
Di hari Minggu yang sangat cerah, terdapat pasangan suami istri beserta anak dan adik wanita tengah menikmati pagi hari dengan melakukan olahraga di sekitaran kompleks tempat mereka tinggal.
Terlihat Wulan yang tengah asyik bermain dengan Damin yang sedang berada dalam gendongannya. Damin juga merasa senang saat bermain dengan Tantenya tersebut.
"Ayah, sepertinya nanti siang kita harus ke mall" ucap Leny.
"Stok di dapur tinggal nunggu wafatnya aja, roti untuk Damin juga sudah tinggal beberapa lagi, susunya juga sudah mau habis" timpalnya.
"Iya Honey iya. Borong semuanya aja nanti, bahkan kalau Bunda mau beli mall itu, bakal Ayah belikan" jawab Daniel sambil mengelus kepala sang istri.
"Ah udah deh Ayah" ucap Leny.
"Hehe, memangnya kenapa kalau kita beli sebuah mall Honey?" tanya Daniel menggoda.
"Udah banyak usaha Ayah, jangan buat Bunda makin pusing untuk nyimpan uang kita" jawab Leny.
"Ya kan bisa Bunda kasih ke Windy" tambah Daniel menggoda.
"Ayah pikir mereka berdua mau menerimanya?" tanya Leny sambil mencubit pinggul Daniel.
"Pasti bakal mereka tolak mentah" timpal Leny.
"Hahaha" tawa Daniel.
"Udah deh Ayah, Bunda ngajak ke mall itu buat belanja keperluan rumah, bukan untuk beli mall itu" ucap Leny.
"Wulan ikut ya kak. Kalau Wulan di rumah sendirian rasanya bakal bosan" sambung Wulan.
"Yaudah ikut aja dek, itung-itung untuk jagain Damin" jawab Daniel.
"Kalau untuk menjaga si kecil tampan ini, ya Tante mau banget" ucap Wulan dan langsung menciumi pipi Damin hingga membuat Damin terkekeh geli.
Di tengah-tengah mereka sedang menikmati pagi hari itu, ternyata Vinny dan keluarganya juga sedang berolahraga pagi.
"Loh Leny?" sapa Vinny yang melihat sahabatnya yang berada di depannya.
"Vinny?" sapa Leny balik.
"Wah kebetulan banget ya kita bisa bertemu" ucap Vinny tersenyum sambil menggandeng tangan Rere putrinya.
"Selamat pagi Paman, Tante, dan adik Damin" sapa Rere tersenyum manis.
"Pagi sayang" jawab Leny tersenyum.
"Oh iya, Vinny kenalin. Ini adik ipar aku, Wulan" ucap Leny memperkenalkan Wulan pada Vinny.
__ADS_1
"Halo, aku Vinny" sapa Vinny sambil mengulurkan tangannya.
"Halo kak, aku Wulan" jawab Wulan menyambut jabatan tangan dari Vinny.
"Halo Tante, aku Rere" ucap Rere sambil mencium punggung tangan Wulan.
"Halo adik cantik" sapa Wulan sambil mencubit pipi Rere.
"Kenalin ini suami aku" ucap Vinny memperkenalkan sang suami.
"Halo aku Pandu" sapa Pandu.
"Halo kak" jawab Wulan tersenyum.
"Dia ini manager di kantor kita dek" ucap Daniel memperjelas statusnya Pandu.
"Ah Pak bos ini, jangan begitu dong" ucap Pandu merasa malu.
"Kenapa harus malu Pandu?, lagi pula kerja kamu di kantor sangat bagus dan jujur. Seharusnya sudah sepantasnya kamu di banggakan" ucap Daniel.
"Hehehe, Pak Bos berlebihan" ucap Pandu sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"Tante, Tante. Rere boleh gak cium adik Damin" pinta Rere.
"Tentu saja boleh sayang" jawab Leny tersenyum sambil membelai kepala Rere.
"Terima kasih Tante" ucap Rere tersenyum dan di balas dengan senyuman juga oleh Wulan.
"Jarang-jarang aku melihat anak kecil yang begitu sopan dan sangat bijak" batin Wulan tersenyum sambil terus menatap Rere.
"Oh iya, umur Rere berapa?" tanya Wulan.
"Lima tahun Tante" jawab Rere tersenyum.
"Wah masih kecil sudah bersikap sopan dan bijak ya" ucap Wulan tersenyum manis.
"Iya Tante. Kan Mama dan Papa selalu mengajarkan Rere untuk sopan sama yang lebih tua" jawab Rere dengan polosnya. Sedangkan Vinny dan Pandu hanya tersenyum melihat kebijakan dari putri semata wayangnya.
"Udah lumayan siang ni. Sepertinya kami harus pulang" ucap Leny.
"Iya, kami juga mau pulang" sambung Vinny.
"Yaudah, kami pamit pulang dulu ya" timpalnya.
"Hati-hati, sekali-kali mampir kerumah adik Damin ya Rere" ucap Leny tersenyum sambil mengelus kepala Rere.
__ADS_1
"Iya Tante, nanti Rere ajak Mama dan Papa main ke rumah adik Damin" jawab Rere tersenyum bahagia. Kemudian mereka berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
____________________________
Siang harinya, Daniel dan yang lainnya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sebuah salah satu mall yang berada di daerah kota Jakarta tempat mereka tinggal. Jarak dari rumah ke tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh dan hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja.
Di dalam mobil, Damin terus bermain dengan Wulan yang sedang duduk di kursi belakang. Damin terlihat sangat nyaman saat berada di pangkuan Wulan, dan Leny hanya sesekali melihat adik dan putranya dari kaca spion yang ada di depannya.
Setelah berjalan sekitar hampir setengah jam, akhirnya mereka berlima sudah sampai di tempat parkir yang berada di salah satu mall. Karena kondisi jalan Jakarta yang lumayan padat, mereka menjadi sedikit terlambat sampai di tempat tersebut akibat terjebak macet di perjalanan.
Seusai memarkirkan mobilnya, Daniel keluarga kecilnya langsung menuju ke dalam mall tersebut. Ternyata tempat itu adalah dimana Daniel dan Leny pertama kali bertemu kembali setelah 14 tahun lamanya terpisah.
"Ayah, apa Ayah masih ingat tempat ini?" tanya Leny.
"Tentu saja dong Honey. Ini kan mall yang menjadi saksi bisu dimana Bunda pernah menampar Ayah 2 tahun yang lalu" jawab Daniel.
"Hahaha ternyata Ayah masih mengingatnya" tawa Leny sambil memeluk lengan sang suami.
"Di tempat ini juga Bunda mengalami hal yang sangat menakutkan, untuk aja ada Ayah yang menyelamatkan Bunda. Ayah bagaikan seorang pahlawan pada masa itu" timpal Leny terkekeh.
"Untung saja pada kejadian waktu itu, Bunda gak menampar Ayah untuk yang kedua kalinya" ucap Daniel menyindir.
"Kalian bahas apa sih?" tanya Wulan tiba-tiba.
"Panjang ceritanya dek. Intinya di mall inilah kami bertemu kembali setelah 14 tahun terpisah" jawab Leny tersenyum bahagia.
"Berarti ini harus kita rayakan Honey" ucap Daniel tersenyum sambil menaikkan alisnya.
"Rayakan bagaimana maksud Ayah?" tanya Leny sedikit kebingungan.
"Dengan kita membeli mall ini" jawab Daniel tersenyum jahil.
"Ayah!. Bunda kan udah bilang kalau Bunda gak mau" ucap Leny.
"Hahahaha. Iya Honey iya, kan Ayah cuma bercanda" jawab Daniel terkekeh.
Pada saat mereka tengah berkeliling di dalam tersebut, tiba-tiba mereka melihat ke arah orang-orang yang tengah melihat sesuatu yang janggal. Daniel juga mendengar seorang pria yang sedang marah-marah. Namun, pria tersebut menggunakan bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Karena penasaran, Daniel langsung mendekati kerumunan tersebut.
"Dasar kau manusia sampah!. Berani-beraninya kau melakukan pencurian di tempat umum seperti ini!" ucap seorang pria dengan nada yang marah-marah dalam bahasa Jepang.
Pada saat pria itu ingin memukul orang yang sedang ia maki-maki, dengan sigap tangan Daniel langsung menangkap lengan pria tersebut.
"Ada apa ini?, kenapa kau marah-marah seperti ini?" tanya Daniel sambil terus menahan lengan pria yang hendak memukul orang yang terduduk di depannya ( Dalam bahasa Jepang ).
Karena penasaran, sosok pria yang sedang emosi itupun langsung menoleh ke arah Daniel, dan matanya langsung terbelalak saat menatap wajah Daniel. Pria itu seakan mengenali sosok Daniel.
__ADS_1
"Kapten?" sapa pria itu ( dalam Bahasa Jepang ).
"Joe?!" tanya Daniel sedikit terkejut...