Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SELAMAT KARENA SALAH PAHAM


__ADS_3

Dengan wajah geram Daniel menuju ke arah yang sudah di tunjuk oleh Kevin tadi. Kevin juga nampak sangat emosi karena ia takut kalau Wulan sampai terluka.


Mereka berempat tak ingin membuang waktu, mengingat kalau Wulan dalam keadaan terdesak karena ia harus melindungi pria yang sedang ia bawa lari dari pengerjaan para rentenir yang terus mengejar mereka di belakang.


Wulan terus berlari membawa pria tersebut, dan para rentenir itu masih terus mengejar mereka berdua hingga sampai Wulan sudah terpojok tak bisa berlari kemana-mana lagi.


"Sial!, kita salah jalan" decak Wulan kesal dan berniat membawa pria itu berputar arah namun para rentenir itu sudah mengepung mereka berdua.


"Hahaha!. Sekarang kalian berdua sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi" ucap bos mereka.


"Sebaiknya kau serahkan pria itu dan kau ikut aku" timpal pria itu tersenyum bejat.


"Ingat umur pak tua!. Melihat kau telanjang saja aku merasa ingin muntah" jawab Wulan mengejek dan membuat bos rentenir itu menjadi emosi.


"Jangan marah-marah, nanti penyakit jantungmu kambuh" timpal Wulan mengejek.


"Dasar wanita sampah!" ucap pria itu emosi, dan ia langsung memerintahkan para anak buahnya untuk menyerang Wulan.


Di sisi lain Leny yang baru selesai mandi, ia terlihat sangat kebingungan karena suami tampannya tidak berada di dalam kamar dan meninggalkan sang putra yang sedang tertidur pulas di ranjangnya.


"Kemana suamiku?, kenapa tidak ada di kamar?" gumam Leny bertanya-tanya.


"Malah di tinggal begini anaknya" timpalnya sedikit kesal.


Lalu Leny mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sang suami. Akan tetapi sudah beberapa kali ia melakukan panggilan telepon, Daniel tak juga mengangkatnya hingga membuat Leny semakin kesal namun ia juga merasa khawatir pada sang suami yang tak ada kabar.


"Kamu kemana sih suamiku?!" gumam Leny mencoba menelpon Daniel lagi, namun Daniel juga tak menjawabnya.


Merasa kesal bercampur khawatir, Leny pergi keluar menuju ke kamar Ayu. Sesampainya di sana, Ayu juga nampak kebingungan mencari keberadaan suaminya.


"Apa suami kamu tidak ada di kamar juga?" tanya Leny.


"Tidak ada Kakak ipar. Aku sudah berulang kali menelponnya, tapi tidak ada respon darinya" jawab Ayu menggeleng.


"Apa suami kamu juga tidak ada di kamar Kak?" tanya Ayu balik, dan di jawab dengan hal yang sama seperti kata Ayu tadi.


"Aku akan ke kamar Kevin" ucap Leny dan langsung pergi menuju ke kamar Kevin.


Sesampainya di depan kamar, Leny langsung mengetuk pintu kamar Kevin namun sekian banyak kalinya ia mengetuk, namun tak ada jawaban dari adiknya itu.


"Kemana mereka sih?!" ucap Leny menggerutu.


Pada saat Leny berdiri didepan pintu kamar Kevin, tiba-tiba Chelsea lewat dan langsung di hentikan oleh Leny. Leny berharap kalau Chelsea tau keberadaan Daniel serta yang lainnya.

__ADS_1


"Chelsea, apa kamu bersama Alvin?" tanya Leny.


"Tidak ada Leny. Bahkan Wulan juga tidak ada di kamar" jawab Chelsea dan membuat Leny semakin khawatir karena mengetahui kalau Adik gadisnya tidak ada di kamar.


"Apa?!. Apa dia ada memberi pesan padamu?, kemana dia pergi?" Leny bertanya-tanya karena begitu khawatir.


"Sudah dari pagi tadi dia tidak ada di kamar. Dia juga tidak memberi tau akan pergi kemana. Dia hanya berkata ingin berjalan-jalan saja, namun sampai sekarang tidak kembali, bahkan para lelaki juga tidak ada" jawab Chelsea menjelaskan.


"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan kepergian mereka" ucap Leny menebak.


"Kenapa suamiku tidak memberi tau padaku?!" timpalnya bertanya-tanya.


"Mungkin dia tak ingin membuat kamu sampai khawatir" ucap Chelsea menjawab.


"Yaudah, kamu tenang saja. Percayalah pada suami kamu. Pasti mereka akan baik-baik saja kok" timpal Chelsea menenangkan Leny dari prasangka buruk.


________________________________


Setelah mendengar perintah dari sang bos, para anak buahnya langsung berlari menodongkan pisaunya untuk menyerang Wulan yang sudah terpojok. Makin tiba-tiba sebuah kaleng terbang melayang mengenai kepala bagian belakang si bos rentenir itu, hingga mereka semua terhenti dan langsung berbalik ke belakang dimana kaleng itu berasal.


"Jadi kalian semua pelaku penculikan itu?!" tanya Kevin geram.


"Siapa kalian?!, berani sekali menyerang bos kami?!" tanya salah satu dari mereka.


"Pria itu?" tanya si bos rentenir itu menunjuk Daniel.


"Pedang yang setara dengan tinggi manusia, topeng dengan noda darah di bagian matanya. Jangan-jangan dia adalah pria nomor satu di Asia, atau Akai raion ( singa merah )" timpal pria itu menelan ludahnya secara kasar.


"A...apa yang membuat orang hebat seperti anda be..berada di sini?" tanya salah satu dari anak buah rentenir itu.


"Apa kau lihat wanita cantik di belakang kalian itu?!, dan apa kalian tau siapa dia hah?!" tanya Kevin kesal.


Lalu mereka semua menoleh ke belakang yang dimana ada Wulan yang sudah bersilang dada menatap dingin ke arah mereka semua.


"Ya!. Dia adalah salah satu anggota keluarga kami, dan dia juga adalah Adik kesayangan dari pria yang kalian sebut sebagai Akai raion ini!" ucap Kevin emosi.


Mendengar perkataan barusan, sontak membuat mereka semua menjadi berkeringat dingin karena telah berani berurusan dengan sosok wanita yang berdiri di depan mereka.


"Ma.. maaf kan kami tu..tuan, ka..kami tidak tau kalau wanita itu adalah adik anda" ucap bos rentenir itu ketakutan. Namun Daniel hanya diam saja dan memasang wajah yang sangat menyeramkan dari balik topengnya.


"Se.. sebaiknya kita pergi dari sini, a..aku masih sayang nyawa" perintah dari pria itu.


Namun pada saat mereka ingin kabur, tiba-tiba dengan cepat Daniel sudah berada di depan mereka dan ia langsung memukul leher salah satu dari mereka menggunakan ujung pegangan pedang miliknya hingga membuatnya terjauh tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kalian pikir, kalian bisa pergi begitu saja dariku?!" tanya Daniel dengan nada dingin.


"Setelah apa yang sudah kalian lakukan pada Adikku?!" timpalnya.


"Se.. sebenarnya saya tidak ada urusan dengan Adik anda. Saya hanya membutuhkan pria yang ada di belakangnya saja" jawab bos rentenir itu ketakutan.


"Penculik tetaplah penculik!" ucap Daniel tidak memperdulikan alasan dari pria itu.


"Pe... penculikan?" ucap pria itu bertanya.


"Saya sama sekali tidak menculik Adik anda tuan. Saya justru menemukan Adik anda sedang berduaan di sebuah gudang kosong" jawab pria itu menjelaskan.


"Lalu kenapa kau mengejar mereka?!, kenapa kau bisa menemukan mereka berdua di sana?!" tanya Daniel.


"Pria itu memiliki hutang pada saya, jadi saya memasangkan sebuah alat pelacak di lehernya, jadi saya bisa menemukan dia. Tapi saya tidak tau kalau ada Adik anda juga di sana" jawab rentenir itu.


"Apakah itu benar?!" tanya Daniel pada pria yang sedang berdiri di belakang Wulan.


"I...iya tuan. Tapi sebenarnya hutang-hutang saya sudah lunas semuanya. Akan tetapi mereka terus mengejar saya karena ada bunga yang harus di lunasi" jawab pria itu ketakutan.


"Padahal semua yang mereka ambil sudah lebih 2 kali lipat dari hutang yang dia berikan pada saya. Sampai seluruh hartanya saya habis pun dia tetap mengatakan masih ada kekurangan" timpalnya menjelaskan.


"Berapa kekurangannya?" tanya Daniel lagi.


"30juta" jawab pria itu menunduk.


Lalu Daniel menatap pria itu lagi dan membuat pria itu menjadi semakin ketakutan mendapatkan tatapan dari Daniel. Meskipun Daniel sedang menggunakan topengnya, tapi pria itu tau kalau wajah Daniel sangat menyeramkan.


"Hey binatang!" tegur Daniel dan membuat pria itu terkejut ketakutan.


"Kau menekan orang-orang dan membuatnya sampai menderita dengan menggunakan kekuasaan sampah mu ini?!. Lalu bagaimana kalau aku yang menggunakan kekuasaan ku untuk membalaskan dendam dari orang-orang yang telah kau tindas hah?!" tanya Daniel sangat geram.


"A..a...ampun tuan, sa..saya khilaf" ucap pria itu ketakutan sambil memeluk kaki Daniel.


"Giliran sudah terperangkap baru merasa kalau khilaf. Selama ini kemana aja?!" ejek Wulan.


"Kali ini kau ku ampuni!. Jika kau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ku berikan, maka kepalamu akan merasakan tebasan dari pedang ini!" ucap Daniel mengancam.


"Dan satu lagi!. Cepat kau lepaskan alat sampah itu dari pria tersebut, lalu kau boleh pergi!" timpal Daniel.


Dengan buru-buru dan tangan yang gemetaran pria itu menuruti perintah dari Daniel. Setelah alat pelacak itu terlepas, Daniel langsung menyuruh para rentenir itu untuk pergi darinya.


"Pergi dari sini! jangan nampak kan wajahmu lagi di hadapanku!" ucap Daniel memerintah dan mereka semua langsung lari ketakutan meninggalkan Daniel serta yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2