Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KEKAGUMAN DION


__ADS_3

Mendekati perang besar yang akan tiba 2 hari lagi, Daniel dan yang lainnya sudah mulai melakukan latihan kembali agar tubuh mereka tidak terasa kaku ketika perang nanti.


Dion yang begitu bersemangat karena ingin memusnahkan orang-orang yang berada di dalam grup Valkery itu juga ikut dalam latihan itu. Mengingat tubuhnya yang masih belum begitu pilih, jadi Daniel menyuruh sang Adik untuk berlatih menggunakan senjata pilihannya kemarin supaya tangan dan senjatanya bisa selaras.


Disela-sela Dion sedang fokus berlatih dengan senjatanya, tak lupa pula ia melihat sang Kakak yang tengah berlatih dengan serius. Perhatiannya langsung tertuju pada Daniel ketika kedua bola matanya melihat Daniel tengah di kelilingi oleh Rian, Fauzi, dan juga Kevin.


Ia begitu penasaran dengan kekuatan yang di miliki oleh Kakaknya saat ini, karena ia sudah lama tidak melihat Daniel berlatih lagi. Matanya tak lepas dari latihan yang di lakukan oleh kedua Kakaknya dan kedua Adiknya. Tatapannya hanya terfokus pada mereka bertiga yang sedang mengepung Daniel bahkan ia sampai menghentikan latihan sebab tak ingin melewatkan pertunjukan seru yang ada di depannya.


Rian melakukan penyerangan pembukaan terhadap Daniel. Daniel hanya tersenyum dan dengan mudahnya ia menangkis tendangan dari sang Kakak. Kemudian Fauzi berniat untuk melakukan penyerangan. Akan tetapi pada saat Fauzi ingin menyerang, dengan cepat Daniel langsung melemparkan kaki Rian yang ia pegang tadi ke arah Fauzi, dan hal hasil kaki Rian malah menendang tubuh Fauzi hingga mereka berdua melangkah mundur.


"Kamu memang yang terhebat" ucap Rian tersenyum.


"Benar, aku rasa kekuatan Kakak semakin meningkat" sambung Fauzi tertawa.


"Kalian saja yang tidak serius" jawab Daniel tertawa.


Pada saat mereka sedang berbincang, ternyata sedari tadi Kevin sudah berada di belakang Daniel dan menunggu sang Kakak dalam keadaan lengah, barulah ia akan melakukan penyerangan mendadak.


Ketika Daniel, Rian dan Fauzi sedang memasang kuda-kuda untuk melakukan penyerangan berikutnya, Kevin tersenyum sinis dan berniat untuk menyerang Daniel dari belakang yang menurutnya adalah sebuah titik buta dari sang Kakak.

__ADS_1


Pada saat Kevin melancarkan tinjunya, dengan indera pendengaran Daniel yang tajam, ia bisa mendengar suara angin dari tinjuan Kevin dengan sangat jelas. Dengan secara refleks Daniel sedikit menggeser tubuhnya ke samping tanpa memutar badannya, lalu ia menangkap tangan Kevin kemudian ia langsung melemparkan tubuh sang Adik ke arah Fauzi dan Rian yang berada di depannya hingga mereka bertiga terjatuh saling menindih.


"Arkh!. Padahal tadi hampir saja kena" ucap Kevin kesal


"Apa kau lupa fungsi dari indera milikku yang sudah di latih?" tanya Daniel mengejek


"Bangun bodoh, kau berat sekali" tegur Fauzi yang tengah sesak karena menahan berat tubuhnya Kevin.


Dion yang tengah serius melihat pertarungan seru di antara mereka berempat, cuma bisa menelan ludahnya secara kasar serta mulut yang ternganga. Sangking asiknya menonton, ia sampai tak menyadari kalau Wulan sudah berdiri di sampingnya sambil melihat mulutnya yang sedang terbuka. Wulan tersenyum jahil dan langsung mencubit pipi sang Kakak yang tengah termenung sampai membuat lamunannya buyar seketika.


"Tutup tu mulut, nanti masuk serangga baru tau" tegur Wulan mengejek.


"Kamu ini ya, mengejutkan Kakak saja" ucap Dion gemas sambil mencubit kedua pipi Wulan.


Setelah puas mencubit kedua pipi Wulan, kemudian Dion mencubit hidung sang Adik lalu ia mengacak rambut Wulan dengan gemas dan wulan hanya cemberut saja.


"Sakit tau Kak" rengek wulan dengan nada manjanya sambil mengelus kedua pipinya yang memerah.


"Biarin, siapa suruh mengagetkan Kakaknya. Kalau jantung Kakak lepas bagaimana hah?" tanya Dion mengejek.

__ADS_1


"Ya tinggal di lem aja" jawab Wulan cemberut dan masing mengelus pipinya.


"Ooo udah pintar melawan ya" ucap Dion gemas sambil mencubit hidung Wulan dan lagi-lagi Wulan merengek mohon ampun pada sang Kakak.


"Udah deh dek, sebaiknya kita lihat saja mereka" timpal Dion merangkul bahu Wulan dan mengelus kepala sang Adik.


"Hmmm" jawab Wulan cemberut menyilang kan kedua tangannya.


"Apa menurut kamu, Kakak bisa tidak ya seperti Kak Daniel?" tanya Dion seperti putus asa.


"Pasti Kakak bisa. Kan kalian berdua itu kembar, apa lagi ada darah Kakek Zafar yang mengalir di tubuh kalian. Jika saja Kak Daniel bisa, maka Kak Dion pasti bisa juga" jawab Wulan memberi semangat.


"Pasti Kak Daniel melewati latihan yang begitu Keras" ucap Dion sendu.


"Dulu, waktu aku bergabung ke dalam Dark Shadow, usia Kak Daniel masih 15 tahun, sedangkan aku baru 11 tahun. Saat itu aku melihat Kak Daniel yang sedang berlatih, ia sanggup melawan 10 orang dewasa kita usianya masih 15 tahun. Bahkan dia mampu mengalahkan 10 orang dewasa itu tanpa terkena pukulan sedikitpun" ucap Wulan menceritakan masa-masa ketika ia baru bergabung.


"Dialah orang pertama yang mau menerimaku. Dia yang dengan bangganya memperkenalkanku pada teman-teman Dark Shadow yang lainnya sebagai Adiknya. Aku pikir, Kak Daniel itu orangnya begitu sombong dan angkuh, karena ia sudah kuat sejak masih usia remaja. Ternyata pikiranku tentang Kak Daniel semuanya salah. Kak Daniel adalah sosok Kakak laki-laki yang begitu di impikan oleh sebagian orang, dia begitu menyayangiku, mengajariku dengan begitu sabar, tidak pernah marah sedikitpun walaupun aku sulit menangkap apa yang ia ajarkan. Aku beruntung menjadi bagian dari keluarga ini, meskipun tidak ada ikatan darah, tapi kalian sangat menyayangiku seperti Adik kandung kalian sendiri, apa lagi Kak Leny dan kedua orangtuanya. Mereka begitu sangat memperhatikanku" timpal Wulan sedih dan menunduk.


Dion yang sedari tadi menjadi pendengar, langsung memeluk sang Adik dan mencoba menenangkan dirinya. Ia terus mengelus kepala Wulan yang tengah memeluk dirinya. Meskipun pertemuan mereka tidak selama dan sedalam dengan Daniel, namun Dion begitu sangat menyayangi Wulan seperti Adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu itu Adik perempuan kami satu-satunya. Aku dan Kak Daniel pasti melindungi kamu. Kami semua menyayangi kamu, tak perduli dengan ikatan darah, kami akan terus menjaga kamu dari apapun yang akan membahayakan keselamatanmu" ucap Dion lembut sambil terus mengelus kepala Wulan yang sudah menangis senggugukan dalam pelukannya.


"Kamu boleh menangis sayang, tumpahan semuanya, buatlah hatimu menjadi lega. Ada kami yang akan selalu menjaga kamu, jangan pernah merasa kalau kamu itu asing dalam keluarga kita. Kamu itu Adik kami, Kak Leny dan istriku pasti punya pemikiran yang sama dengan apa yang kami pikirkan. Apalagi Kak Leny, dia itu anak tunggal, dia pasti sangat menyayangimu seperti layaknya seorang Adik perempuannya sendiri. Bahkan dia akan melindungi kamu dengan sekuat tenaganya. Meskipun kamu lebih kuat darinya, tapi dia tetap akan berusaha untuk melindungi kamu, walaupun malah dia yang kamu lindungi semalam ini" timpal Dion dan terus menenangkan Wulan yang menangis bahagia dalam pelukannya.


__ADS_2