
Sudah satu bulan berlalu. Hingga kini Hamdan masih mempertahankan kedua istrinya tetap bersamanya, bahkan mereka tinggal satu atap.
Bukan tidak ingin membawa Ayenir dan ibunya pergi, akan tetapi Hamdan benar-benar tidak memiliki uang lebih untuk sekedar mencari kontrakan.
Joya juga terlihat acuh dengan semua itu, Handan pikir Joya mulai menerima keadaan dan mau berdamai dengan Ibu dan madunya.
Tetapi sebenarnya Hamdan merasakan perubahan sikap Joya yang tak sehangat dulu, Joya yang tak seceria dulu bahkan Hamdan jarang menemukan Joya berada di lain tempat rumah mereka selain di kamar.
Hamdan pulang kerja sekitar jam lima sore, dan baru sampai di rumah pukul enam sore. Ia turun dari mobil dengan raut wajah gembira. Namun, ekspresinya berubah dalam sekejap mata ketika di ambang rumah, ia menyaksikan Joya berbagi tawa dengan seorang pria.
Hamdan tak mengenali laki-laki itu.
" Jadi, sampai pesan dari Bangkok waktu itu!" suara Joya terdengar sangat jelas
" Waaah! pantasan, kirain dari lokal"
Suara tawa lepas Joya membuat kaki Hamdan terpaku. Anak semata wayang Rubiah itu mengamati interaksi sang istri dan laki-laki asing itu dengan detak jantung yang sangat kencang.
Beberapa Minggu terakhir, Joya bersikap teramat kaku kepadanya. Istrinya itu juga tak melayaninya dengan baik seperti dulu, jangankan kebutuhan batinnya, lahirnya saja Joya jarang melayaninya, wanita itu melimpahkan tanggung jawabnya pada ibunya dan Ayenir, tapi kini, dengan mata kepalanya sendiri. Joya tampak asyik berbincang dengan laki-laki lain.
" Sebenarnya itu hadiah dari Ayah yang diberikan padaku sih mas, kalau untuk beli bonsai semahal itu pakai uang sendiri sih sayang!"
" Wah, nggak nyangka mba juga melihat harga kalau mau beli sesuatu"
Si tamu mampu membuat kekesalan Hamdan naik ke ubun-ubun, terlebih melihat senyum wanita tercintanya itu di tunjukkan untuk si pria itu bukan untuk dirinya yang sudah sangat merindukan Joya seperti dulu.
Suara tawa Joya kembali terdengar.
" Ya Allah mas, pastilah! Sebagai Ibu rumah tangga wanita harus pintar membagi uang."
Sudah cukup. Hamdan tak sanggup lagi mendengarkan lebih lama. Telinga dan hatinya terasa panas ketika sang istri memanggil 'Mas' pada pria lain yang bukan dirinya.
Langkah tegasnya ter ayun, tak tunggu waktu langsung menarik Joya ikut bersamanya masuk kedalam kamar, Joya sempat terperangah tak percaya melihat tingkah suaminya yang terlihat sangat tidak sopan. Tetapi belum sempat mengucapkan protes, Hamdan membentaknya.
__ADS_1
" Apa begitu sikap mu ketika aku tidak ada di rumah?
Joya yakin, tidak hanya dirinya yang terkejut, pria di luar sana pasti juga bisa mendengar suara Hamdan yang menggelegar.
Kenapa sih laki-laki ini?
" Apa sih mas, datang-datang kok langsung marah-marah?" tanya Joya dengan raut kesalnya.
" Suami mana yang tidak marah ketika melihat istrinya seperti seorang wanita murahan di depan pria lain?"
' Plak'
" Cukup!" Napas Joya tersengal-sengal. Tak pernah dia sangka Hamdan bisa berucap keji seperti itu.
Joya menatap tepat di bola mata Hamdan. Tak ada sedikitpun rasa bersalah di sana, hanya ada tatapan kebencian yang membuat Hamdan menciut.
Gemuruh di dada Joya begitu terasa hingga rasanya jantung wanita itu hendak keluar dari tempatnya.
Joya mengedipkan matanya dan setetes air mata berhasil lolos begitu saja dari matanya. " Seperti wanita murahan ya?" Dia menatap Hamdan nanar.
Joya terkekeh pelan dan mengangguk.
" Oke, aku terima hinaan kamu, dan kupikir aku bisa benar-benar menjual diri hanya untuk sekedar menyambung hidup karena memiliki suami seperti mu! Aku sudah terlanjur nggak berharga jadi sekalian aja, kan?" Joya berjalan meninggalkan Hamdan dengan langkah cepat.
Hamdan buru-buru mengejar istrinya dengan napas memburu, Joya yang akan segera menutup pintu kamar mandi, namun Hamdan lebih dulu menahan pintu nya.
Joya hanya menatap suaminya tanpa minat. Tubuh lelah. Lelah menghadapi sikap Hamdan. Lihatlah, pria ini begitu tegas dengannya, tapi pada ibunya seperti hamba dan ratu. yang selalu menundukkan kepalanya dan membungkukkan badannya, pun dengan titah wanita itu yang selalu Hamdan turuti. Sangat menyebalkan.
" Joya," Panggil Hamdan lirih seperti bergunam.
Joya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis terisak kala merasakan Handan berusaha memeluknya.
Hamdan mendekat dan berusaha menekuk Joya, Wanita itu enggan menatapnya barang sedetik saja.
__ADS_1
" Joya, Dek!" Dada Hamdan terasa di cubit.
" Pria yang di depan tadi adalah teman kuliahku dulu, dia datang kemari karena tertarik dengan bonsai yang aku tawarkan lewat penjualan online, aku butuh makan, aku butuh uang, aku tidak bekerja, aku juga tidak mendapat uang bulanan dari mu, dan kini kau sebut aku wanita murahan?"
Kata Joya dengan isakan rendah.
Hamdan tertegun di tempatnya berdiri. Kerongkongan nya terasa sulit untuk menelan. Hamdan seperti di hantam sesuatu tak kasat mata. Dadanya terasa sesak dan tiba-tiba rasa takut datang menghantuinya.
" Aku mau sendiri," Kata Joya dengan nada lemah.
" Maaf, Dek." Hamdan meraih tubuh Joya dan memeluknya.
' Kamu tidak akan pernah tau apa yang ku rasakan saat ini' batin Joya.
Baju yang dipakai Hamdan terasa basah. Joya masih menangisi rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran. Hamdan sendiri memilih diam sambil menahan sesak di dadanya. Dia mengelus punggung Joya dengan lembut.
Joya yang merasa pelukan Hamdan menjanjikan kedamaian semu , memilih melerai dekapan suaminya itu. Dia mengusap kedua pipinya bergantian. Dia menekan gelombang air matanya agar tak terjatuh lagi.
" Sudah ku putuskan" ucap Joya menatap Hamdan kembali.
Joya menarik kedua sudut bibirnya, Kembali memeluk tubuh tegap Hamdan. Sedikit berjinjit untuk meletakkan dagunya di lekuk leher Hamdan yang tiba-tiba terdiam, Hamdan terlalu kaku untuk membalas pelukan Joya.
Joya mendekatkan bibirnya di telinga Hamdan.
" Lepaskan aku Mas, aku rasa kita punya jalan sendiri-sendiri."
Joya sudah mengambil keputusan yang terbaik. Melihat Hamdan yang tak memahaminya membuat ia membulatkan tekadnya untuk berpisah. Joya juga tak ingin membuat hubungan Hamdan harus terurai dengan ibunya. Terlebih kini Hamdan sudah memiliki istri lain dari wanita yang menyandang status sebagai Ibu mertuanya.
Kini dia membiarkan cinta pertamanya hilang, yakin patah hatinya akan terobati dengan berjalannya waktu.
Terlalu sakit ketika seorang yang sudah membersamainya selama ini justru mengatakan hal yang tidak semestinya, bagaimana bisa Hamdan merendahkan harga dirinya dengan menyebutnya wanita murahan?
Ini terkait masa depan yang pernah sempat terencana di antara mereka. Hamdan ingin Joya menjadi seorang Ibu rumah tangga, merawat buah hati mereka kelak dengan tangan Joya sendiri. Hamdan tak keberatan untuk membantu pekerjaan rumah ketika kelak anak mereka merengek minta dimanja oleh Joya. Rangkaian rencana masa depan yang begitu indah, tapi sayang itu kini terasa menyedihkan. Karena kini Joya menyadari harapan itu tak akan pernah terwujud.
__ADS_1
" Sayang, kamu bicara apa?" Hamdan menjatuhkan lututnya di lantai.