
Daniel terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya tanpa ia sadari kalau putranya sudah duduk di ranjangnya dan terus memperhatikan sang Ayah yang terus saja berjalan seperti sebuah setrika pakaian. Bahkan Leny yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, Daniel masih tak menyadarinya juga.
Damin yang tengah duduk di ranjangnya, langsung tersenyum ketika melihat sang Ibunda yang ikut tersenyum menatapnya. Kemudian Damin meraih penghalang ranjangnya dan berusaha berdiri.
Leny tersenyum dan menghampiri Damin yang terus berusaha berdiri di atas ranjangnya. Ia merasa gemas melihat putranya yang semakin hari semakin pintar.
Kini Damin sudah berada di gendongannya Leny dan ia langsung di bawa ke kamar mandi oleh sang Ibunda agar Damin bisa segera mandi dan bermain dengan keluarga mereka yang sedang berkumpul di restoran hotel. Sedangkan Daniel masih juga belum menyadari kalau putranya sudah tak ada di atas ranjangnya.
Lalu Daniel menoleh ke arah ranjang sang putra. Matanya terbelak saat tau karena Damin sudah tidak ada di atas ranjangnya. Dengan sedikit panik ia mencari keberadaan putranya, ia takut kalau Damin sampai terjatuh dari atas tempat tidur dan Leny akan memarahi dirinya jika hal tersebut terjadi.
Ketika sedang bingung mencari keberadaan sang putra, tiba-tiba Leny keluar dari kamar mandi dengan menggendong putra tampan mereka dan Daniel hanya bisa membuang nafasnya lega ketika tau kalau putranya aman bersama sang istri.
"Ayah pikir kamu kemana sayang" ucap Daniel mengelus kepala Damin.
"Ya Ayah pun malah sibuk mondar-mandir sendiri. Sampai Damin hilang dari ranjangnya aja gak sadar" ucap Leny sambil meletakkan Damin di atas ranjang mereka.
"Hehehe. Maaf Honey" jawab Daniel cengengesan.
"Yaudah, Ayah mau menemui Kak Rian dan yang lainnya" timpal Daniel dan di anggukan oleh Leny.
Daniel keluar dari kamarnya dan segera menuju ke restoran hotel untuk menemui saudara-saudaranya serta membahas tentang grup Valkery yang sudah berani mencari masalah dengan keluarganya. Setelah Daniel duduk di meja bersama yang lainnya, mereka semua langsung membahas tentang grup Valkery itu.
__ADS_1
"Bagaimana?, apa kamu ingin perang melawan mereka?" tanya Rian memulai obrolan.
Daniel yang sedang menikmati secangkir kopinya hanya menggeleng saja. Lalu ia berkata "Lebih baik kita lakukan secara damai saja. Perang itu adalah pilihan terakhir jika mereka tidak ingin damai". Lalu Daniel meletakkan kopinya di atas meja.
"Tapi Kak, mereka yang sudah memulai bendera peperangan terlebih dahulu" sela Wulan protes.
"Aku masih begitu mengingatnya. Betapa syok Kak Leny karena kejadian waktu itu, aku tidak ingin ini selesai dengan damai Kak, aku mau mereka harus musnah!, aku ingin apa yang di rasakan oleh Kakakku, harus mereka rasakan 100 kali lipat" timpal Wulan geram.
"Kakak tau dek, kakak juga gak terima karena ada orang yang sudah berani membuat istri Kakak sampai seperti itu. Kakak marah, benci, dan ingin langsung memusnahkan semua orang yang ada di grup itu" jawab Daniel.
"Tapi, jika kita melakukan hal itu. Kakak takut akan lebih banyak lagi orang-orang seperti mereka yang akan terus berdatangan hanya karena dendam" timpal Daniel menjelaskan.
"Orang-orang seperti mereka tidak bisa di selesaikan secara damai Kak, pemusnahan adalah jalan satu-satunya" sambung Kevin menambahkan.
Daniel hanya diam saja, namun ia juga memikirkan apa yang di katakan oleh Adik-adiknya itu. Dalam hatinya juga merasa sangat ingin membalaskan perbuatan yang dilakukan oleh grup Valkery itu, namun dia sadar kalau dia sudah berkeluarga. Ia takut kalau karma mengenai istri atau putranya.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk mengobrol dengan pemimpin mereka. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini dengan damai" jawab Daniel dan membuat Adik-adiknya merasa sedikit kecewa karena mereka menginginkan perang, namun sang Kakak malah ingin damai.
"Tapi, jika mereka ingin perang!. Kita tidak boleh kalah!" timpal Daniel dan membuat mereka langsung ceria mendengarnya.
"Tentu saja kita pasti akan menang!. Kita ini 5 mesin pembunuh yang tak pernah ada kata sejarah kalah. Kita bisa menyelesaikan mereka dengan sangat mudah" jawab Fauzi semangat sedangkan Rian hanya tersenyum mengikuti apa yang di putuskan oleh Daniel.
__ADS_1
"Kapan kamu akan menemui pemimpin grup Valkery itu?" tanya Rian.
"Mungkin besok aku akan menemuinya dan berbicara dengannya" jawab Daniel sambil menyeruput kopinya.
"Apa perlu kami ikut dan langsung memusnahkan seluruh grup yang bernama Valkery itu?" sambung Fauzi bertanya.
"Tidak usah. Biarkan aku saja yang ke kantornya sendirian. Tujuanku ke sana hanya untuk berbicara secara damai, bukan untuk memulai perang" jawab Daniel.
"Lagi pula, di sana kantor miliknya, sebuah gedung untuk dia dan para karyawannya mencari rezeki. Banyak orang-orang yang tidak bersalah dan tidak tau apa-apa berada di tempat itu. Jika kita melakukan hal seperti di tempat tersebut, maka akan banyak orang-orang awam yang akan terluka, bahkan syok berat" timpalnya menjelaskan.
"Benar. Untuk saat ini kita percayakan saja pada pemimpin kita, jangan terlalu mengikuti emosi kalian. Aku juga merasa sangat marah ketika tau kalau ada orang yang berani mencoba melukai Adik ipar ku. Tapi kita semua juga tidak bisa berbuat gegabah" ucap Rian menambahkan.
"Oh iya Kevin. Apa kau sudah tau dimana letak markas grup Valkery itu?" tanya Rian baru sadar.
"Semua informasi yang di milikinya sudah ada di tangan kita Kak. Bahkan seluruh tempat persembunyian sudah kita temukan" jawab Kevin tersenyum.
"Memang sedikit membutuhkan waktu yang lumayan cukup lama untuk menggali semua informasi tentang sampah itu. Namun, setelah semua ku genggam, maka hal yang mudah bagi kita untuk menekannya agar dia tidak melawan lagi jika kita mengambil jalan damai, seperti apa yang di katakan oleh Kak Daniel tadi" timpal Kevin menjelaskan.
"Sebaiknya kalian beristirahat saja, agar tubuh kalian berdua menjadi lebih siap jika memang harus jalan peperangan yang akan menjawabnya nanti" ucap Daniel tersenyum.
Lalu Rian dan Fauzi menuruti perkataan Daniel tadi. Mengingat mereka juga yang baru sampai di negara sakura tersebut. Banyak tenaga yang termakan ketika mereka terbang ke negara itu. Jadi mereka harus mengistirahatkan tubuh mereka, agar jika memang di haruskan untuk berperang, maka tubuh mereka sudah siap menerimanya.
__ADS_1