
Novi yang melihat Indra dari balik pintu utama menjadi geram dan ingin segera masuk untuk menembaki seluruh orang yang beda disana. Namun saat ingin melangkah, Daniel menahannya.
"Kau mau apa?!, sabar, tunggu isyarat dari yang lainnya"
Novi menghela nafasnya
"huft. Maaf aku sampai tak mengontrol emosi saat melihat bajingan itu"
"Ingat!. Kamu jangan gegabah, Leny menitipkan mu padaku"
Novi mengangguk dan mengambil nafas panjang. Mereka menunggu isyarat dari Fauzi. Rian terus memantau mereka semua, karena Daniel telah membunuh salah satu dari mereka, Hasan dan lainnya menjadi lebih waspada. Hasan melihat keseluruhan sudut ruangan.
"Cepat saling mengawasi" teriak Hasan
"Bajingan itu menjadi waspada" Daniel berdecak
Leo menyalakan sebatang rokok dan dengan santai menghisapnya. Sembari mengawasi, Leo menangkap salah satu anak buahnya Hasan yang berjalan kearahnya. Dengan mudahnya dia mematahkan leher mangsanya.
Daniel menatap Rian dan memberi isyarat untuk melemparkan gas air mata agar indera penglihatan mereka menjadi kacau untuk sementara. Rian mengambil gas air mata yang di pegang, dengan tawa psikopatnya dia langsung melemparkan gas itu dan langsung mengeluarkan asap yang sangat perih di mata.
Daniel melemparkan pisaunya lagi. Lemparan Daniel tidak ada yang meleset, pisau yang dilemparkan Daniel tepat mengenai kelima jantung anak buah Hasan yang berada disana. Hasan dan yang lainnya terus mengucek matanya, mereka tidak sadar kalau kelima temannya sudah gugur lagi.
Fauzi masuk dari arah belakang dan memiting leher salah satu anak buahnya Hasan lalu menyeretnya kebelakang. Dengan ganas Fauzi menghabisi orang itu, setelah beres, Fauzi bersembunyi lagi.
Novi membuka mulut dia sangat terkejut melihat Daniel dan rekannya sangat ahli dalam berperang. Meski hanya lima orang, mereka bisa mengimbangi pihak musuh. Daniel menyadarkan Novi yang termenung dan mengajaknya masuk untuk menyerang.
Novi berjalan perlahan di belakang Daniel, dia melihat sosok Daniel dari belakang. Dia sangat kagum melihat Daniel yang begitu berwibawa.
"Sudah tampan, tubuh atletis, berwibawa. Leny kau sangat beruntung memiliki suami seperti Daniel" batin Novi
Perlahan indera penglihatan mereka mulai pulih. Mereka langsung terkejut saat melihat temannya sudah banyak yang gugur. Hasan semakin murkah melihat anak buahnya sudah banyak yang tewas.
"Hoy! keluar kau!"
Daniel melangkah dan berkata
"Haha. Halo perkumpulan orang sampah"
Hasan menaikan alisnya dan berkata
"Ternyata kau!. Ingin apa ha?!"
Daniel tersenyum kecut dan menjawab
__ADS_1
"Hanya ingin berkunjung"
Hasan membentak
"Begini caramu berkunjung?!"
Daniel menepuk jidatnya dan berkata
"Aduh maaf tanganku nakal"
"Haha" Daniel tertawa lalu melompat dan menerjang Hasan
Hasan yang memiliki ilmu beladiri langsung menangkis tendangan dari Daniel dengan kedua tangannya, namun dia terseret mundur beberapa meter. Novi yang melihat Daniel beraksi, dia sama sekali tidak mengedipkan mata.
Daniel mengarahkan pukulannya ke arah Hasan, namun Hasan juga bisa menangkisnya. Daniel semakin liar dan terus menyerang Hasan, dan Hasan tidak ada kesempatan untuk membalas pukulan dari Daniel. Daniel tersenyum kecut sambil memukuli Hasan yang terus bertahan.
"Haha. ayo kita bermain-main" ejek Daniel
Leo hanya menggeleng
"Dasar anakku, tidak bisa tenang jika bertarung"
Lama kelamaan Hasan tidak mampu jika terus menerus menahan pukulan dari Daniel. Daniel terus saja melancarkan pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan. Lalu Daniel melakukan tendangan salto, tendangan itu mengenai tepat di atas ubun-ubun kepala Hasan.
Indra tersenyum mesum menatap Novi. Karena Novi tidak kalah cantik dari Leny, namun sifatnya berbanding jauh dari Leny. Leny yang sangat feminim dan Novi yang begitu tomboi. Novi berjalan menuju kearah Indra.
Indra mengacungkan jari tengah ke arah Novi, dan Novi membalasnya dengan meludah. Indra yang sombong di karenakan bisa sedikit beladiri, ia tidak tau jika Novi sudah mati-matian menahan rasa sakit pada fisik indahnya demi menangkapnya.
Novi melompat dan memberi tendangan kearah Indra, Indra yang belum siap terpaksa menelan tendangan keras dari Novi dan membuatnya tersungkur. Dia menahan sakit di bagian perut karena tendangan dari Novi.
"Bagaimana? enak?, untung bukan batangmu yang kutendang"
Indra menatap Novi dengan geram, dia memukul lantai dan langsung berdiri. Novi langsung memasang kuda-kuda bersiap untuk menghadapi si kancil. Indra mengeratkan giginya dan melangkah maju kearah Novi.
Hasan yang masih kesakitan karena menerima tendangan dari Daniel, perlahan berdiri. Dia melihat keseliling dan perlahan melangkah mundur lalu berlari ke balkon atas. Daniel mengejarnya dan saat sampai Hasan sudah memegang sebuah pistol yang sudah ia sodorkan kearah Daniel.
Dengan senyuman Daniel berkata
"Untuk apa kau mengeluarkan mainan itu?!"
Hasan berkata dengan geram dan terus mengarahkan pistolnya ke Daniel
"Jika kau mendekat, maka peluru pistol ini akan tepat mendarat kekepalamu!"
__ADS_1
Daniel memasukkan tangannya kedalam saku seakan tidak takut atas ancaman Hasan. Dia justru mengeluarkan bungkus rokok dan mengambil sebatang lalu menghisapnya.
Daniel menoleh ke arah Hasan
"Tembak saja!, peluru itu tidak akan menembusku"
Hasan semakin geram dan berkata
"Kau sangat sombong!, jika kau mati maka dendam sepupu dan para anak buahku bisa terbayarkan!"
Daniel tertawa dan memandang Hasan dengan pandangan psikopat
"Hebat sekali kalau berbicara!, seakan tidak melakukan kesalahan!"
Daniel membuang rokoknya dan langsung berlari kearah Hasan. Belum sempat Hasan menekan pelatuknya. Daniel langsung merebutnya dan membuangnya kebawah. Daniel dan Hasan terus melakukan perlawan satu sama lain, sudah banyak jurus yang mereka keluarkan namun belum ada yang menang.
"Hebat juga kau bisa mengimbangi" senyum Daniel
Nafas Hasan yang sudah hampir habis karena mengimbangi Daniel yang semakin lama semakin liar. Tubuhnya lemas karena hampir kehabisan nafas, dan Hasan terus menatap Daniel. Dia sangat heran mengapa dia tidak kelelahan?, sebesar apa ilmu yang dimiliki manusia itu?!. Hanya itu yang ada di pikiran Hasan.
Rian dan Fauzi terus bermain-main dengan para bawahan Hasan. Fauzi yang mengeluh karena tidak menemukan lawan yang bisa mengimbanginya.
"Ha!. Bosan kak, tidak ada yang kuat di sini"
Rian menguap dan menjawab
"Sudah lakukan saja, biarkan bos mereka menerima amarah Daniel"
Disisi lain Novi terus berjuang menghadapi Indra. Karena ilmu beladiri yang dimiliki Indra lebih unggul dari Novi. Tapi perbandingan itu tidak membuat Novi goyah, dia terus berusaha sekuat tenaga untuk segera mengalahkan dan menangkap Indra. Meski Novi bisa melawan dan membalas jurus dari Indra, namun karena berbeda gender, jadi tenaga yang dimiliki Novi tidak sekuat Indra
"Aku harus menang!, aku tidak akan menyia-nyiakan pelajaran yang diberikan oleh Daniel dan Wulan. Aku juga harus membalaskan dendam para rekanku yang gugur karena mereka, aku tak ingin hanya menjadi beban dan terus di lindungi" batin Novi
Di tempat pertarungan Daniel dan Hasan ternyata tidak kalah panasnya. Daniel yang hanya memainkan Hasan yang telah sekuat tenaga melawan Daniel. Tiba-tiba ponsel milik Daniel berdering dan ada pesan masuk, Daniel membukanya, ternyata pesan dari istri tercinta
📨suamiku yang sangat tampan, jika sudah selesai dengan urusanmu, tolong belikan aku 1 porsi sate. Anakmu sepertinya ingin makan sate. love you my husband📨
Daniel menggelengkan kepala dan tersenyum membaca pesan dari sang istri
"Dasar istriku, biasanya dia sangat risau kalau aku tengah bertarung. Ini justru malah mengidam"
Hasan menatap Daniel yang tersenyum sambil menatap layar ponselnya, semakin geram karena seperti tidak di anggap oleh Daniel
"Hey!, kau ingin bertarung atau membalas pesan wanitamu?!"
__ADS_1