
Daniel pergi dengan perasaan bahagia dan Leny memberikan lambayan kasih sayang kepada suaminya. Ketika dia berbalik menuju ke dalam rumah, tiba-tiba Wulan datang dan langsung berlari menuju Leny dan memeluknya.
"Ih. Kamu adik kakak yang nakal" (*mencubit pipi Wulan*)
Wulan terus memeluk Leny dan berkata manja
"Aku sangat merindukanmu kakak"
Leny tersenyum dan berkata
"Iya kakak juga sangat merindukan kamu sayang" (*menarik hidung Wulan*)
Leny mengajak Wulan untuk masuk kerumah. Wulan terus melihat sekeliling rumah Daniel dan bertanya
"Rumah sebesar ini kakak hanya tinggal berdua?"
Leny mengangguk dan menjawab
"Iya, tapi sebentar lagi kan keponakan kamu akan lahir"
Wulan tersenyum dan bertanya lagi
"Oiya kak, kira-kira anak kalian lelaki atau perempuan?"
Leny mengelus perutnya dan berkata
"Kami belum tahu, karena masih berusia 1 bulan"
Wulan mengangguk dan Leny mengajak Wulan duduk di ruangan. Ketika menuju sofa, Wulan melihat sebuah foto pernikahan Leny dan Daniel tertempel di dinding yang begitu besar. Tiba-tiba wajah Wulan menjadi sedih dan Leny bingung mengapa adiknya menjadi sedih begitu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leny
Wulan kaget dan menatap Leny
"Eh. Tidak apa kok kak, hehe"
Leny kembali bertanya
"Apa kamu merindukan ayah dan ibu mertuaku?"
(*Wulan mengangguk*)
Leny tersenyum dan memeluk Wulan
"Kamu tenang saja, nanti aku akan memberitahu ayah dan ibu kalau kamu disini. Aku juga akan meminta papa dan mama untuk kemari"
Wulan tersenyum dan mengajak Leny untuk duduk. Lalu Leny mengeluarkan ponselnya dan menelpon kedua orangtuanya dan orangtua Daniel untuk segera datang kerumahnya karena ada seseorang yang ingin bertemu. Lima belas menit kemudian mereka berempat tiba di rumah Daniel, ketika Rani membuka pintu, ternyata Wulan sudah berdiri di balik pintu itu dan langsung membuat Rani terkejut
Wulan tersenyum dan berkata
"Ibu!. Apa ibu masih mengenaliku?"
Awalnya Rani bingung dan terus memandangi wajah Wulan dari atas sampai bawah. Leo dan kedua orangtua Leny juga terus menatap Wulan tanpa berkedip. Kemudian Rani mengingatnya dan langsung memeluk Wulan
"Ah. Ternyata kamu sayang" (*memeluk Wulan*)
Leo masih bingung dan bertanya-tanya
"Ada apa ini? dia siapa istriku?"
Rani melepaskan pelukannya dan berkata
__ADS_1
"Ih dasar pikun, ini anak kita, Wulan!"
Leo terkejut dan ikut memeluk Wulan
"Oh ternyata anak gadis kita"
Wulan bahagia karena sudah lama tidak bertemu dengan ayah dan ibunya. Dia menangis dalam pelukan Rani dan Leo.
Akan tetapi Galuh dan Yuni bingung dengan apa yang terjadi. Dia bertanya kepada Leny siapa wanita yang ada di rumah mereka
"Sayang, siapa wanita ini? mengapa mertua kamu sampai menangis saat memeluknya"
Leny tersenyum dan berbisik kepada Yuni
"Nanti akan aku jelaskan ma, biarkan saja mereka"
Yuni mengangguk dan berkata
"Baiklah sayang mama mengerti"
Leny memegang pundak Wulan dan berkata
"Sudah-sudah, nanti lagi peluk-pelukannya, sebaiknya kita masuk kedalam"
Mereka semua masuk kedalam rumah dan Rani masih terus menggandeng tangan Wulan. Yuni yang bingung siapa wanita yang terus Rani peluk itu, dia bertanya kepada Rani
"Jeng, siapa gadis cantik itu? mengapa kamu langsung menangis saat melihatnya"
Rani tersenyum dan menjawab
"Oh ini Wulandari, adik Daniel, dia sudah kami angkat menjadi anak kami"
Yuni mengangguk dan kembali bertanya
Leny memotong pembicaraan mereka dan menjawabnya
"Daniel pernah bercerita tentang masa kecil Wulan ma. Ketika kecil, nasib Wulan tidak jauh berbeda dari Daniel, kedua orangtuanya meninggal ketika dia berusia 3 tahun. Penyebabnya adalah di bunuh oleh kelompok pembunuh bayaran"
Yuni terkejut dan menatap Wulan dengan wajah sedih
"Benarkah?, bolehkan mama memeluk kamu sayang?"
Wulan tersenyum dan mengangguk. Lalu dia menghampiri Yuni dan memeluknya, Yuni langsung meneteskan air matanya karena mendengar cerita masa lalu Wulan
"Kamu wanita yang kuat sayang, mama terharu"
Wulan menjawab
"Hehe tidak kok tante, aku juga wanita biasa"
Yuni melepaskan pelukannya dan berkata
"Tidak sayang, kamu juga anak mama jadi panggil mama, kan kamu adik ipar Leny"
Wulan tersenyum dan menjawab
"Iya mama, aku senang bisa jadi bagian dari keluarga kalian"
Lalu Leny berkata kalau dia ingin Wulan tinggal bersamanya dirumah, karena dia tidak memiliki teman ketika Daniel bekerja
Rani berkata
__ADS_1
"Iya ibu juga setuju, tapi kamu harus meminta izin dari Daniel. Meski Wulan ini adiknya, tapi kamu harus meminta persetujuan dari suami kamu dulu"
Leny mengangguk dan berkata
"Iya bu, nanti setelah Daniel sampai rumah Leny akan membicarakannya"
Wulan hanya diam saja, dia hanya pasrah saja, jika Daniel setuju dia akan sangat bahagia, jika Daniel menolaknya maka dia akan kembali ke Jepang dan tinggal bersama pamannya lagi
Sore hari
Waktu menunjukkan pukul 17.12, sudah waktunya para pekerja untuk kembali kerumah mereka. Riski mengajak Daniel untuk pulang.
"Tok tok" (*suara ketukan pintu*)
Daniel berkata
"Masuk"
Riski membuka pintu ruangan Daniel dan berkata
"Tuan ceo kita yg terhormat, ini sudah jam pulang kerja, ayo kita pulang. Kasian pasti nyonya Syahputra sudah menanti kepulangan suaminya"
Daniel menjawab
"Haha. Tentu saja istriku sudah menungguku. Makanya kamu segera menikah, agar ada yang menunggu kepulangan mu dirumah"
Riski menjawab dengan nada sedikit kesal
"Ah kamu ini selalu saja menekan agar aku segera menikahi Windy"
Daniel tertawa dan menepuk pundak Riski
"Haha. Kalau tidak begitu, Leny yang akan memarahi kamu. Emangnya kamu mau kena omelan singa betina?"
Riski menjawab
"Haha. Lebih baik aku di tekan oleh kamu daripada oleh istrimu"
kemudian Daniel merangkul Riski untuk pulang. Sesampainya Daniel di rumah, ternyata Leny dan Wulan sedang berada di dapur, lalu Daniel menggoda mereka.
"Masak yang enak ya ibu-ibu"
Leny menjawab
"Tenang saja suamiku, kamu duduk tenang saja di sana, biarkan dua bidadari ini yang memasaknya"
Daniel pergi ke kamar dan membersihkan diri dari keringat. Setelah selesai mandi Daniel menuju ke meja makan untuk menyantap hasil masakan istri dan adiknya itu.
Melihat semua hidangan yang ada di meja makan, membuat cacing di perut Daniel menjadi tawuran. Air liurnya sudah tidak bisa menahan godaan dari semua makanan di depan matanya
Leny mengambilkan piring untuk Daniel dan melayaninya dengan penuh kasih dan cinta. Wulan yang melihat kemesraan kakaknya merasa sangat bahagia dan tersenyum sendiri
Daniel menggoda Wulan
"Adik, jangan senyum-senyum saja, ayo makan. Memangnya dengan senyuman bisa membuat perut kenyang?"
Wulan menjawab dengan wajah cemberut
"Ih kakak ini tidak bisa lihat adiknya bahagia"
Daniel bertanya
__ADS_1
"Kamu bahagia karena apa adikku?, apa jangan-jangan kamu sudah mempunyai seorang kekasih?"