalah "Baik" hanya itu dengan senyum tersungging.
Genggaman tangan Ayenir menguat di tangan Joya, wanita itu seolah sedang gelisah mendengar Jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Joya juga tak berbasa-basi menanyakan sebaliknya. Joya tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga mantan suaminya. Yang terpenting kini mereka bukan lagi musuh ataupun lawan bersaing, Ayenir sudah memiliki Hamdan seutuhnya, Joya mengaku kalah dengan itu. Tetapi bukan berarti Joya mengharapkan agar Ayenir mengalami nasib yang sama dengannya. Melihat mereka jalan bertiga seperti ini membuat Joya yakin rumah tangga Hamdan dengan Ayenir lebih beruntung dari pada rumah tangganya dulu.
__ADS_1
Namun benarkah???