Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MASIH DI PANDANG TEMAN


__ADS_3

Zahra semakin ketakutan melihat suaminya yang terus menerus tertekan dan tak berdaya gara-gara perbuatannya. Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena sudah menghina teman sekelasnya itu.


"Lagi-lagi dia menang dariku" batin Zahra menatap Leny.


"Apa yang akan kita lakukan pada pasangan lancang ini kak?" tanya Kevin menatap tajam ke arah Zahra dan suaminya.


"Apa perlu kita congkel kedua bola matanya?, potong lidahnya?, potong daun telinganya?" timpalnya bertanya seakan-akan menakut-nakuti mereka berdua.


"Aku juga setuju" sambung Wulan tersenyum sinis.


"Tolong ampun tuan, jangan tuan, saya takut" rengek suaminya Zahra memohon ampun.


"Kalian yang mencari masalah terlebih dahulu dengan kakakku" ucap Wulan dengan nada geram.


"Bagaimana Bunda?, apa yang akan Bunda lakukan pada orang-orang ini?" tanya Daniel dengan tatapan dinginnya.


Leny masih diam saja dan terus menatap Zahra dengan tatapan dingin juga. Dia juga bingung harus bagaimana memperlakukan teman kelasnya yang selalu merendahkannya sejak masa SMA hingga sampai saat ini. Namun dia juga tak ingin melakukan hal yang sama pada Zahra. Jika dia melakukan hal yang sama, maka sama saja sifatnya ikut buruk seperti teman sekelasnya itu. Tapi di sisi lain dia juga merasa kesal dengan semua omongan Zahra yang selama ini ia pendam sendiri.


" Jika aku mau, aku bisa saja meminta kedua adikku dan juga suamiku untuk membalas perbuatan yang telah kalian padaku lebih dari 10 kali lipat" ucap Leny dengan nada dingin dan tatapan yang dingin.


"Tapi, jika aku melakukannya, sama aja aku tak jauh berbeda buruknya dari kalian berdua" timpal Leny.


Leny terus menatap Zahra dan suaminya secara bergantian sembari berpikir untuk memberikan sebuah pelajaran pada keduanya agar mereka bisa berubah tanpa harus menghilangkan nyawa mereka.


"Kau!. Kau tadi bilang bahwa kau itu bagian dari Dark Shadow kan?. Kalau memang kau adalah salah satu bawahan suamiku, pasti kau yang paling tau bagaimana kejamnya dia pada orang-orang yang mencoba melawan padanya. Apalagi kau sampai merendahkan istrinya yaitu aku" ucap Leny menunjuk kepada suaminya Zahra.


"Iy...iya nona, sa...sa..saya sangat tau bagaimana kejamnya tuan muda" jawab pria itu ketakutan.

__ADS_1


"Jika aku ini tipe orang yang pendendam, bisa saja aku minta suamiku untuk menghabisi nyawamu sekarang juga" ucap Leny mengancam.


"Di tambah lagi kau mengaku-ngaku sebagai pemimpin Dark Shadow itu sendiri dan menyalahgunakan nama itu untuk menekan atau menakut-nakuti seseorang" timpal Leny.


"Tempat ini milikku, sebagian besar negara ini ada di bawah perintahku. Kau hanya sebutir garam, jadi jangan mencoba membangunkan singa yang sedang terlelap. Singa yang sedang terlelap itu akan kelaparan jika ia terbangun dari tidurnya, dan singa itu bisa saja langsung melahap mangsanya sampai tak tersisa" sambung Daniel menatap dingin ke arah suaminya Zahra.


"Sudah Ayah, Ayah tenang dulu. Jangan termakan emosi" ucap Leny menenangkan suaminya.


"Bolehkah Bunda menangani ini?" tanya Leny dan di anggukan oleh Daniel.


"Iya Honey, Ayah akan serahkan mereka pada Bunda" jawab Daniel menghela nafasnya.


"Kak, sebaiknya orang-orang seperti ini jangan di biarkan hidup begitu saja. Takutnya mereka bakal mengulanginya lagi" ucap Kevin menyarankan dan membuat mereka berdua menjadi ketakutan.


"Tidak nona.. Ampun nona, maafkan kami, tolong jangan bunuh kami" rengek suaminya Zahra memohon.


"Leny, bukankah kita ini teman sekelas?, apa kamu tega menyakiti teman sekelas mu sendiri?" tanya Zahra dengan wajah memelas.


Leny tersenyum sinis dan bertanya "Teman sekelas?, aku pikir selama ini kau tak pernah menganggap aku itu temanmu di sekolah itu".


"Kasih hukuman saja nona muda. Manusia seperti ini biasanya pasti bermuka dua" ucap salah resepsionis itu memprovokasi Leny.


"Iya benar nona muda, orang-orang seperti ini enggak bisa di biarkan berkeliaran" sambung rekannya ikut memprovokasi.


"Iya-iya. Terima kasih atas saran dan masukannya" jawab Leny tersenyum menatap kedua resepsionisnya.


"Tapi aku tak seburuk mereka, jika aku menyakiti mereka, sama saja aku seperti mereka" timpal Leny.

__ADS_1


"Jadi, mau kakak apakan kedua orang ini?" tanya Wulan.


"Untuk kali ini kalian berdua kelepasan. Aku ingin memberikan sebuah kesempatan kedua untuk kalian mengintropeksi diri kalian. Semua ini ku lakukan karena aku masih memandang mu sebagai seorang teman sekelas" jawab Leny menyindir Zahra.


"Tapi!. Jika kalian melakukan kesalahan yang sama, aku akan meminta suamiku dan orang-orangnya untuk menghancurkan kalian berdua sampai tak tersisa sehelai pun" timpal Leny.


"Beruntung kalian, nona muda kami masih berbaik hati mau mengampuni kesalahan kalian yang begitu besar" ucap salah satu resepsionis itu.


"Kalau aku yang menjadi nona muda, kalian pasti udah gak ku kasih ampun" sambung rekannya.


Mendengar ucapan itu, suaminya Zahra langsung bersujud di kakinya Leny untuk mengekpresikan rasa bersyukurnya dia karena Leny masih berbaik hati untuk memberikan mereka sebuah kesempatan untuk berubah.


"Sudah kubilang jangan bersujud di kaki manusia!" ucap Leny dengan nada geram.


"Iy..iya, maaf nona muda" ucap pria itu gugup.


"Te.. terima kasih banyak ya Leny. Kmau memang wanita yang sangat baik, aku benar-benar menyesal karena aku pernah berkata yang tidak-tidak terhadapmu" ucap Zahra.


"Aku hanya ingin kamu berubah. Dengan ku berikan kamu kesempatan, ku harap kamu tidak seperti ini lagi" jawab Leny.


"Jangan pernah kamu menyombongkan harta yang selama ini kau punya, itu hanya titipan saja. Ingan di atas langit masih ada langit, di atas manusia masih ada Tuhan sang pencipta. Manusia seperti kita tak pantas bersikap sombong, karena hanya Tuhan yang berhak sombong" timpal Leny menasehati.


"Iya Leny. Aku akan mendengarkan apa yang kamu katakan, aku akan berubah dan tidak akan bersifat seperti ini lagi. Akan ku gunakan kesempatan yang telah kamu berikan kepadaku untuk berubah menjadi lebih baik" jawab Zahra tersenyum.


"Bagus kalau kamu memang benar-benar ingin berubah. Aku akan mendukungmu" ucap Leny ikut tersenyum.


"Yaudah, kalian berdua boleh pergi" timpal Leny.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kami berdua izin pamit tuan dan nona muda. Sekali lagi kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas semua perbuatan kami di hotel ini dan pada kalian yang sudah kami sakiti hatinya" sambung suaminya Zahra sambil memberi hormat.


Kemudian Zahra dan suaminya pergi meninggalkan hotel tersebut. Setelah Zahra dan suaminya sudah tak terlihat lagi, orang-orang yang berada di sana pada tersenyum kagum melihat kebaikan hati dan sikap yang begitu dewasa dari seorang istri pemimpin Dark Shadow itu.


__ADS_2