
Setelah kepergian dua orang yang sudah di siksa Daniel tadi, Leny langsung membawa suami masuk kedalam mobil dan segera kembali kerumah.
Karena Daniel masih dalam keadaan emosi, jadi Leny terpaksa yang mengemudikan mobilnya agar tak terjadi apa-apa jika Daniel tetap mengemudi dengan hati dan pikiran yang masih memanas.
"Udah dong Ayah, jangan emosi seperti itu" ucap Leny memenangkan sang suami sambil tetap fokus menyetir.
"Lagian mereka sudah tak mungkin lagi berani menampakkan diri di depan kita" timpal Leny.
"Seharusnya orang-orang seperti itu harus di cabut aja nyawanya. Kalau di bawa ke kantor polisi, sama aja mereka akan melakukan hal seperti lagi" jawab Daniel.
"Iya Ayah, Bunda paham. Tapi mereka sudah hancur seperti itu, dan mereka hanya preman kelas rendahan, bukan seperti orang-orang yang selama ini Ayah taklukan. Jadi tak perlu Ayah sampai membunuhnya" ucap Leny menasehati.
"Ayah gak peduli mereka itu siapa Honey. Karena yang Ayah tau, kalau ada yang berani merendahkan bahkan mengganggu keluarga kita, mau siapapun itu, maka orang itu harus membayar semuanya dengan nyawa mereka" jawab Daniel dengan wajah yang serius dan penuh amarah.
Wulan yang berada di kursi belakang hanya diam dan terus memperhatikan kakaknya yang nampak sangat emosi. Ia begitu paham dengan sifat dari Daniel. Jika Daniel sudah berbuat seperti itu, maka ia akan menuntaskan semuanya meski orang yang mencari masalah dengannya lari entah kemana.
"Aku tau kakak aku seperti apa. Kalian berdua memang bodoh, siap-siap akan kehilangan nyawa jika kalian berdua sampai di cari oleh kakakku" batin Wulan.
"Ayah udah ya, jangan sampai Bunda marah" ucap Leny mengancam.
"Iya Honey iya" jawab Daniel memelas.
"Akan tetapi Kakakku itu sudah memiliki seorang pawang" tambah batin Wulan tertawa.
Daniel melihat Wulan yang sedang senyum-senyum dari balik kaca spion yang ada di depannya. Kemudian Daniel memicingkan mata sembari berkata "Seneng banget kamu ya dek liat kakaknya di marahin".
"Hahaha, ya mau bagaimana lagi. Selama di Dark Shadow kakak gak ada imbangnya. Tapi sekarang kakak sudah memiliki orang yang di atas kakak" jawab Wulan mengejek.
"Udah ya Ayah. Ayah jangan coba-coba mencari mereka lagi, apa lagi sampai membunuhnya" ucap Leny memperingati.
"Iya istriku yang bawel" jawab Daniel.
"Yaudah bagus kalau begitu" ucap Leny. Lalu ia berfokus pada setir mobilnya.
Damin terlihat begitu pulas tertidur dalam pangkuan Wulan, dan Wulan hanya tersenyum sambil membelai kepala keponakannya itu.
"Karena masalah tadi, kita benar-benar telat pulang ke rumah" ucap Leny.
"Ya habisnya mereka membuat Ayah naik pitam" jawab Daniel.
__ADS_1
"Biarkan saja Ayah, mereka juga tidak menyakiti Bunda" ucap Leny menasehati.
"Memang fisik Bunda enggak terluka. Akan tetapi hati Ayah sangat panas ketika orang itu mengatakan hal seperti itu" jawab Daniel sedikit emosi.
"Apa dia tidak di lahirkan dari rahim seorang wanita?, sebegitu entengnya dia merendahkan seorang wanita, apalagi wanita yang dia rendahkan itu istriku" ucap Daniel geram.
"Kalau saja orang-orang sekitar tidak menahan Ayah, mungkin sudah Ayah robek mulutnya itu" timpal Daniel semakin geram saat mengingat perkataan pria itu ketika merendahkan istrinya.
"Udah Ayah, udah. Anggap aja itu hanya angin. Jangan di masukan dalam hati" ucap Leny tersenyum.
"Mereka hanya dua orang sampah saja, untuk apa Ayah ambil pusing" timpal Leny.
"Iya Honey. Maafin Ayah karena tadi emosi Ayah sudah meledak" ucap Daniel penuh penyesalan.
"tidak apa Ayah, yang paling penting Ayah tidak membunuh mereka" jawab Leny tersenyum manis.
"Tapi kak, aku masih belum yakin kalau salah satu dari mereka bisa selamat setelah menerima pukulan telak dari suamimu" ucap Wulan menyambung.
"Pasti dia mengalami luka yang sangat serius, dan beberapa tulangnya pasti ada yang patah" timpalnya.
"Ya semoga aja pria itu baik-baik saja, dan masalah ini tidak merambat semakin jauh" jawab Leny.
"Wah banyak banget pak bos" ucap salah satu dari satpam yang bekerja di rumah Daniel.
"Iya, aku sengaja membeli banyak. Karena aku juga membelikan untuk istri kalian di rumah" jawab Leny.
"Waduh, kok repot-repot buk bos." ucap kedua satpam itu serentak.
"Tidak masalah, karena orang-orang yang berada di rumah ini, itu keluargaku. Termasuk kalian berdua" jawab Leny.
"Terima kasih banyak buk bos. Kalian memang keluarga yang sangat baik" jawab salah satu dari satpam itu.
"Walaupun kami pernah ingin berbuat jahat di keluarga kalian, tapi kalian justru memperkerjakan kami berempat untuk kalian" timpalnya.
"Aku tau kalian itu orang baik. Mungkin kemarin-kemarin kalian khilaf sampai berbuat jahat demi menghidupi keluarga kalian" jawab Leny tersenyum.
"Kalau saja dulu kami tidak bertemu dengan kalian, mungkin kami sudah membusuk di penjara atau di dalam tanah" ucap satpam tersebut.
"Udah, gak perlu di ingat lagi. Itu hanya masalah lalu. Anggap aja Tuhan sedang menguji kalian, dan sekarang Tuhan juga sudah menaikan Drajat kalian" ucap Daniel tersenyum.
__ADS_1
Setelah semua barang-barang belanjaan Leny sudah berada di tempatnya. Leny dan wulan langsung buru-buru masak untuk makan malam mereka, mengingat waktu juga sudah terlambat.
"Ayah mandi dulu ya Honey" ucap Daniel sambil membawa Damin yang masih tertidur pulas dalam gendongannya.
"Iya suamiku. Bunda juga harus buru-buru cepat masak ni, takutnya kita terlambat untuk makan malam" jawab Leny.
Leny dan Wulan langsung menuju ke dapur untuk melakukan peperangan dengan bahan-bahan yang baru saja mereka beli di mall tadi.
"Kak kita masak apa untuk malam ini?" tanya Wulan kebingungan.
"Sebaiknya kita masak yang mudah dan cepat saja. Waktu kita juga udah gak banyak ini dek" jawab Leny memberi saran.
"Hahaha, kakak ini seperti ikut ajang master chef aja" ucap wulan mengejek.
Kemudian mereka berdua langsung berperang dengan bahan-bahan yang sudah mereka siapkan di atas meja dengan berbagi tugas masing-masing agar makanan yang mereka masak bisa segera siap disiapkan di meja makan.
"Fuuuhhh. Akhirnya selesai juga" ucap Leny sambil mengusap keningnya menggunakan lengannya.
Kemudian mereka berdua langsung menata hasil masakan mereka berdua di atas meja makan di mana sudah ada Daniel dan Damin yang sudah menunggu.
"Makanan sudah siap" ucap Leny tersenyum sambil menata piring-piring di atas meja makan.
Setelah semua masakan sudah berada di atas meja, mereka semua langsung menyantapnya.
Tiba-tiba ada seorang pria masuk kedalam rumah dan membuat mereka sedikit terkejut.
"Wah, wah. Kelihatannya enak ni. Pada makan-makan" ucap pria tersebut dengan senyuman tanpa dosa.
"Mau apa kau kemari?" tanya Wulan sedikit ketus.
"Tentu saja ingin ikut makan dong" jawab pria itu dengan entengnya dan langsung mengambil kursi duduk di sebelah Wulan.
"Perasaan tidak ada yang mengundangmu ke sini deh" ucap Wulan sinis.
"Harus banget gitu?. Mau ke rumah kakaknya harus menunggu di undang terlebih dahulu?" tanya pria menggoda Wulan.
"Udah, udah. Makan aja dulu, jangan ribut-ribut" ucap Leny menegur.
"Kevin, kamu makan yang banyak. Kakak masak banyak ini" timpal Leny.
__ADS_1
"Hahaha dengan senang hati kakakku" jawab pria itu semangat, dan ternyata pria tersebut adalah Kevin.