Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MURID-MURID BODOH


__ADS_3

Perlahan Leny sudah mulai akrab dengan para guru-guru yang ada di dalam ruangan tersebut. Meskipun mereka masih belum bisa menerima kenyataan kalau Daniel sudah menikah dan memiliki seorang anak, terutama Haruka yang memang jatuh cinta pada Daniel akibat kejadian pagi tadi.


"Damin-kun begitu mirip dengan Daniel Sensei ya" ucap Miu yang memegang tangan mungilnya Damin dalam gendongan Leny.


"Ya mirip lah, kan dia bapaknya" batin Leny.


"Leny-san. Kalau boleh tau, berapa usianya Damin-kun?" tanya Miu yang semakin gemas dengan putranya Leny itu.


"Hah?" Leny terlihat kebingungan karena ia tidak tau bahasa Jepang.


"Miu Sensei bertanya tentang usia putra kita Honey" sambung Daniel menerjemahkan perkataan Miu tadi.


"OOO..." jawab Leny tersenyum.


"Belum genap setahun" jawab Leny menggunakan bahasa Inggris.


Karena Leny tidak mengerti bahasa Jepang, jadi para guru yang berada di ruangan tersebut harus menggunakan bahasa Inggris agar bisa mengobrol dengan Leny dan bisa semakin akrab dengannya. Obrolan mereka juga sudah mulai semakin dekat meskipun baru pertama kali bertemu, Leny seakan-akan membawa aura positif untuk mereka semua walaupun mereka masih kecewa karena Daniel ternyata sudah menikah.


Daniel hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah memiliki teman di negara sakura tersebut, ia hanya menyimak pembicaraan para wanita cantik itu sambil memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Leny.


Tanpa terasa bel sekolah pun berbunyi dan para murid-murid yang sedang istirahat juga pergi kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya.


Leny juga harus pulang karena sang suami juga harus kembali mengajar para murid-murid yang terkenal dengan kenakalannya itu.


Daniel menjadi bersemangat setelah memakan hasil masakan dari tangan istrinya itu. Setelah Leny pamit pulang, Daniel juga sudah bersiap-siap untuk kembali ke kelasnya dan memberikan ilmu yang ia miliki pada para murid nakalnya tersebut.


Para murid di kelas kegelapan itu juga sudah bersiap-siap untuk menyambut guru baru mereka dengan cara mereka seperti tadi pagi, namun dengan trik yang berada untuk mendapatkan hadiah yang sudah Daniel janjikan pagi tadi.


"Semuanya, sepertinya Daniel Sensei akan segera masuk kedalam, kita harus bersiap-siap untuk menyambutnya" ucap salah satu dari murid itu ketika mengintip Daniel dari balik jendela.


Mereka semua sudah bersiap-siap untuk melakukan penyerangan untuk sang guru tampan tersebut, kecuali seorang murid yang sudah di permalukan oleh Daniel pagi tadi, murid itu sepertinya tidak tertarik untuk melukai Daniel mengingat ia sudah kalah telak pagi tadi.


"Hiroto-San, ayo kita balas Daniel Sensei" ucap salah satu temannya menyemangati murid tersebut.


"Tcih" decak Hiroto lalu menyandarkan kepalanya di atas meja karena malas ikut-ikutan dengan teman sekelasnya.

__ADS_1


"Hiroto-San..!" panggil temannya lagi.


"Aku tidak ingin melakukan permainan anak-anak seperti itu, kalian saja yang melakukannya" jawab Hiroto dengan nada malas.


Ketika Daniel membuka handle pintu, mereka semua sudah siap siaga untuk menyambut Daniel masuk, dan pada saat pintu terbuka, tiba-tiba ada seorang siswa yang memanah Daniel menggunakan peluru kertas yang ia kaitkan menggunakan karet.


"Daniel Sensei, terima sambutan dariku ini. Panah ini pasti akan mengenai anda" ucap siswi itu tersenyum.


Setelah siswi itu melepaskan tembakan, para temannya tersenyum penuh kemenangan karena mereka berpikir serangan itu akan berhasil mengenai Daniel karena di kelas itu, siswa tersebut di juluki sebagai penembak jitu karena setiap ia menembak, pasti pelurunya tidak akan pernah meleset dan mengenai targetnya.


Peluru kertas yang ia tembakan melesat kencang lurus mengarah ke depan dan raut wajah mereka menggambarkan bahwa pelurunya akan mengenai wajah tampan milik Daniel. Namun sayangnya Daniel mampu menangkap peluru itu menggunakan dua jarinya yang menjepit peluru kertas tersebut.


Semua yang mereka harapkan ternyata diluar ekspektasi yang mereka bayangkan, dan siswi itu langsung terkejut dengan memasang wajah kecewa akibat peluru kertas yang ia tembakan dapat di tangkap oleh Daniel dengan sangat mudah.


"Tidak mungkin" ucap siswi tersebut dan ia pun terduduk lemas di kursinya.


"Tembakan ini begitu lambat, bahkan aku bisa menangkapnya dengan mata tertutup" ucap Daniel dengan penuh keangkuhan.


"Sebaiknya lebih perdalam lagi ilmumu ini" timpal Daniel sambil mengembalikan peluru kertas tersebut dengan cara menyentil nya, namun kecepatannya jauh lebih cepat dari siswi yang menggunakan karet tadi dan sampai membuat sebuah papan triplek di belakangnya menjadi bolong akibat perbuatan Daniel barusan.


Di tengah-tengah hebohnya dalam kelas tersebut, tiba-tiba ada segerombolan siswa yang sepertinya bukan dari sekolah milik Joe, mendatangi sekolah tersebut dengan berbagai macam senjata seperti ingin mengajak tawuran pada para murid di sekolah milik Joe, bahkan satpam penjaga sekolah itu sampai tak sanggup menghadang mereka karena jumlah mereka yang terlalu banyak, jadi satpam itu hanya mengunci pintu gerbang dengan rapat-rapat.


"WOI HIROTO KELAUR KAU PENGECUT" teriak salah satu siswa yang berada di luar gerbang sambil memukul pagar sekolah itu menggunakan pemukul baseball.


"JANGAN JADI PECUNDANG YANG BERSEMBUNYI DIBAWAH KETIAK GURUMU!" teriak temannya menyambung.


"Mereka datang lagi!, dan sepertinya jumlah mereka lebih banyak dari seminggu yang lalu" ucap salah satu murid Daniel mengintip dari balik jendela.


"Tcih!. Dasar hama pengganggu" decak Hiroto bangkit dari kursinya dan berniat keluar dari kelas untuk menghadapi para siswa-siswa yang menantangnya.


"Tunggu Hiroto-San!. Ingat kata Pak kepala sekolah, jika kau berkelahi lagi, maka kau akan di keluarkan dari sekolah ini" ucap salah satu siswi menahan tangannya agar Hiroto tidak keluar dari dalam kelas.


"Iya bener, kau sudah mendapatkan dua kali surat peringatan, jika kau mendapatkannya lagi, maka kau akan benar-benar di keluarkan dari sekolah ini" sambung teman kelasnya yang lain.


"Lepaskan aku Saki!!. Aku tidak peduli akan hal itu!" ucap Hiroto mencoba melepaskan tangan teman wanitanya dengan secara paksa.

__ADS_1


"Tapi..." ucapan Saki terhenti karena di potong oleh Hiroto.


"Aku tidak ingin kau dan teman yang lainnya terlibat. Aku akan membereskan mereka dengan tanganku sendiri, kalian jangan ada yang ikut campur" ucap Hiroto melepaskan tangan Saki yang menahannya.


"Kenapa kau selalu saja seperti itu Hiroto-San?!, kenapa kau selalu mengorbankan dirimu sendiri demi melindungi kami hah?!" tanya siswa sedikit emosi.


"Berisik!" jawab Hiroto ikut emosi.


"Kalian terlalu lemah, dan kalian hanya akan membebaniku saja jika kalian ikut denganku! PUAS?" timpal Hiroto dengan menekankan kata puas tersebut.


"Hiroto-San!" teriak temannya memanggil dan membuat Hiroto semakin emosi.


"Kau terlalu berisik Gunpei!" ucap Hiroto sedikit emosi dan berniat ingin memukul wajah teman yang meneriaki namanya barusan namun Daniel langsung menangkap tangan Hiroto dari belakang.


"Dasar bodoh!. Kau tidak menghargai perasaan teman-temanmu yang sangat peduli denganmu ya?!" tanya Daniel sambil terus menahan tangannya Hiroto dari belakang.


"Lepaskan aku Sensei!. Ini tidak ada hubungannya dengan Anda, aku akan menyelesaikan hama-hama itu dengan tanganku sendiri!" ucap Hiroto mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Daniel secara paksa.


"Tentu saja ini ada hubungannya denganku dasar bodoh!" jawab Daniel dengan nada dingin sambil terus menahan tangannya Hiroto.


"Kau dan orang-orang yang berada di kelas maupun sekolah ini adalah murid-murid kami. Tentu saja kalian sudah menjadi tanggung jawab kami para Guru-guru di sekolah ini bodoh!" timpal Daniel.


"Sudah kubilang, mereka mencari ku Sensei!. Tolong anda jangan ikut campur tentang masalah ini!" ucap Hiroto sedikit emosi.


Hiroto terus mencoba memberontak dan berusaha agar tangannya bisa lepas dari genggaman Daniel, namun semua usahanya gagal karena tenaga yang ia miliki sangat berbeda jauh dari Daniel.


Karena muridnya itu semakin memberontak dan terus menarik tangannya agar terlepas dari Daniel, membuat Daniel sedikit geram. Mau tak mau Daniel harus membuat Hiroto tak sadarkan diri yaitu dengan cara memukul tengkuk lehernya agar Hiroto pingsan. Setelah Hiroto pingsan, Daniel menyerahkan tubuh Hiroto pada teman-teman kelasnya agar mereka menjaga Hiroto.


"Kalian urus murid bodohku ini, aku akan menangani mereka" ucap Daniel menyerahkan Hiroto yang tak sadarkan diri pada teman-temannya.


"Tapi Sensei, Sensei hanya seorang diri, sedangkan mereka sepertinya lebih dari 10 orang" ucap Saki mengkhawatirkan Daniel yang akan menghadapi para murid-murid yang membuat kekacauan di luar sekolah milik Joe.


"Kalian tenang saja, lebih baik kalian menjaga teman kalian yang bodoh ini, jangan mengkhawatirkan diriku. Aku akan selamat dan akan tetap menjadi wali kelas kalian semua yang terlalu bodoh ini" ucap Daniel tersenyum dan melangkah menuju keluar.


Setelah beberapa langkah dan ia sudah mendekati pintu keluar, kemudian Daniel berhenti sejenak lalu ia berkata tanpa berbalik badan "Karena masih banyak ilmu yang akan ku ajarkan pada kalian para murid-murid ku yang bodoh di kelas ini" lalu Daniel keluar dari kelasnya untuk menghadapi para murid-murid yang membuat keributan di sekolah tempat ia mengajar.

__ADS_1


__ADS_2