Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
NYONYA SYAHPUTRA YANG KEJAM


__ADS_3

"Apa?!, bagaimana mungkin?!" ucap Edi seakan tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.


Di belakang Leny menyusul juga Rian dan Fauzi, mereka berdua datang sambil menyeret para anak buah milik Edi yang sudah mereka lumpuhkan dengan mudahnya.


"Nih bawa pulang orang-orangmu!. Dasar lemah!" ucap Fauzi sembari melempar para anak buah Edi yang ia bawa tadi ke depan kaki sang bos Petir Hitam yang baru itu.


"Kalau merekrut anggota itu harus yang kuat!, jangan cuma menang badannya aja yang besar" timpal Rian ikut melemparkan anak buah milik Edi


Edi yang tadinya sombong dan merasa percaya diri jika dirinya akan menjadi bos di dunia kegelapan, kini malah menjadi takut dan keringat sudah membasahi area kening miliknya.


"Ada apa?!, tadi sombong sekali?!" tanya Daniel menyindir


Edi diam terpaku tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun dari lisannya. Lidahnya seakan kaku, kesombongan yang ada pada dirinya langsung menghilang seketika.


Sedangkan Daniel hanya tersenyum meremehkan saja melihat pria yang lebih tua dari darinya itu tiba-tiba menjadi seperti ayam sakit yang sudah tak berdaya lagi.


Tak lama kemudian, Hyuga dan Ronny datang dengan menggendong kedua kekasihnya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Ini mereka pingsan atau tidur sih" ucap Leny menunjuk-nunjuk pipi Koury dan Silvia menggunakan jari telunjuknya


"Berani sekali kau mencari masalah dengan kami pak tua!" ucap Ronny dengan geramnya.


"Sial!. Aku dalam bahaya" batin Edi


"Apa yang harus aku lakukan?!" gumamnya lagi semakin panik melihat ke sekelilingnya


"Kok diam pak tua?!. Menyesal karena sudah menculik kami?" tanya Leny tersenyum sinisnya.


Leny berlari kecil menuju kedalam pelukan Suaminya dan ia mengadu kepada Daniel tentang apa yang telah mereka lakukan pada dirinya, tentu saja ia akan menambahkan sedikit bumbu-bumbu agar Daniel bisa menghukumnya lebih kejam lagi.


"Suamiku.. hiks.. Mereka jahat" ucap Leny dengan manjanya dalam pelukan sang Suami


"Pria tua itu menamparku sebanyak 5 kali! hiks..hiks.." timpalnya sambil menatap Edi yang sudah mulai semakin takut


"Nona!, kamu jangan melebih-lebihkan dong!" protes Edi mulai membuka suaranya.


"Kamu diam saja!, dan terima kenyataan!" tegur Fauzi dan langsung memukul wajah pria tua itu

__ADS_1


"Arkkkhhhh!!" lirih Edi memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan dari Fauzi


"Fauzi! balas perlakuan dia padaku sebanyak 10 kali lipat!" perintah Leny menyilangkan kedua tangannya


"Apa aku boleh ikut bersenang-senang Kak?" tanya Kevin


"Silahkan, lakukan semau kalian Adik-adikku" jawab Leny tersenyum manis


"Yosh!" ucap Kevin tersenyum penuh kemenangan


"Ah! kamu ini mengganggu kesenanganku saja!" protes Fauzi


"Biarin welk!. Aku kan sudah dapat izin dari Kakak iparku" ejek Kevin menjulurkan lidahnya


"Wah-wah nyari perkara kau capung!" ucap Fauzi memiting leher Kevin dan mereka mulai ribut sendrian


"Woy, woy!. Aku menyuruh kalian berdua untuk menghabisi pria tua itu!, bukan meminta kalian untuk bermain-main" tegur Leny melemparkan sepatunya dan sukses membuat kedua Adik iparnya berhenti bertengkar.


"Ampun Kak!" mohon Fauzi dan Kevin bersamaan.


"Ribut sekali lagi, kursi ini yang akan melayang ke kepala kalian!" ancam Leny yang sudah mengangkat sebuah kursi kayu.


"I..iya Kak" jawab Kevin memungut sepatu yang Leny lemparkan tadi ke arah mereka berdua.


"Ini nona besar" timpalnya ketakutan menyerahkan sepatu milik sang Kakak dengan tangan yang gemetaran


"Sana lanjutkan!" perintah Leny mengibas-ngibaskan tangannya


Dengan sigap Kevin langsung menuju ke tempat Edi berdiri, dan Kevin langsung menampar pipi kiri milik Edi. Kini kedua pipi Edi sudah resmi kena cap tangan oleh kedua Adik ipar Leny.


Fauzi dan Kevin terus menampar kedua pipi Edi sebanyak 25 kali di bagian kanan dan 25 kali juga di bagian kirinya secara bergantian. Saat tamparan terakhir, kedua Adik Daniel menampar kedua pipi Edi secara bersamaan sehingga terbentuk suara yang sangat keras dari wajah Edi yang sudah babak belur akibat ulah kedua Adiknya Daniel itu.


"Menampar orang sebanyak itu membuat tanganku juga terasa panas" ucap Fauzi menghembus tangannya


"Iya!. Kau benar saudaraku" timpal Kevin sembari mengibaskan tangannya


Kemudian Leny mengalungkan tangannya pada leher sang Suami dan ia mulai meminta sesuatu lagi untuk memberikan sebuah hukuman untuk pria tua yang telah berani menculiknya tadi.

__ADS_1


"Suamiku, bisakah kamu yang melanjutkannya" pinta Leny dengan ekspresi wajah imutnya dan membuat Daniel menjadi gemas melihatnya.


Daniel tersenyum dan mengelus kepala sang Istri lalu iya berkata "Baik nyonya besar, dengan senang hati"


Dengan santai Daniel melangkahkan kakinya mendekati Edi yang seluruh wajahnya sudah di penuhi memar akibat perintah dari sang Istri tadi, namun Leny masih belum merasa puas dengan itu semua, ia meminta Suaminya untuk melakukan eksekusi yang lebih kejam dari Eko beberapa bulan yang lalu.


Semakin mendekat, rasa takut juga semakin besar pada diri Edi saat melihat sosok malaikat maut sudah mendekati dirinya selangkah demi selangkah.


"Ka..kau mau apa?!" tanya Edi sembari melangkah mundur secara perlahan


"Apa kau tuli ha?!" tanya Daniel balik dengan santainya


"Tadi nyonya besar menyuruhku untuk menghabisimu" timpalnya


"Ti..tidak!, ampun ku mohon!" pinta Edi semakin melangkah kebelakang.


Namun sayangnya langkahnya harus terhenti karena kedua kakinya sudah terpojok dengan sebuah meja yang berada di belakangnya.


Daniel tersenyum sinis, lalu ia langsung menendang perut Edi sampai membuat perutnya merasakan sakit yang amat luar biasa.


"Uhuk-uhuk uhuk-uhuk" lirih Edi sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit akibat sebuah hadiah tendangan dari Daniel.


Belum merasa puas, Daniel juga menendang dagu Edi dengan dengkulnya dan sampai membuat Edi langsung berdiri dengan di paksa dari dengkul milik Daniel.


"Arkhh!!" lirih Edi


Tak hanya sampai disitu. Dengan cepat Daniel juga memukul wajah milik Edi hingga membuat tubuh Edi terpental dan menghantam meja di belakangnya hingga meja tersebut hancur.


"Uhuk-uhuk! arkhhhhh!" teriak Edi kesakitan dan sudah memuntahkan darah dari mulutnya.


Daniel mencengkram erat leher Edi dan memaksa tubuh Edi untuk bangkit. Kaki Edi sampai tidak menapak tanah.


"Apa kau tau kenapa dulu aku membantai Kakakmu sampai sesadis itu?!" tanya Daniel dan semakin memperkuat cengkramannya


"HMKKRRRMMM" lirih Edi tak bisa berbicara


"Si tua bangka B4J1N64N itu telah membunuh kedua orangtuaku!" timpal Daniel dan langsung membanting tubuh Edi ke lantai.

__ADS_1


Leny sampai terkejut dan matanya langsung terbelak saat mendengar perkataan itu dari sang Suami. Ia memang belum tau penyebab sebenarnya atas kematian dari kedua mertuanya itu.


"Jadi pak tua itu yang sudah membunuh mertuaku?!" gumam Leny dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


__ADS_2