Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Keadaan


__ADS_3

Joya mengirim pesan kepada Rion jika dia hari ini tidak bisa datang kerumah sakit, karena niatnya Joya akan membicarakan tentang bagaimana dia mengambil keputusan untuk menjadi Ibu sambung untuk Jio kepada kedua orang tuanya.


Joya tidak mau mengulur waktu, semakin hari keadaan Jio semakin parah, melihat bagaimana Rion berjuang hati Joya terasa semakin mantap untuk mendampingi lelaki itu.


Bahkan selama ini Joya tidak pernah melihat pria itu mengeluh, meskipun pada kenyataannya Rion sibuk bekerja sambil menjaga Jio setiap harinya. Bahkan Joya sendiri dibuat bingung dengan peran keluarga lainnya.


Benar-benar hanya Rion yang berjuang dimatanya.


Sibuk memikirkan tentang rencananya, Joya terkejut saat tiba-tiba Rian menarik pinggangnya, memutarnya hingga kini mereka menjadi saling berhadapan.


Senyum yang tersungging di bibir Rian entah mengapa membuat Joya tidak nyaman. Apalagi saat telapak tangan pria itu berada di bagian belakang kepalanya, Joya seakan merasa ketegangan menyelimuti hatinya. Akhirnya, semua ketegangan itu mengalami tingkat intensitas ketika Rian mendaratkan ciuman di bibirnya dan semakin menekan pinggangnya agar memberikan ciuman yang lama dan tentu saja panas.


Sontak saja hal itu membuat Joya terkejut, dengan kecepatan cahaya Joya langsung mendorong tubuh Rian sekuat mungkin, yang membuat punggung pria itu terbentur pintu mobil bagian dalam cukup kuat.


Dada Joya bergemuruh. Dia sudah mendapatkan pelecehan dari pria yang sempat ia kagumi. Tanpa menunggu waktu Joya langsung membuka pintu mobil Rian dan buru-buru keluar dan berlari menjauh.


Di rumah sakit. Rion sedang berbahagia karena akhirnya Jio bisa kembali membuka matanya.


"Ayah, Bunda Joya sering menjenguk Jio?" tanya Jio lemah.


Rion mengangguk dan tersenyum manis, tangannya menggenggam tangan kecil yang masih terdapat infus darah.


"Terus kenapa saat Jio bangun Bunda tidak ada?" Mata Jio terlihat redup, bibirnya juga tampak pecah-pecah.


"Tante Joya masih sibuk, besok kalau nggak sibuk pasti kesini, jenguk Jio" ucap Rion sambil terus menggenggam tangan kecil Jio.


"Apa Jio besok masih punya waktu, Ayah?" mata kecil itu menatap sosok Rion dan bertanya dengan tatapan sendu.


Rion menarik napasnya perlahan dan menarik kursinya lebih mendekat dengan Jio. "Harus semangat ya, hari ini Jio baik-baik saja, yakin besok tetap akan baik-baik saja!"

__ADS_1


Jio berubah murung, bibir kecilnya berkedut, sebelum berujar lirih yang membuat jantung Rion bagaikan diremas kuat.


"Jio mau cepat mati. Supaya tidak membuat Ayah repot terus"


"Kenapa Jio ngomong begitu? Jio sudah nggak sayang sama Ayah?" tutur Rion langsung merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Hatinya seperti teriris mendengar penuturan putranya yang baru berusia lima tahun setengah. Se-lelah itukah Jio?


Joya yang baru masuk ke ruangan Jio, mengerjakan matanya berkali-kali. Ia langsung menghapus air matanya. Dia benar-benar tidak tahan melihat keadaan Jio dan tidak tau cara berpura-pura bahagia dalam keadaan seperti ini. Bagaimana menghibur Rion? Jika perasaannya saja ngak karu-karuan melihat kondisi Jio yang sudah sangat mengkhawatirkan.


Joya makin merasa sedih saat melihat Rion segera menghapus air matanya saat menyadari kedatangannya. Ia tau bagaimana perasaan Rion. Ia yang bukan apa-apa untuk Jio, ikut merasa sedih dan sesak. Perasaan Rion pasti jauh lebih buruk dari perasaannya.


"Hai, Jio ..." sapa Joya langsung menghampiri Jio yang terbaring lemah, senyum lebar dan pelukan hangat Joya berikan untuk anak kecil yang tak pernah merasakan dekapan pelukan seorang Ibu.


"Bunda ..." Suara lirih itu menyahut dengan senyum yang sangat menawan. Yang membuat siapapun terpesona, hanya saja Joya tidak dapat menampik perasaan aneh kerap kali melihat senyuman Jio. Senyuman itu persis dengan senyuman pria yang sudah membuatnya geram beberapa saat yang lalu.


"Jio ingin sesuatu?" tanya Joya sambil mengelus sayang pipi Jio yang semakin tirus.


Jio segera mengangguk antusias. "Bisa tolong lepaskan semua ini Bunda? Jio susah gerak, sakit dan nggak enak"


Baik Rion dan Joya sibuk memberi pengertian pada Jio tentang fungsi alat-alat yang ada di bagian tubuhnya, mereka sudah seperti pasangan suami istri yang sedang membujuk putra mereka yang lagi rewel.


"Jio harus sembuh ya, karena jika Jio sembuh Bunda setuju untuk menjadi Bunda Jio beneran!" bujuk Joya berbisik di telinga Jio.


Jio berubah tenang, giliran Rion yang di hampiri rasa gelisah.


"Beneran, Ayah?" Jio mengalihkan pandangannya dan mencari kebenaran pada Ayahnya.


Rion sempat melihat kearah Joya sebentar sebelum bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


"Ya, makanya Jio harus sembuh ya!" kata Rion pada akhirnya.

__ADS_1


****


Joya mematikan ponselnya saat Rian tak berhenti menghubunginya. Tadi setelah keluar dari mobil Rian, Joya langsung berlari menjauhi mobil Rian, niatnya ingin menemui orang tuanya di batalkan, Joya memilih menaiki taksi untuk menemui Rion di rumah sakit.


Kondisi Jio jika dilihat dari kasat mata memang masih stabil, tetapi kemungkinan besar untuk bertahan Dokter tidak bisa memastikan. Bahkan untuk sekedar mengangkat kaki saja Jio sudah tidak mampu.


Saat ini Joya sedang duduk berhadapan dengan Rion. Membicarakan tentang apa yang mereka rencanakan.


Rion memang tidak menolak ajakan menikah dari Joya, terapi Rion terus terang mengatakan belum mencintai Joya, Joya tidak mempermasalahkan hal itu.


Meskipun rasanya agak aneh jika di realisasikan, namun Joya merasa seperti ada dorongan tak kasat mata yang terus menyemangati dirinya untuk yakin.


Menikah tanpa cinta belum tentu menuai kegagalan, nyatanya dia dan Hamdan yang menikah atas dasar cinta saja berakhir dengan perceraian.


"Bagaimana dengan Bang Rian?" tanya Rion dengan tatapan yang serius.


Joya yang mendengar nama pria itu disebut menjadi kesal sendiri. Rion yang menyadari perubahan wajah Joya menaikkan sebelah alisnya. Rion memang tidak tau sebrengsek apa Abang nya di luar sana, tetapi melihat kekesalan di raut wajah Joya, dia merasa Rian sudah melakukan hal yang tidak disukai oleh Joya.


****


"Biar aku bantu!" Tangan Ayenir langsung menyambar makanan yang di siapkan rumah sakit untuk Hamdan.


"Nye!" Panggil Hamdan sambil menatap wajah istrinya.


"Ada apa, mas?" tanya Ayenir sambil ikut membalas tatapan Hamdan.


"Kamu nggak capek kayak gini? di luar sana masih banyak pria yang bisa memberimu cinta, aku sudah sering nyakitin kamu, kenapa kamu masih baik sama aku?"


"Karena sejak awal aku sudah mencintai mu. Aku pernah berpikir berkali-kaki untuk pergi darimu dan mencari pria lain yang jauh lebih baik. Tetapi takdir seolah mengikat hatiku untuk mu, meskipun kamu jahat sama aku dan suka marah-marah, tetapi aku tetap nggak bisa benci sama kamu,"

__ADS_1


Hamdan tersenyum sambil menelaah hatinya. Ayenir sudah sangat banyak membantunya, berkat Ayenir juga lah Hamdan mengetahui kebenaran tentang Rubiah. Wanita itu sudah banyak terluka karenanya, meski hati nya belum mencintai Ayenir, haruskah dia meninggalkan wanita yang sudah berperan banyak untuk hidupnya?


__ADS_2