
Suasana yang tadinya ramai dan penuh canda tawa kini mendadak jadi hening saat Alvin menceritakan masa lalunya. Leny juga masih menitihkan air mata membuat Alvin merasa tidak enak hati melihat nona mudanya ikut merasa sedih karena masa lalunya.
"Maafkan aku ya nona, gara-gara aku nona sampai sedih begini" ucap Alvin merasa bersalah.
"Tidak Alvin, aku hanya terharu dengan kisah hidupmu. Kau adalah sosok pria terhebat setelah suamiku" ucap Leny yang masih terisak-isak.
"Itu juga berkat suami anda yang dengan tulus membantu saya. Jika bukan karena dia, mungkin aku tidak akan berada di posisi ini" ucap Alvin sembari menatap Daniel yang tengah sibuk memainkan selang infusnya.
"Udah ya sedih-sedihnya. Aku bosan di sini, aku mau pulang!" ucap Daniel yang masih sibuk dengan selang infusnya.
"Iya, nanti siang kau boleh pulang tuan" ucap Alvin.
Daniel menatap Alvin dengan menaikkan satu alisnya dan bertanya "Yang bener? jangan bercanda kau!."
"Apa wajahku terlihat bercanda?" tanya Alvin balik.
"Tidak sih, mukamu sangat menjijikkan dengan senyuman seperti itu" jawab Daniel yang ingin melepaskan jarum infusnya.
"Hoy!. Kau mau apa?!" tanya Alvin sedikit jengkel
"Mau melepaskan ini!. Benda ini membuat aku sulit untuk bergerak" jawab Daniel tanpa rasa berdosa.
"Jangan kau lepaskan dulu!" tegur Alvin dengan geram sembari menjitak kepala Daniel.
"Waduh!. Tindakan kekerasan pada pasien ni" ucap Daniel seakan tak terima.
"Kalau pasiennya sepertimu, itu bukan tindakan kekerasan pada pasien sih" jawab Alvin mengejek.
"Bunda, lihat dokter gila ini. Dia tega memukul suamimu yang masih tak berdaya" ucap Daniel dengan manja mengadu pada sang istri.
"Bodo amat" jawab Leny menyilangkan kedua tangannya.
"Baru sedih-sedih bareng, ini malah berbuat konyol lagi. Capek tau, capek!" timpalnya.
"Tu kan, istrimu aja sampe mengeluh. Ckckck" ejek Alvin menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Kalian berdua sama aja!" ucap Leny menengahinya.
Jam terus berputar, dan tak terasa waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba. Dengan semangat Leny mengemasi barang-barang sang suami selama ia di rawat di rumah sakit. Sedangkan Ibu Rani pergi untuk membayar biaya administrasi Daniel selama ia berada di rumah sakit itu.
Banyak dokter dan suster yang menyayangkan kepergian Alvin, apa lagi pada para dokter yang berjenis kelamin perempuan. Tak banyak di antara mereka yang memang mengagumi sosok Alvin dan banyak juga yang menaruh hati pada dirinya, namun Alvin sampai saat ini masih belum bisa melupakan kekasih hatinya yang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Ayo Ayah" ajak Leny tersenyum manis sembari menggandeng tangan suaminya, dan Daniel membalasnya dengan belaian lembut pada kepala sang istri.
Tak lama kemudian Ibu Rani dan Alvin datang menyusul Daniel beserta sang istri yang tengah berjalan menuju lobi rumah sakit. Mereka sudah tak sabar untuk menginjakkan kaki pada rumah mewah milik tuan Syahputra itu, terutama Daniel yang sudah sangat merindukan sang putra kecilnya yang sudah tak berjumpa selama hampir satu bulan lamanya.
Keadaan kediaman Daniel juga tak kalah ramainya. Para keluarganya sudah datang di sana untuk menyambut dan merayakan kesembuhan dari Daniel.
Masalah kejutan dan yang mengurus semua keperluan di rumah Daniel sudah handle oleh sang mertua yaitu Mama Yuni. Bahkan ia juga yang langsung memasak semua hidangan untuk menyambut kepulangan menantu kesayangannya dan di bantu oleh keluarga yang lain.
Mobil mewah sudah berada di tempat parkir di rumah sakit tempat Daniel di rawat sebelumnya. Ia di jemput oleh sang adiknya si Fauzi yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
"Hadeh. Lama banget sih, panas ni" keluh Fauzi yang sudah melihat kedatangan Daniel dan yang lainnya.
"Apa yang kamu bilang tadi sayang?" tanya Ibu Rani dengan senyum pembunuhnya.
"Eh. Enggak-enggak, becanda Ibuku sayang" jawab Fauzi tersenyum kikuk.
"Siap laksanakan tuan putri" jawab Fauzi memberi hormat.
"Lebay!" sambung Leny memutar bola matanya jengah.
Mereka semua sudah masuk di dalam mobil dengan Daniel di tengah kedua wanita cantik duduk di kursi belakang, sedangkan Alvin duduk di samping Fauzi yang akan menyetir.
"Haih, malah kau pula yang di sampingku" ucap Fauzi menatap Alvin yang tengah tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Memangnya kau berharap ada seorang bidadari yang duduk di sebelahmu gitu?" tanya Alvin mengejek.
"Oo.. Berani kau macam-macam di belakang adikku Angel, ku cubit ginjalmu itu" ucap Leny mengancam.
"Eh. Enggak dong kak, aku gak akan berani melakukan hal seperti itu. Untuk apa aku mencari wanita lain sedangkan aku sudah memiliki dua orang bidadari cantik di rumah" jawab Fauzi dengan serius.
__ADS_1
"Lagipula untuk apa kakak mendengarkan perkataan dari manusia satu ini" timpalnya menunjuk Alvin yang tengah terkekeh geli.
"Udah dong, ribut terus, jalankan mobilnya!" ucap Ibu Rani memerintah.
"Siap Bu!" jawab Fauzi dan langsung melajukan mobilnya.
Perjalan menuju rumah sakit ke kediaman Daniel hanya memakan waktu paling lama sekitar satu jam saja jika terjebak macet. Syukurnya perjalan mereka menuju ke rumah Daniel tidak mengalami kendala sedikitpun, dan hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja untuk tiba di rumah mewah itu.
Dengan perlahan Fauzi memarkirkan mobilnya, dan tak butuh waktu lama, mobil yang ia kenakan sudah terparkir mulus tepat di sebelah mobil sport mewah berwarna hitam, dan Daniel sangat mengenali pemilik mobil mewah itu yang tidak lain adalah Riski sahabat kecilnya.
"Kok banyak banget mobil di sini?" tanya Daniel setelah keluar dari mobil yang ia tumpangi tadi.
"Mereka semua sudah tidak sabar menunggu kepulangan kamu sayang" jawab Ibu Rani.
"Bahkan ada Papa Ady dan Mama Siska di sini" ucap Daniel lagi setelah melihat sebuah mobil mewah milik kedua orangtua dari Riski.
"Udah ayo masuk, Mereka semua udah menunggu lama" ajak Leny menggandeng tangan sang suami.
Dengan perlahan Daniel melangkahkan kakinya di ikuti Alvin dan Fauzi di belakang mereka. Setelah Daniel sampai di depan pintu utama rumah miliknya, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak sembari memandangi pintu rumahnya.
"Ada apa suamiku?" tanya Leny penasaran.
"Kenapa nak? kok malah berhenti di sini sayang?" sambung Ibu Rani bertanya.
"Entah kenapa tiba-tiba aku merasa deg-degan Bu" jawab Daniel
"Mungkin karena sudah lama aku tidak menginjakkan kaki dirumah ini" timpalnya lagi.
"Yaelah, baru satu bulan doang udah lebay banget deh" sambung Fauzi mengejek
"Berisik banget!" tegur Alvin sembari memukul kepala Fauzi.
"Ngerusak suasana aja" timpalnya lagi.
"Hehe, piss" ucap Fauzi mengangkat satu tangannya dengan jari yang membentuk huruf V.
__ADS_1
Daniel menghela nafasnya dan mulai melangkah untuk membuka pintu rumahnya. Saat pintu terbuka, ia sangat terkejut karena begitu banyak orang yang menyambut kedatangan dirinya.
"surprise.... " ucap seluruh orang yang berada di dalam rumah mewah itu.