Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
DENDAM YANG HARUS DI LAKUKAN


__ADS_3

Windy terdiam sejenak dan terus menatap Vinny dari atas sampai bawah. Ia masih tidak percaya kalau wanita berhijab yang berdiri didepannya itu adalah sahabatnya sewaktu sekolah dasar dulu.


"I..ini beneran kamu Vin?" tanya Windy seakan belum percaya.


"Ya bener dong, memangnya kamu pikir siapa?" tanya Leny menyambung.


"Kamu kenapa sih?. Ngeliat aku, seperti melihat hantu" tanya Vinny juga


"Lihat ini, kaki aku juga tidak melayang kan?" timpalnya.


"Hehe. Maaf-maaf, karena sudah terlalu lama tidak bertemu, aku jadi pangling" jawab Windy cengengesan.


"Mama, itu adiknya Rere ya?" tanya Rere tiba-tiba.


"Iya sayang, itu adik kamu" jawab Leny tersenyum.


"Anak gadis ini anak kamu Vin?" tanya Windy


"Iya, ini putriku" jawab Vinny sambil mengelus kepala Rere.


"Cantik banget ya" ucap Windy tersenyum menatap Rere.


"Tante, Rere mau lihat adik bayi, boleh?" pinta Rere dengan wajah imutnya yang polos.


"Boleh dong sayang" jawab Windy dan langsung berjongkok mendekati putranya ke arah Rere.


"Halo adik bayi. Nama kakak, Rere" ucap Rere tersenyum memperkenalkan diri.


"Oh iya, nama adiknya siapa Tante?" tanya Rere.


"Wildan Pratama Mulya" jawab Windy tersenyum


"Halo adik Wildan" sapa Rere lagi.


"Mama, sekarang adiknya Rere ada dua ya?" tanya Rere dengan raut wajah gembira.


"Iya sayang. Adik Damin dan adik Wildan" jawab Leny


"Hore, Rere punya adik" ucap Rere kegirangan, dan mereka semua tersenyum melihat Rere yang begitu bahagia.

__ADS_1


"Ekhem!. Apa kami di biarkan di sini saja?" tegur Daniel menyela.


"Yang menyuruh kau kemari siapa kampret?" tanya Riski.


"Suka hatiku, kok kau pula yang sewot monyet?!" tanya Daniel balik.


"Mulai deh" ucap Leny dan Windy bersamaan.


"Mereka berdua itu seperti kucing dan tikus apa?" tanya Vinny terkekeh melihat tingkah dari suami kedua sahabatnya itu.


"Udah sering, hampir setiap bertemu mereka memang seperti itu. Ya namanya juga udah bersahabat sejak kecil, bahkan sudah seperti saudara" jawab Leny yang sudah merasa bosan melihat tingkah dari suaminya jika sudah bertemu dengan Riski.


"Udah deh. Biarkan aja mereka berdua, lebih baik kita ngobrol di dalam" ajak Leny dan langsung masuk kedalam terlebih dahulu di ikuti oleh Windy serta Vinny.


"Pandu, apa kamu kenal dengan manusia aneh ini?" tanya Daniel sembari merangkul leher Riski.


"Te.. tentu saja saya kenal pak bos" jawab Pandu sedikit gugup.


"Jangan gugup begitu Pandu" ucap Riski.


"Kita tidak sedang berada di kantor, jadi jangan terlalu formal" timpal Riski.


"Udah capek aku berkata seperti itu padanya, coba kau nasehati dulu. Siapa tau dia bisa mengerti dengan bahasa dari manusia langka sepertimu" ucap Daniel.


"Saya tidak menyangka kalau Pak Riski ini adalah suami dari sahabat istri saya" ucap Pandu.


"Iya, aku juga gak menyangka kalau ketiga bidadari itu memiliki salah satu suami yang seperti setan ini" sambung Daniel sambil menepuk pundak Riski.


"Aku setan, kau iblisnya" bantah Riski dan mereka berdua tertawa.


"Hubungan kalian sepertinya dekat sekali" ucap Pandu tersenyum kagum.


"Dia ini sahabatku sejak kecil. Hanya dia orang yang mau menerimaku sebagai seorang teman, tidak sudah seperti saudara bagiku" jawab Daniel mulai serius.


"Waktu kecil hidupku sangat menderita. Umur 5 tahun kedua orangtuaku sudah meninggal dunia, dan aku tinggal bersama Nenekku. Umur 11 tahun Nenekku juga pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku hidup sebatang kara, hanya Riski dan kedua orangtuanya yang aku punya. Setelah itu aku di jemput oleh Pamanku dan aku di bawa ke Jepang sampai usiaku 20 tahun" timpalnya menjelaskan.


"Begitu mengenaskan hidup Pak bos waktu kecil ya" ucap Pandu dengan raut wajah yang sedih.


"Dan pak Riski adalah sosok sahabat yang begitu peduli dengan Pak bos Daniel, sangat sulit menemukan seorang sahabat yang sehebat anda" timpal Pandu yang begitu kagum dengan sosok Riski dan Daniel.

__ADS_1


"Hoy!, kalian bertiga mau makan atau mau menikmati angin doang?!" tegur Leny tiba-tiba sedikit berteriak.


"Iya Honey sebentar lagi kami menyusul" jawab Daniel.


"Pandu, kamu kedalam saja lebih dulu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan pada Riski" ucap Daniel.


"Baik Pak Bos, kalau begitu saya kedalam dulu" jawab Pandu dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa?, sepertinya ada hal yang begitu serius" tanya Riski setelah Pandu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ini tentang Nenek Ani yang ku bicarakan beberapa hari yang lalu" jawab Daniel.


"Apa kau akan membalasnya?" tanya Riski.


"Tentu saja, kau tau aku bagaimana kalau sudah menyangkut dengan keluarga kita" jawab Daniel menatap ke arah langit.


"Ya, memang susah jika harus menghalangimu juga" ucap Riski.


"Tapi apa istrimu tidak tau tentang ini?" tanya Riski.


"Aku belum memberi taunya. Jika dia tau, aku yakin dia pasti akan ikut denganku, dan akan melakukan hal brutal seperti yang sudah-sudah" jawab Daniel.


"Kali ini aku yang akan turun tangan. Mungkin aku terlalu lembek pada anjing-anjing di luar sana, sampai-sampai mereka masih berani mengusikku" timpal Daniel.


"Lembut?, kepalamu kejatuhan buah kelapa!. Kau itu seperti pria psikopat kalau menyiksa orang. Kesakitan, jeritan, musuhmu malah membuatmu semakin brutal. Itu yang kau bilang lembut?!" tanya Riski sambil menoyor kepala Daniel.


"Sebelum mangsa mu mati, kau belum berhenti bersenang-senang" timpal Riski.


"Tapi entah kenapa, masih ada aja orang bodoh yang masuk ke kandang singa" ucap Daniel menatap langit.


"Itu karena kau penguasanya. Banyak orang yang ingin berada di puncak dan mengendalikan semuanya. Mereka semua iri dengan posisi yang kau miliki" jawab Riski.


"Dasar orang-orang bodoh. Apa mereka pikir dengan berada di puncak, dan menjadi raja pemangsa, bisa mengendalikan sesuka mereka?" ucap Daniel terkekeh meremehkan.


"Mereka hanya berfikir enaknya saja. Susahnya tidak mereka pikirkan" timpal Daniel.


"Sebagai raja gelap, kau harus bijak mengendalikan mereka. Jika mereka masih berani melawan dan membantah, kau harus pandai menjinakkannya. Kalau tidak bisa juga, maka penggal kepalanya, lempar ke danau yang penuh dengan buaya" ucap Riski.


"Kau juga sudah ketularan gila sepertiku" ucap Daniel sembari menoyor kepala Riski dan mereka berdua tertawa bersama.

__ADS_1


AYAH!, buruan dong. Yang lainnya udah pada nunggu ini" tegur Leny tiba-tiba dengan sedikit berteriak karena dia memanggil mereka dari depan pintu masuk.


"Iya Honey, kami segera kesana" jawab Daniel sambil membuang puntung rokoknya dan langsung menuju ke dalam di ikuti oleh Riski yang berjalan di sampingnya.


__ADS_2