Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Terbuka.


__ADS_3

Joya yang kembali duduk di tempat semula tidak berhenti meremas tangannya. Joya tidak tau harus berbuat apa, ikut masuk merasa asing, dia juga sadar diri bahwa antara dia dan Rion tidak ada ikatan apapun, bahkan status teman saja Joya masih ragu.


Tidak lama kemudian Rion keluar dari ruangan Jio, Joya tidak melihat jejak kesedihan di wajah itu. Rion pandai menyembunyikan perasaannya. Padahal, Joya tau di dalam ruangan Jio berbaring, Rion menangis, terlihat dari bahu pria itu yang terguncang.


Rion berdehem, kemudian pria itu mendekat kearah Joya, tak lupa senyum kecil menghiasi bibirnya yang membuat Joya takjub.


Sekuat itukah Rion?


"Sudah malam, biar ku antar pulang" Rion mengutarakan keinginannya untuk mengantarkan pulang Joya.


Joya mengeleng. Joya bisa pulang sendiri, lagian mana mungkin Joya membiarkan Rion meninggalkan Jio, anak itu membutuhkan kehadiran Ayahnya. Meskipun kini di benak Joya ikut mempertahankan apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan Rion dan keluarganya.


Dan Joya juga ikut mempertanyakan siapa Ayah Jio jika Rion tadi sempat terdengar mempertanyakan statusnya.


Tiba-tiba ucapan Rian yang tak sengaja didengar oleh Joya mengusik hatinya.


Oh Tuhan!!!!


Jika itu benar, bagaimana mungkin ada orang tua dan Kaka yang tega mengorbankan anak usia sembilan belas tahun mempertanggung jawabkan hal yang bahkan tidak pemuda itu lakukan.


Joya membuang pikiran buruknya jauh-jauh tidak ada hak dia untuk ikut campur, perlahan Joya ikut menatap Rion yang masih menunggunya di jarak yang tak terlampau jauh.


"Ayo!" Ajak Rion lagi, yang pada akhirnya membuat Joya berdiri.


Bukan untuk setuju diantarkan, tetapi Joya menarik pergelangan tangan Rion.


"Aku pulang sendiri saja" Timpal Joya yang membawa Rion duduk.


"Tidak. Kamu datang bersamaku, jadi aku harus bertanggung jawab untuk mengantar mu"


"Aku bisa naik taksi, kamu tenang saja" Baru saja Rion akan mendebat, tiba-tiba Dokter dan sister berlarian ke ruang Jio.

__ADS_1


"Ada Apa?" Pertanyaan Joya tidak mendapatkan jawaban, karena saat itu juga Rion meleset ikut masuk kedalam kamar rawat Jio.


Joya urung pulang, wanita itu akhirnya memberanikan diri mengintip di pintu kaca yang tertutup kain berwarna biru.


Tidak lama berselang, Jio di dorong keluar ruangan, dengan Dokter dan suster beriringan, tidak lama Rion ikut keluar ruangan dan Jio di dorong keruang ICU.


Jantung Joya berdebar hebat saat melihat pria yang baru beberapa menit yang lalu tersenyum manis kini berlinang air mata.


Ya, Joya melihat dengan mata kepalanya sendiri Rion se-segukan.


Pria itu tampak kacau dan lelah, hati Joya tergerak, wanita itu membawa Rion jalan bersamanya.


Lama duduk dan saling diam, akhirnya Rion bercerita.


Jio adalah anak yang istimewa, sejak lahir dia memang terlalu kecil, Rion pikir tumbuh kembangnya lambat karena dia lahir prematur, tetapi ternyata dugaan Rion salah. Sejak usia Jio menginjak dua tahun, Jio dinyatakan memiliki gangguan perkembangan, tidak terlalu kentara tapi Jio memang lambat dalam banyak hal, berjalan, bicara, bahkan tumbuh giginya begitu lambat.


Jio mulai memiliki keanehan, sakit kepala sampai menangis-nangis, mimisan tiba-tiba, sampai pada akhirnya Jio pernah ditemukan pingsan tak sadarkan diri di usianya yang menginjak empat tahun.


Dokter sendiri belum bisa mengidentifikasi jenis penyakitnya, gejalanya seperti leukimia tapi bukan.


Jio sudah dibawa Rion berobat kemana-mana, tetapi hasilnya sama. Setiap harinya tulang Jio mengalami pengapuran. Membuat daya tahan tubuhnya setiap hari semakin lemah, bahkan saat ini anak usia lima tahun itu sekedar duduk saja tidak bisa, itu sebabnya Rion menyembunyikan kebenaran mereka dari keluarganya.


Sejak Jio berusia dua tahun jugalah Rion mengetahui bahwa dia bukanlah Ayah kandung anak itu.


Dari sana. Perlahan Rion mulai menjauh dari keluarganya, tidak ada alasan bagi Rion tetap tinggal bersama Rian dan kedua orang tuanya, Rion membeli satu unit perumahan, beralasan ingin mandiri sambil mencari Ibu yang cocok untuk Jio. Itu hanya sebuah alasan saja, karena jika tetap tinggal bersama kedua orang tuanya dia hanya akan semakin sakit hati. Penyakit Jio juga masih Rion Rahasiakan hingga kini.


Pernah seharian Rion memikirkan kebenaran siapa yang mencuranginya disini, tetapi Rion tidak berani memikirkan terlalu jauh. Rion takut akan membenci keluarganya sendiri.


Kejadian itu hampir enam tahun berlalu, jika di ingat-ingat, kala itu dia memang baru lulus SMA, tetapi Rian sudah mulai merintis bisnis sebagai pengacara. Ya, karena kecerdasannya Rian memang lulus lebih cepat, sejak awal dia memang siswa berprestasi.


Dan jika di ingat lagi, saat itu juga bertepatan dengan Ayahnya yang baru saja dilantik menjadi pemimpin perusahaan.

__ADS_1


Tentu saja jika seandainya kesalahan itu terjadi pada Rian, kemungkinan akan berdampak dengan karir dan jabatan mereka, mengingat mereka sudah dikenal publik. Sementara jika Rion yang melakukan kesalahan, dampaknya tidak terlalu mempengaruhi karir karena dia hanya seorang pelajar.


Tetapi bagaimana dengan mentalnya?


Jika benar dia hanya tumbal, apa mereka tidak memikirkan dampaknya terhadap kejiwaan Rion.


Masa remajanya terenggut, kebebasannya terbatasi, sepanjang hari merasa bersalah, selalu berusaha mengingat kejahatan yang sebenarnya tidak dia perbuat. Tidak kah mereka terlalu kejam?


Joya mengedipkan matanya, begitu Rion selesai bercerita. Kenapa dia ikut sakit hati mendengar cerita Rion?


Tiba-tiba Rion terkekeh.


"Kenapa aku jadi curhat" tuturnya menatap Joya yang kini melihatnya prihatin.


"Kamu hebat" Entah kenapa hanya kata itu yang bisa Joya ucapkan untuk menggambarkan segala rasa yang di sanjung kan terhadap pria dihadapannya.


Rion tidak menyahuti, tetapi pria itu tersenyum tipis sembari membuang wajahnya, tampak pria itu malu, ah sungguh manis.


Gilaaaaaaa


Dada Joya tiba-tiba berdesir kala mengingat lamaran yang pernah pria itu tawarkan padanya, lamaran konyol yang tak bisa Joya lupakan, berbeda dengan lamaran Rian yang romantis tetapi malah Joya lupakan begitu saja.


Di rumah sakit yang sama, seorang pria sedang berbaring lemah tak bertenaga.


Dia adalah Hamdan, pria itu sudah dua hari dirawat di rumah sakit karena gejala tipes. Ayenir setia menemaninya, meskipun sebenarnya wanita itu sudah ingin melangkah pergi menjauh dari Hamdan tetapi melihat keadaan Hamdan dia tidak tega.


Mata Hamdan senantiasa terpejam, tetapi bibirnya tak berhenti memanggil nama Joya.


Rubiah sudah di ringkus polisi, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Hamdan sakit sebenarnya juga karena terlalu banyak beban pikiran, tentang ibunya, tentang kebenaran siapa dirinya, orang tuanya dan penyesalan mendalam nya karena kehilangan Joya.

__ADS_1


Sakit hati, kecewa, sedih, merasa bodoh, membuat Hamdan semakin terpuruk, lupa makan, kurang istirahat membuatnya jatuh sakit seperti ini.


Suami istri yang membongkar segala kejahatan Rubiah sudah kembali ke kota mereka, memberikan sebuah rumah, mobil beserta uang satu milyar rupiah untuk Hamdan, hal yang ingin sepasang suami istri itu lakukan sejak lama.


__ADS_2