Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Mengeluh


__ADS_3

Selama ada Ayah dan Bunda aku berusaha bersikap wajar pada mas Hamdan, ku diamkan dia bukan karena aku tidak sopan tetapi aku takut mulutku bukannya bertanya lembut malah terjadi perdebatan nantinya, karena sungguh pikiranku berkecamuk. Ada badai yang meluluhlantakkan kehormatan yang selalu ku bangun untuk mas Hamdan.


Hanya gejolak emosi yang kini memenuhi jiwa, emosi ketika dia masih bersikap seolah semua masih sama, emosi ketika dia seperti begitu perduli padaku yang nyatanya itu hanya kepalsuan, kenyataan semua sudah terbagi kini.


Mas Hamdan terlihat kikuk di hadapan kedua orang tuaku, Ayah kurasa juga mulai curiga, sungguh aku bukan sosok wanita yang bisa bersandiwara, ketika aku disakiti aku tidak bisa seolah baik-baik saja.


Author POV


Joya jengah menatap suaminya yang tidak berhenti mondar-mandir.


" Mas, tolonglah, aku ingin istirahat" pinta Joya pada Hamdan yang teramat sangat menganggu ketentraman suasana hatinya.


Lagian untuk apa Hamdan mondar-mandir seperti itu?


Hamdan mendekati Joya dan terseyum hangat, tidak lupa memohon maaf atas tingkah polah nya yang menganggu sang istri.


Baru saja Joya akan memejamkan matanya, suara ponsel Hamdan berdering dan tidak cuma sekali namun berkali-kali.


" Mas Hamdan aku benar-benar ingin tidur" Joya berharap suaminya peka dan segera mengangkat pangilan di ponselnya atau segera mematikan ponselnya jika tidak berniat mengangkatnya, tidak perlu melihat, tapi Joya tau sang Ibu mertua lah yang sedang menghubungi suaminya.


" Maaf" ucap Hamdan yang kian membuat Joya lelah. Itulah keahlian laki-laki, janji dan meminta maaf. Namun, ucapannya tidak bisa dipegang. Pandai bersilat lidah.


Joya yang jengah karena Hamdan tak kunjung mengangkat pangilan teleponnya, ingin keluar kamar, namun, Hamdan menarik tangannya.


" Tetap disini, mas akan angkat" Ucapnya.


Hamdan melihat ke layar ponselnya yang kembali menyala, kali ini langsung menggeser warna hijau itu ke atas.


" Assalamualaikum"


" Dan, Ibu ngak betah disini, jauh dari mana-mana, kasian juga Ayenir, harusnya saat ini kamu kan ada sama dia, bukan temani istri mu yang tak tau diri itu" Begitu Hamdan mengangkat teleponnya, suara ibunya langsung terdengar, tidak ada basa-basi menjawab salam, langsung dengan keluhan dan hinaan yang di tujukan kepada Joya.


Joya hanya mampu menghela napas, harusnya dari sini Hamdan paham, kesalahan bukan terletak pada Joya, tapi sudah jelas ibunya yang tidak menyukai Joya.


Joya terseyum kecut, Ibu Hamdan mengingatkan keadilan pada Hamdan, sedangkan dirinya tak faham sebenarnya dia sudah tak adil pada Joya.


Malas mendengar perbincangan antara suaminya dan Ibu mertuanya, Joya memilih keluar dari kamar.


Tidak sampai lima belas menit, Hamdan terlihat buru-buru menyusulnya, Hamdan sudah siap dengan stelan baju jalan.


" Dek, mas mau jemput Ibu dulu, beliau minta di sewakan penginapan" bisik Hamdan, takut kedua mertuanya dengar.

__ADS_1


" Kemana, Dan." Namun belum sempat mendengar jawaban dari Joya, Ayah Joya bertanya lebih dulu.


" Anu, Yah, Hamdan ingin membeli sesuatu" Ucap Hamdan gugup.


" Sama Joy?" Tanya sang Ayah mertua.


" Tidak, Yah, Joya lagi ngak ingin kemana-mana" Balas Joya cepat.


Mata Panji menyipit, sebagai seorang Ayah, Panji mencium ada yang tidak beres dengan hubungan antara anak dan menantunya, meskipun mereka terlihat akur, Panji melihat ada peperangan dingin diantara keduanya.


Panji melirik sang istri dan mereka keluar begitu saja.


Sementara Hamdan, kikuk dan merasa serba salah, ia tak mampu mengembalikan keceriaan Joya, pasti kini kedua mertuanya merasa curiga dengan hubungan mereka, Hamdan lebih pusing lagi memikirkan sang Ibu yang terus mengeluh.


" Mas pergi" ucap Hamdan, sebelum itu Hamdan ingin bicara pada Joya namun urung.


" Pakai saja, aku tidak apa-apa" ternyata Joya paham kegelisahan Hamdan terkait masalah uang, menyewa penginapan tentu butuh uang kan?


Sungguh Hamdan mensyukuri kepekaan sang istri, namun ia juga sadar Joya sudah tak sehangat dulu, mungkin penyesalannya tidak mengubah perasa Joya yang terlanjur sakit hati.


***


Hamdan menatap wajah sang Ibu yang terlihat bahagia, sungguh. Sebenarnya Hamdan ikut bahagia melihat binar bahagia di wajah tua ibunya, hanya saja kebahagiaan itu mengapa harus melukai perasaan istri tercintanya.


" Ini sudah Hamdan sewa selama tiga hari Bu" tutur Hamdan.


" Kamu ngak kasih uang untuk Ayenir?" tanya ibunya.


" Hamdan kan belum gajian Bu" terang Hamdan.


" Tapikan istri mu juga butuh jajan, jangan cuma yang tua aja yang di urusin, lagian istri tuamu kayaknya mandul makanya sampe sekarang ngak hamil-hamil" cecar Rubiah tak pernah bosan menyangkut pautkan apapun dengan Joya.


" Astagfirullah, Bu, ngak boleh gitu Bu, biar bagaimanapun Joya adalah istri pilihan Hamdan" ucap Hamdan merasa Ibunya sudah keterlaluan.


" Iya, dan kamu sadarkan kalau salah pilih?"


" Tidak, Hamdan tidak salah pilih" bantah Hamdan.


Rubiah mencibir ucapan putranya.


" Kamu bermalam di sini saja, ini waktu Ayenir!" tegas sang Ibu.

__ADS_1


" Maaf Bu, tapi saat ini aku tidak bisa meninggalkan Joya, karena ada kedua mertua ku"


Hamdan keluar dari rumah itu, namun baru beberapa langkah Ayenir mengejarnya.


Istri muda Hamdan itu terlihat merengek. Hamdan bukannya tidak bisa menolak atau melarang perbuatan Ayenir kepadanya. Tetapi mana berani, sementara ada Ibu nya yang sedari tadi menatapnya.


Rubiah yang menatap mereka dari jendela terseyum bahagia.


Sementara di kediaman Joya, Joya sedang terlelap, namun tidak dengan kedua orang tuanya.


" Ini masalah keluarga mereka, Pa, yang terpenting Hamdan masih mencintai Joya" Ucap Siufaslin demi menenangkan sang suami yang mencak-mencak mengetahui kebenaran apa yang terjadi di keluarga putrinya.


" Cinta aja nggak cukup, Ma. Tetap harus ada dukungan dari dua keluarga. Tetap aja nggak bisa seperti itu kan, Ma.?" ujar Panji menggebu-gebu.


" Pernikahan mereka seperti boom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan itu akan sangat fatal" Panji tidak mau putri nya mengalami tekanan dari keluarga Hamdan.


" Joya, pasti memiliki alasan, untuk tetap diam" ucap Siufaslin lagi.


" Putri kita tertekan Ma!" seru Panji. " Sampai kapan kita harus sabar. Sampai kapan kita harus mengalah? Mama tau kan, ini sudah menyangkut harga diri keluarga kita. Ya Allah, Papa nggak rela Joy di perlakukan begini, Ma"


Siufaslin mengusap air matanya, ia sendiri juga tidak rela, bagaimanapun dirinya seorang Ibu, mana rela putri satu-satunya di sia-siakan seperti ini.


Memang rumah ini di beri kamera pengawas oleh Panji, entah mengapa dulu tiba-tiba saja ingin memasangnya secara diam-diam untuk rumah sederhana yang di berikan pada putrinya, mungkin niatnya untuk mengawasi sang putri yang berusaha hidup sederhana, namun apalah daya bisnisnya di Malaysia berkembang pesat hingga membuat mereka menetap di sana.


Akhirnya Panji merangkul istrinya. Berusaha menenangkan wanitanya yang sedih, mengetahui putri semata wayangnya yang di perlakukan begini oleh menantunya.


" Joy, butuh waktu untuk menggugat cerai mas Hamdan, Yah, Bun!" tiba-tiba Joya berdiri di antara mereka.


" Ayah yang akan mengurus segalanya" sanggah Panji.


Joya mengeleng.


" Beri Joy kepercayaan, Joy akan menyelesaikan masalah Joy sendiri, Ayah tidak perlu khawatir."


" Apa kamu masih mencintai Hamdan?" tanya sang Bunda.


" Joy..


####


Beri dukungan untuk author biar semangat update ya...

__ADS_1


__ADS_2