Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
LEBIH KUAT


__ADS_3

Pada saat Leny baru sampai, matanya di buat terkejut karena melihat sang suami yang tengah di rangkul dan berjalan sangat lemah serta baju yang memiliki banyak noda darah, semakin membuat Leny berfikiran yang tidak-tidak pada apa yang sedang di alami oleh sang suami.


Leny berjalan dengan langkah yang sedikit cepat sambil menggendong Damin karena sedari tadi putranya terus memanggil Daniel. Jadi Leny langsung buru-buru mendekati sang suami yang tengah di rangkul oleh Rian dan Kevin.


"Ada apa ini?, apa yang terjadi padanya?" tanya Leny penuh dengan rasa khawatirnya.


"Kak Daniel mengeluarkan kekuatannya terlalu berlebihan sampai melewati batasnya. Hal hasil jadi seperti ini" jawab Kevin.


"Apa suamiku akan mengalami luka parah, sama seperti yang dulu itu?" tanya Leny semakin panik.


"Sepertinya tidak. Karena Kakak yakin, suami kamu hanya kelelahan dan mengalami luka ringan saja" jawab Rian agar Leny bisa sedikit lebih tenang.


Mendengar jawaban dari sang Kakak barusan membuat Leny merasa tenang, pikirkan lebih jernih dan ia bisa bernafas dengan lega.


Lalu kedua bola matanya Leny tertuju pada seorang pria yang begitu mirip dengan suaminya. Pria itu tidak lain ialah Dion yang tengah di rangkul juga oleh Fauzi dan Takaoka.


"Dion juga?" Leny terkejut melihat Dion yang seperti sedang menahan rasa sakit.


"Aku hanya lu...luka ringan saja Kak" jawab Dion tersenyum paksa karena harus menahan rasa nyeri pada punggungnya.


Secara tiba-tiba Wulan melangkah cepat menuju Leny dan langsung memeluknya dengan erat sambil menangis senggugukan.


"Hiks... ini semua salahku Kak, hiks... Aku yang membuat mereka berdua terluka seperti itu" ucap Wulan yang masih terus berada dalam pelukannya Leny.


Leny tersenyum lalu meminta tolong pada Jasmine agar menggendong Damin, agar ia bisa lebih leluasa untuk menenangkan sang Adik yang masih terus memeluk dirinya.

__ADS_1


"Kamu tidak bersalah sayang, jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri Adikku" ucap Leny lembut sambil terus membelai punggung serta kepalanya Wulan.


"Ta...hiks... tapi jika saja aku tidak ceroboh, mungkin saja Kak Dion tidak akan terkena pukulan itu..hiks...dan Kak Daniel tidak akan se marah ini sampai harus kehabisan kekuatan, hanya karena aku Kak" jawab Wulan yang masih saja terus menangis.


"Itulah tugas dan tanggung jawab dari seorang Kakak untuk Adiknya. Jika saja ada Kakak di sana, mungkin Kakak juga akan melakukan hal seperti itu" ucap Leny dan terus mencoba menenangkan sang Adik.


"Tidak perduli mau kamu itu lebih jago dalam hal pertarungan daripada Kakak. Tapi bagi seorang Kakak yang begitu sangat menyayangi Adiknya, pasti sang Kakak lah yang akan menjadi tameng tersebut" sambungnya.


Kemudian Leny melepaskan pelukannya dan menatap wajah Wulan yang masih saja menangis senggugukan. Dengan sabar Leny tersenyum lalu menyeka air mata sang Adik yang terus mengalir di kedua pipinya.


"Daripada kamu terus menangisi sesuatu yang kamu anggap itu salah kamu sendiri. Lebih baik kita bawa mereka ke tempat Alvin, supaya kedua Kakak kamu bisa segera mendapatkan pertolongan darinya" ajak Leny tersenyum manis dengan kedua tangan mengelus pipi Wulan dan Wulan hanya mengangguk saja.


Leny meminta pada Rian untuk segera menghubungi Alvin yang tengah sibuk dengan sang kekasih menikmati waktu liburan mereka di negara sakura itu.


Setelah selesai memberi kabar pada Alvin, Leny meminta pada para saudara serta bawahan sang suami untuk mengantarkan pria kembar itu menuju ke rumah sakit milik Daniel agar mereka berdua bisa segera mendapatkan pertolongan dari si tangan ajaib.


"Aku mohon jangan sampai Ayu tau dengan kejadian semua ini Kak" pinta Dion memohon.


"Aku akan berusaha untuk terus menutupi ini semua dari istri kamu" jawab Leny, dan langsung membuat Dion merasa tenang karena sang istri tidak akan tau rahasia yang sedang ia sembunyikan dari Ayu, bertujuan agar tidak menjadi beban pikiran bagi Ayu.


"Tapi, aku yakin lama kelamaan istri kamu pasti akan tau tentang semua ini. Siapa keluarga kita, mengapa banyak orang-orang yang selalu mengincarnya, kedudukan kalian semua. Jangan sampai dia mendengar itu semua dari orang lain" timpal Leny.


"Iya, Kakak benar. Aku yakin kelak semua ini akan di ketahui oleh istriku. Selama ini yang ia tau hanyalah kalau kedua mertuanya adalah seorang dokter dan pemilik perusahaan properti saja. Tapi dia masih belum tau kalau ia memiliki seorang Kakak ipar yang merupakan pemimpin yang paling di takuti di Asia dan beberapa negara di Eropa" jawab Dion.


"Jika waktunya tepat nanti, sebaiknya kamu beritahu semuanya pada istrimu. Dia itu bagian dari keluarga kita juga, dia istri kamu sendiri, sebagai pasangan jangan ada yang di rahasiakan" ucap Leny memberi saran.

__ADS_1


"Aku takut kalau dia tau semua ini, dia bakal syok dan menjadi takut padaku serta kalian semua" jawab Dion dengan wajah yang nampak gelisah.


"Jika kamu membicarakan tentang Dark Shadow secara lembut padanya, aku yakin dia pasti akan paham. Keluarga kita bukan seorang pembunuh, bukan seorang penjahat, kita hanya membantu untuk menjaga keamanan negara kita saja. Pasti dia tidak akan takut, melainkan bangga karena menjadi bagian dari keluarga ini" ucap Leny menjelaskan.


"Baiklah Kak, aku akan mengikuti apa yang Kakak katakan" jawab Dion tersenyum lega.


Karena sangking asiknya mengobrol, tak terasa ternyata mereka sudah sampai di salah satu rumah sakit milik Daniel.


Alvin juga baru saja tiba bersama sang pujaan hati berbarengan dengan Daniel dan yang lainnya.


Daniel dan Dion langsung di bawa oleh saudaranya menuju ke ruangan ICU untuk segera bisa mendapat perawatan langsung oleh Alvin.


Alvin hanya menggeleng saja melihat kedua pria kembar itu. Karena ia merasa sudah bosan dengan Daniel dan Dion yang selalu saja mengalami luka seperti itu.


"Alvin, apa suamiku akan mengalami koma seperti dulu?" tanya Leny khawatir.


Alvin melihat ke arah Daniel dari atas sampai bawah, ia memastikan dulu kondisi tubuh dari sahabatnya itu. Barulah dia bisa menjawab pertanyaan dari Leny barusan.


"Nona muda tenang saja, suami anda hanya kelelahan. Tidak ada luka serius yang ia alami" jawab Alvin menyilang kan kedua tangannya.


"Tapi, kenapa dia sampai memuntahkan darah?" tanya Leny lagi karena masih belum bisa tenang.


"Itu hanya efek dari apa yang sudah ia keluarkan. Jumlah yang suami anda keluarkan mungkin melebihi batas dari dalam tubuhnya, jadi harus menyebabkan organ dalamnya terluka" jawab Alvin menjelaskan, namun justru membuat Leny semakin khawatir.


"Tapi itu tidak fatal kok, karena semakin hari tubuh suami anda semakin kuat dari yang sebelum-sebelumnya. Latihan keras mereka selama ini tidak sia-sia" timpal Alvin berharap agar Leny bisa lebih tenang.

__ADS_1


"Daripada mengobrol di sini, lebih baik bawa saja mereka berdua ke ruangan perawatan. Agar kamu bisa langsung memeriksa mereka berdua sayang" sela Chelsea menyarankan.


__ADS_2