
Di bawah rintikan hujan yang deras, saudara-saudaranya Daniel sangat mengkhawatirkan keadaan Daniel yang melemah karena pertarungan mereka tadi.
Daniel yang masih tergeletak di pangkuan pahanya Dion terlihat seperti orang linglung setelah tersadar dari mimpi yang ia alami tadi.
Wulan juga masih terus menangis sambil memeluk Daniel. Rasa khawatir mereka yang begitu besar terlihat dari mimik wajah para saudara Daniel.
"Kamu baik-baik saja Adikku?" tanya Rian khawatir.
"Apa yang terjadi Kak?, kenapa tiba-tiba kamu berteriak memanggil Mama?" sambung Dion bertanya namun Daniel hanya terdiam dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Jawab Kak!, jangan buat kami semakin khawatir" ucap Wulan yang terus menangis menatap wajah Daniel yang terlihat pucat.
Daniel berusaha untuk bangkit dari tempat ia terkapar namun masih terlihat tak berdaya karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya tadi. Jadi ia di bantu oleh Dion untuk duduk.
"A...aku ti...tidak apa-apa" jawab Daniel lemas terbata-bata.
Setelah ia menjawab pertanyaan dari saudara-saudaranya yang merasa khawatir, tiba-tiba Daniel memuntahkan darah dan membuat mereka semakin khawatir.
"Kak?!" mereka semua terkejut melihat Daniel yang terus muntah darah.
"Sebaiknya kita harus kembali, Daniel harus cepat-cepat di rawat!" ucap Rian yang merasa semakin khawatir.
"Benar!. Lagi pula kita juga sudah memenangkan pertarungan ini" sambung Fauzi.
Rian dan Kevin membantu Daniel bangkit lalu memapahnya menuju ke dalam mobilnya. Seluruh bawahannya Daniel sangat mengkhawatirkan keadaan dari tuan muda mereka itu. Terutama Takaoka yang merasa sedih melihat sosok pria panutannya mengalami luka separah itu.
"Apa tuan muda akan baik-baik saja?" tanya Takaoka khawatir.
"Semoga tuan muda baik-baik saja. Karena dia sudah terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya, dan bahkan sudah melebihi batas" sambung Yosuke.
"Sebaiknya kita doakan saja, semoga tuan muda tidak mengalami luka dalam yang serius" ucap Banba merasa risau.
"Aku harap Alvin si tangan ajaib bisa menyembuhkan luka yang di alami oleh tuan muda" ucap Mizuki menyambung.
__ADS_1
Kevin dan Rian berjalan sambil memapah tubuh Daniel yang semakin melemah. Sedangkan Fauzi dan Takaoka juga memapah Dion yang mengalami cidera pada punggungnya.
Hujan juga perlahan mulai reda, matahari sore mulai bersinar di temani oleh pelangi yang indah menemani jalan mereka kembali ke hotel untuk segera bisa memberikan Daniel dan Dion perawatan ekstra.
"Pelan-pelan" ucap Rian berusaha memasukkan tubuh Daniel kedalam mobilnya.
"Kak!" rengek wulan menangis melihat kedua Kakak yang sangat ia sayangi tengah mengalami luka.
Jasmine merangkul Wulan agar Wulan bisa merasa lebih tenang dan tidak bersedih lagi karena kedua Kakak tampannya yang tengah mengalami luka.
"Kamu jangan menangis terus dek, kami baik-baik saja kok" ucap Dion tersenyum paksa karena harus menahan rasa denyut pada panggungnya.
"Kak Daniel juga bukan sosok pria yang lemah, dia pasti baik-baik saja dan tidak mengalami luka yang sangat serius" sambungnya tersenyum manis menatap sang Adik yang masih bersedih.
"Jika saja Kakak tidak melindungi ku, pasti Kakak dan Kak Daniel tidak akan mengalami luka seperti ini!" ucap Wulan menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku ini hanya bisa menjadi beban untuk kalian Kak" rengek nya menangis senggugukan.
"Kamu itu Adikku, sudah sepantasnya bagi seorang Kakak untuk melindungi Adiknya dari bahaya yang datang" sambung Fauzi menjelaskan.
Setelah mereka semua berada di dalam mobil, Daniel serta keluarganya langsung pergi dari tempat pertarungan mereka menuju ke hotel untuk segera memberikan perawatan pada kedua pria tampan yang kembar itu.
Di tengah perjalanan, Daniel hanya terduduk lemas dan lama kelamaan matanya mulai terpejam lagi.
Tiba-tiba Daniel mengigau lagi dan terus memanggil-manggil kedua orang tuanya yang sudah puluhan tahun meninggal dunia.
"Papa, Mama! " panggil terus menerus Daniel yang masih dalam keadaan mata terpejam. Hingga membuat mereka semakin khawatir.
Rian yang bertugas mengemudi mobil, sesekali menatap ke arah Daniel yang tak sadarkan diri dalam dekapannya Wulan.
" Papa, Mama! " gumam Daniel terus-terusan memanggil kedua orang tua kandungnya.
Mimpi yang sedang di alami oleh Daniel membuat mereka semua semakin mengkhawatirkan keadaan dari Daniel karena pria tampan itu terus saja memanggil memanggil-manggil kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kak, sabar ya, yang kuat, sebentar lagi kita sampai hotel kok" ucap Wulan sembari mengelus kepala sang Kakak yang tengah pingsan dan mengalami mimpi mimpi yang begitu berat.
Rian semakin mempercepat laju mobilnya berharap mereka semua bisa segera sampai di hotel dan langsung memberikan sebuah pengobatan pada Daniel dan juga Dion.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Rian sudah sampai di sebuah gedung khusus untuk kendaraan mereka.
Setelah mobil terparkir rapih di tempatnya, Rian dan Kevin langsung menghampiri Daniel yang sudah siuman dari pingsannya tadi serta di ikuti oleh Fauzi dan Takaoka yang tengah membopong tubuh Dion.
Dengan langkah yang hati-hati mereka membantu pria kembar itu berjalan menuju ke dalam hotel agar Alvin bisa segera merawat dan mengobati luka-luka yang di alami oleh Daniel dan juga Dion.
Sedangkan di dalam kamarnya Leny dan Daniel. Terlihat Leny yang asik melihat foto-foto masa-masa indah bersama keluarga kecilnya yang sampai detik ini masih terlihat begitu bahagia tanpa adanya keributan besar di antara mereka berdua.
Namun secara tiba-tiba hati dan pikiran terasa sedikit aneh karena tertuju pada sosok sang suami.
Damin juga tiba-tiba menangis tanpa sebab apa-apa. Leny yang tengah melamun langsung tersadar dan segera menggendong bayi tampannya itu untuk memberikan efek tenang.
"Apa kamu kepikiran Ayah ya sayang?" tanya Daniel sambil menggendong bayi tampannya itu.
"Iya Bunda juga tiba-tiba kepikiran Ayah kamu" timpalnya sambil menimang-nimang Damin agar sang putra bisa tenang dan diam dari tangisan.
"Yayah, Yayah, Yayah" panggil Damin terus-menerus dan masih dalam posisi menangis.
"Aduh sayang udah dong, jangan bikin Bunda ikut sedih" Leny panik dan terus menimang-nimang sang putra yang masih saja menangis memanggil sang Ayah.
Karena merasa semakin risau, akhirnya Leny membawa Damin keluar dari kamar dan akan menunggu sang suami pulang.
"Yaudah ayo kita tunggu Ayah kamu pulang sayang" ucap Leny melangkah keluar dari kamarnya.
"Ini juga sudah sore, seharusnya mereka semua sudah kembali dan membawa kemenangan" timpalnya merasa yakin kalau kelompok yang di pimpin oleh sang suami bakalan menang.
Leny berjalan menuju ke lobi hotel sambil menggendong sang putra. Mereka berdua menunggu kepulangan sang suami tampan itu.
Pada saat Leny baru sampai, matanya di buat terkejut karena melihat sang suami yang tengah di rangkul dan berjalan sangat lemah serta baju yang memiliki banyak noda darah, semakin membuat Leny berfikiran yang tidak-tidak pada apa yang sedang di alami oleh sang suami.
__ADS_1