Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENGHILANG


__ADS_3

Suasana haru bercampur bahagia menghiasi ruangan yang dimana ada Ayu di dalamnya. Mereka tak sabar untuk memberi tau kabar gembira tersebut pada keluarga besar karena keluarga Syahputra akan segera mendapatkan keturunan lagi.


"Kita harus rayakan ini" ucap Leny penuh semangat.


"Mau di rayakan bagaimana?, apa lupa sama suami kamu yang masih terkapar di UGD?" sela Alvin.


"Ya nunggu suami aku dan suami Ayu sembuh dong" jawab Leny mengejek.


"Lagi pula sebentar lagi Damin juga bakal genap satu tahun" timpalnya tersenyum bahagia.


"Gak terasa ya, sudah hampir setahun" sambung Chelsea tersenyum.


"Dan sebentar lagi Damin juga bakal mempunyai dua orang Adik" ucap Ayu tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Bahkan langsung dua" timpalnya bahagia.


Di dalam ruangan UGD, terlihat Daniel yang masih terbaring dengan infus dan beberapa alat bantu yang lain menempel di tubuhnya. Terlihat ia masih memejamkan matanya dan tak ada seorangpun yang berada di sana untuk menjaga serta menemani dirinya karena mereka semua sibuk mengurus pasangan Syahputra lainnya.


Tiba-tiba jari telunjuk Daniel perlahan bergerak, matanya juga pelan-pelan mulai terbuka. Saat ia membuka matanya, pandangan masih sedikit kabur akan tetapi hidungnya yang tajam bisa tau tempat ia berada karena bau obat yang begitu menyengat.


"Di rumah sakit lagi?" gumamnya dengan bola mata yang terus mengarah ke kanan dan kiri.


"Apa-apaan ini?!, banyak sekali benda-benda yang menusuk tubuhku" ucap Daniel jengkel dan langsung melepaskan semua benda-benda yang menempel pad tubuhnya bahkan jarum infus yang masih menusuk tangannya ia cabut secara paksa hingga mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


Akan tetapi tidak ada rasa kepanikan sedikitpun pada dirinya sendiri melihat darah yang terus mengalir pada lengannya. Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu mencari sesuatu untuk menutupi lubang yang terus mengeluarkan cairan berwarna merah itu.


Setelah darahnya berhasil ia hentikan, ia berjalan sedikit oleng karena kondisi tubuh yang masih lemah dan ia juga baru siuman dari tidur nyenyak.


Daniel berjalan menuju pintu keluar dari ruangan tersebut, dia semakin mempercepat langkahnya karena sangat membenci bau obat yang terlalu menyengat pada indera penciumannya.


Daniel membuka pintu ruangan tersebut dan keluar dari ruangan itu tanpa ada keluarganya yang tau. Ia berjalan dengan langkah yang lunglai menuju ke lift. Setelah ia berada di dalam lift, ia langsung menekan lantai paling atas karena ia butuh udara segar di atas puncak gedung rumah sakit miliknya itu karena ia sudah biasa berada di atas sana dan bahkan staf rumah sakit itu memang menyediakan sebuah tempat yang sangat nyaman di puncak gedung tersebut untuk Daniel bisa lebih menikmati tempat itu.


Setibanya dia di puncak, Daniel berjalan menuju ke sebuah pintu yang jika di buka terdapat tempat yang sangat nyaman. Tempat pribadi yang memang di buat khusus untuknya.


Dia berjalan dengan langkah lemahnya membuka pintu pun sedikit kesulitan karena tenaganya belum kembali sepenuhnya. Setelah ia berhasil keluar dari gedung tersebut, Daniel berjalan untuk melihat-lihat ke seluruh kota tersebut dari puncak tertinggi.


Ia menghirup udara segar begitu sangat dalam seakan tak pernah merasakannya sejak lama. Kedua bola matanya terus memandangi keseluruhan kota dari gedung tinggi tersebut.


Daniel duduk santai sambil menikmati sebatang rokok favoritnya. Terasa sangat plong rasanya setelah ia berhasil menikmati itu. Pikirannya menjadi tenang dan sosok William tak teringat lagi olehnya.


Di sisi lain terlihat Leny yang tiba-tiba merasa aneh pada dirinya. Pikirannya hanya tertuju pada sang suami. Ibu Rani yang sedari tadi terus memperhatikan menantunya itu langsung paham kalau Leny sedang memikirkan putranya yang masih berada di ruangan UGD.


"Ibu, Leny titip Ayu ya. Leny mau mengecek suami Leny dulu, entah kenapa tiba-tiba Leny merasa aneh" ucap Leny.


"Iya sayang, Ibu juga tau kalau dari tadi kamu terus memikirkan suami kamu itu. Yaudah kamu pergi gih, tidak usah mengkhawatirkan Adik ipar kamu ini, ada Ibu kok" jawab Ibu Rani tersenyum sambil mengelus kepala Ayu yang ikut tersenyum.


"Iya Kakak ipar, sebaiknya kamu melihat keadaan suami kamu saja. Aku baik-baik saja kok" sambung Ayu tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi dulu" ucap Leny dan di anggukan oleh mereka semua yang berada di dalam ruangan Ayu di rawat.


Setelah keluar dari ruangan itu, Leny melangkah dengan buru-buru menuju ke ruangan UGD. Pikiran semakin tak tenang, entah kenapa secara tiba-tiba ia terus memikirkan sang suami yang menurutnya masih berada di dalam.


Sebelum masuk, Leny menemui karyawan yang bertugas di sana untuk meminta izin masuk kedalam. Meskipun ia tau gedung itu miliknya, akan tetapi Leny tak ingin berbuat seenaknya di tempat tersebut, ia harus mengikuti aturan-aturan yang berada di rumah sakit itu.


Setelah mendapatkan izin serta pakaian layak untuk menjenguk pasien yang berada di ruangan UGD, Leny langsung menuju ke dalam ruangan tersebut dan menuju ke tempat sang suami berbaring.


Namun alhasil matanya tak melihat ada orang di tempat tersebut. Justru tempat itu nampak berantakan dan banyak bercak darah yang ada di lantai dekat dengan suaminya berbaring tadi.


"Kemana dia?, apa dia di culik dan benda-benda ini lepas paksa dari tubuhnya?" gumam Leny panik.


Kedua bola matanya terus menatap noda darah yang berada di lantai. Pikiran semakin kacau, hatinya seperti tersayat pisau karena merasa sang suami sedang mengalami hal yang mengerikan.


"Kamu kemana Ayah?, jangan bikin Bunda risau dong" gumam Leny panik.


Leny menekan tombol alarm yang berada dekat tempat yang tadinya di tempati oleh Daniel. Ia terus-terusan menekan tombol itu karena rasa paniknya melihat sang suami tak ada di tempat tersebut.


"Lama banget!" gumamnya kesal dan terus menekan tombol alarm itu.


Tak lama kemudian dokter dan beberapa suster datang menemui Leny. Wajah mereka langsung berbuah menjadi ketakutan saat melihat wajah nona besar mereka yang nampak terlihat sedang marah.


"Apa-apaan ini hah?!, mana suamiku?!, kenapa dia tidak ada di sini?!" tanya Leny emosi sedangkan dokter dan para suster itu hanya menunduk ketakutan saja.

__ADS_1


"Kalian kemana saja hah?!, sampai-sampai orang yang seharusnya kalian jaga malah tak ada di tempatnya?!" emosi Leny semakin meledak karena terlalu panik pada keadaan sang suami yang tak tau kemana.


__ADS_2