
Dengan berani Hiroto melawan puluhan orang Yakuza itu seorang diri. Dia sangat marah melihat penjaga sekolah mereka terluka parah. Walaupun ia tau kalau para orang Yakuza itu bukanlah tandingannya, namun dia harus berusaha mengusir orang-orang tersebut agar teman-temannya tidak dalam bahaya.
"Apa mau kalian semua?, kenapa kalian berbuat seperti ini?!" tanya Hiroto emosi.
"Hey bocah!. Sebaiknya kau jangan ikut campur dengan urusan ini!. Kembali saja ke kelas mu dan kami tidak akan melukai kalian jika kau tidak melawan" ucap salah satu dari anggota Yakuza itu.
"Kalian sudah membuat penjaga sekolah kami terluka parah!. Aku tidak akan melepaskan kalian!" jawab Hiroto menatap tajam para Yakuza itu.
Salah satu dari mereka maju dan ingin menyerang Hiroto, tapi karena bisa menghindar setiap serangan dari pria tersebut.
"Apa yang anak itu lakukan?!, kenapa lagi-lagi dia begitu ceroboh!" ucap Gunpei bertanya-tanya.
"Kita harus membantunya" ucap Saki sambil membidik pria yang sedang menyerang Hiroto.
"Karena kau bukan Daniel Sensei, jadi aku tidak akan menggunakan peluru kertas" timpalnya menarik ketapel yang ia berikan peluru besi berbentuk bulat.
"Hati-hati Saki-Chan, jangan sampai salah sasaran" ucap Ahim mengkhawatirkan Hiroto.
"Tenang saja Ahim-San, aku sudah berlatih banyak dari Daniel Sensei" jawab Saki sambil terus membidik pria yang terus menyerang Hiroto.
"Diam dulu kenapa kau orang tua, susah banget ini, kau bergerak terus" ucap Saki sedikit jengkel karena pria itu terus menyerang Hiroto tanpa henti.
Pria itu terus melayangkan serangannya pada Hiroto, namun Hiroto masih bisa menangkis serangan dari pria tersebut.
"Hahaha, apa hanya segini saja kekuatan dari seorang Yakuza?" tanya Hiroto mengejek.
"Ternyata anak ini lumayan juga" batin pria itu ngos-ngosan dan berhenti sejenak.
"Bagus!. Lock on" ucap Saki tersenyum.
"Kau yang minta ya bocah!" teriak pria itu emosi dan melanjutkan serangannya lagi.
Namun ketika ia hendak melancarkan pukulannya, tiba-tiba sebuah peluru besi berbentuk bulat dengan cepat langsung menghantam tepat mengenai kepalanya sampai menyebabkan keluarnya sebuah cairan hitam dari bagian tubuh tersebut.
Pria itu terduduk dengan posisi satu dengkul menahan tubuhnya dan tangan kiri yang memegangi kepalanya yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"KURANG AJAR" teriak pria itu penuh emosi.
Keberhasilan tembakan dari Saki membuat seisi kelas kegelapan itu bersorak gembira karena nama yang di juluki untuknya memang bukan sekedar nama biasa saja.
"Saki-Chan, kau memang penembak jitu terbaik" ucap Ahim memuji kehebatan Saki.
"Tapi, aku belum bisa menerima julukan itu karena ada satu orang yang bisa menghindari tembakan dariku meskipun dari jarak yang dekat" ucap Saki dengan wajah lesu.
"Hiroto-kun saja di buat tak berdaya olehnya, bahkan hanya dengan jari telunjuk saja" sambung Gunpei.
"Mungkin jika Daniel Sensei yang turun tangan, orang-orang aneh itu sudah di bereskan lebih awal" ucap Ahim menatap ke arah luar.
Hiroto tersenyum sambil terus menatap remeh ke arah pria yang sudah terluka itu. Kemudian ia menatap ke arah kelasnya sambil mengacungkan jari jempol dan Saki hanya membalas dengan senyuman mengejek.
"SIAL!" teriak pria itu bangkit kemudian ia langsung berlari menuju ke arah Hiroto dan melakukan penyerangan lagi.
Karena pandangan Hiroto yang lengah dan tak melihat ke arah musuh, jadi pukulan dari pria itu tepat sasaran mengenai wajah Hiroto sampai membuat tubuhnya terpental menabrak pintu ruangan guru hingga sampai rusak.
Guru-guru yang berada di dalam otomatis langsung terkejut karena kejadian tersebut. Daniel yang sedang asik bercanda dengan Joe juga ikut terkejut. Ia melihat ke arah Hiroto yang terkapar menimpah pintu ruangan tersebut sambil masih memiting leher Joe.
"Kenapa ada orang asing di sekolah ini?" ucap Miu kebingungan dan mengkhawatirkan Hiroto yang dalam bahaya.
"Ada apa ini?, kenapa pria itu menyerang Hiroto-kun?" batin Haruka ketakutan melihat muridnya yang terluka pada sudut bibirnya.
Daniel melepaskan tangannya yang sedang memiting leher Joe tadi. Kemudian tatapan matanya berubah menjadi dingin dan terus menatap pria yang terus berjalan menuju ke arah Hiroto.
Hiroto yang sudah terluka dan tubuhnya yang mulai melemah hanya menutup matanya saja ketika tangan pria itu mulai ingin meraih ke arah lehernya. Namun tiba-tiba sebuah sumpit yang terbuat dari bahan besi melayang dan menancap di pergelangan tangan pria yang ingin mencekik leher Hiroto.
Sontak pria itu langsung menjerit kesakitan dan terus memegangi pergelangannya yang tertancap sebuah benda tumpul itu.
Rekan kerja Daniel hanya bisa tercengang melihat kejadian yang mengerikan itu tepat dimatanya. Sedangkan Joe hanya menggeleng saja karena ia sudah sering melihat hal tersebut bahkan lebih sadis dari apa yang di lakukan oleh kaptennya itu.
"Ada saja orang-orang bodoh yang selalu ingin mengantarkan nyawa pada kapten" batin Joe menggeleng heran.
Lalu ada seorang pria dengan tubuh yang di penuhi banyak tato masuk ke dalam ruangan tersebut dengan santai namun dengan aura yang menyeramkan sampai membuat Daniel tersenyum senang karena merasakan aura yang sudah lama tidak ia rasakan lagi.
__ADS_1
Pemimpin Yakuza itu belum menyadari kalau Daniel berada di tengah-tengah para guru itu karena Daniel memang sengaja menyembunyikan aura besar yang ia miliki.
Kemudian Daniel berjalan mendekati pemimpin dari mereka. Namun pada saat ia melangkah, pria yang sudah terluka itu mencoba menghalangi langkah kaki Daniel saat menuju ke tempat bos mereka.
"Jangan pikir kau bisa pergi begitu saja setelah kau melakukan ini!" ucap pria itu sambil menunjukkan lengannya yang terluka akibat perbuatan Daniel.
Daniel menatap dingin pria itu, lalu dengan cepat dia langsung mencengkeram lehernya sampai kaki pria itu tak menapak di lantai. Kemudian Daniel berkata dengan nada dingin "Aku tidak ada urusan dengan tikus seperti mu!. Menyingkir dari jalanku!" dengan sangat mudah Daniel mematahkan leher pria tersebut seperti sebuah ranting kayu yang kering suara tulang pria itu terdengar sangat nyaring di telinga. Seketika pria tersebut langsung kehilangan nyawanya.
Daniel langsung melemparkan tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu dari genggamannya dengan tatapan dingin yang terus tertuju pada bos besar mereka.
Haruka yang melihat kekejaman yang Daniel tunjukkan hanya bisa menatap Daniel dengan tatapan bingung dan sedikit takut karena ia baru tau kalau Daniel bisa sekejam itu jika ada orang yang mengusik murid atau orang terdekatnya.
"Ternyata kau yang telah membawa sampah-sampah ini ke sini ya?!" tanya Daniel dengan nada santainya.
Yakuza itu menatap Daniel dan tiba-tiba raut wajahnya langsung berubah menjadi pucat dan secara otomatis tubuhnya langsung mundur beberapa langkah sampai terduduk di lantai karena terlalu terkejut.
"Bo..Tu..." Yakuza itu terbata-bata dan berkata dengan tidak jelas dengan mata yang tak berkedip menatap Daniel yang menatap dingin ke arahnya.
Seluruh anak buah Yakuza itu sangat kebingungan melihat tingkah dari bosnya yang tiba-tiba kehilangan kegarangannya setelah melihat sosok pria yang mereka pikir hanya orang biasa.
"Bos!, anda kenapa?!" tanya salah satu anak buahnya membantu bosnya bangkit.
Tanpa menjawab bos mereka terus mengesot kebelakang sambil menatap ke arah Daniel dengan wajah yang pucat dan Daniel terus mendekatinya.
"Serang!" teriak salah satu dari anak buahnya.
Satu persatu anak buah Yakuza itu mencoba menyerang Daniel, sedangkan Daniel hanya menghajar mereka dengan terus bejalan mendekati bos besar mereka tanpa memperdulikan sampah-sampah yang menggangu.
Hampir setengah anak buah Yakuza itu tumbang dan yang tersisa hanya bisa tercengang melihat rekan mereka bisa di kalahkan dengan sangat mudah bahkan tanpa gerakan serius dari musuh mereka yang hanya seorang diri.
Yakuza itu terus mundur kebelakang dan Daniel terus mengikutinya sampai mereka berdua berada di tengah lapangan hingga menjadi pusat perhatian para murid dan guru yang ada di sekolah milik Joe.
"Itu Daniel Sensei" ucap Gunpei menunjuk ke arah lapangan.
"Kok pria bertato yang membawa pedang itu seperti ketakutan melihat Daniel Sensei?" timpal Gunpei bertanya-tanya.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya Daniel Sensei ini?, bahkan seorang Yakuza saja sampai tak berdaya di hadapannya?" batin Haruka bertanya-tanya.