
"Bruakkk!." Samuel yang membuka pintu kamar secara kasar. Adel yang tadinya berbaring sambil memainkan ponselnya sangat terkejut saat melihat Samuel datang secara tiba-tiba.
"Kamu sudah pulang mas?." tanya Adel.
"Kamu apakan Riri sampai dia di bawa ke rumah sakit, untuk apa kamu masih menemui dia, bukankah aku sudah bilang kepadamu jangan menemui dia lagi, apa kamu tidak bisa?." Samuel yang begitu sangat marah berdiri di ambang pintu.
Adel yang mendengar ucapan Samuel tidak heran, pasti Samuel sudah tau kalau Riri di bawa ke rumah sakit. "Kamu tahu dari mana?."
"Bruakkk!." Samuel yang memukul pintu kamar.. "Aku tanya kepadamu kau apakan Riri, aku dengar kau mendorongnya?."
"Aku tidak mendorongnya, dia lebih dulu sakit perut, dan akhirnya jatuh ke lantai, aku juga tidak tau dia sakit kenapa?." jelas Adel.
"Bohong! kamu kira aku percaya sama kamu, kamu itu sudah membuat banyak kesalahan, dan seharusnya kamu jangan menambah beban ku, kamu cukup diam jangan ikut campur soal keluargaku"
"Bagaimana aku tidak ikut campur, setiap hari yang kamu bicarakan hanya Riri dan Riri di depan ku, kamu hanya bisa membandingkan kita berdua, padahal kenyataanya kalian berdua akan segera bercerai, namun kamu apa, kamu selalu memujinya, kamu kira hanya aku yang salah, kita sama-sama mau berselingkuh, seharusnya kamu sadar bahwa kalian itu akan bercerai, apa kamu tidak bisa hanya fokus kepadaku, dan berhenti mengharap kan Riri, kalau memang kamu masih mencintainya untuk apa kamu berselingkuh denganku?."
"Karena aku kira kamu lebih baik darinya, tapi ternyata tidak!." sahut Samuel begitu saja.
"Oh begitu rupanya.?.' Adel yang beranjak turun dari ranjang tempat tidur. " Setelah kamu meniduri ku, menghamili ku, dan kita banyak menghabiskan waktu berdua, kamu bilang mencintaiku, tidak bisa hidup tanpaku, dengan mudah sekarang kamu mencampakkan ku."
Samuel yang mendengar ucapan Adel semakin frustasi. "Aghhhhhh....! aku benci keadaan ini, aku bisa gila dengan semua ini Adel...!" teriak Samuel.
"Kamu kira aku tidak frustasi, dengan aku mengetahui kamu masih menemui Riri, apa lagi membanding-bandingkan aku dengannya, aku juga punya hati mas, aku juga bisa terluka."
"Aku hanya ingin kamu menurut apa kataku, apa susahnya sih, kamu cukup diam dan menunggu hasilnya."
"Hasil apa, hasil apa mas? hasil kamu tidak jadi bercerai dengan Riri, ya kan?."
"Stopp Del, aku peringatkan kamu sekali lagi, jangan pernah menemui Riri lagi, apa lagi melukainya, dia sudah cukup menderita, jika kamu masih berani melukainya, kamu akan tau akibatnya."
__ADS_1
"Noo... aku tidak takut, dan aku juga ingatkan kamu sekali lagi, jika kamu masih menemui Riri, aku tidak akan segan-segan melukainya, bahkan semakin membuat hidupnya menderita."
"Jika kamu terus membangkang ku, kamu akan tau sendiri akibatnya." Samuel yang menunjuk ke arah Adel lalu keluar dari kamar begitu saja.
"Kenapa kamu hanya me.mentingkan perasaan Riri, kenapa kamu tidak pernah mementingkan perasaanku mas, kenapa?." teriak Adel, namun Samuel tidak mengindahkannya.
Di tempat lain.
Alex dan Riri baru saja tiba di rumah Riri, Dengan sigap Alex membuka pintu mobil untuk wanita yang di cintainya. "Kita sudah sampai." ucap Alex sembari tersenyum.
"Terimakasih Lex." ucap Riri.
"Yess, Hati-hati turu nya." Alex yang mencoba membantu Riri turun dari mobil.
Saat baru saja turun dari mobil dari dalam rumah, Riri melihat nyonya Tata Anastasya yang berlari kecil ke arahnya dan di ikuti tuan Hadiwinata di belakangnya. "Riri... kamu tidak apa-apa nak?."
"Eh mama, mama ke rumah Riri." Riri yang bertanya balik menatap ke arah mamanya.
"Riri tidak apa-apa ma, kandungan Riri juga sehat, kata dokter Riri hanya perlu banyak istirahat."
"Ah.. syukurlah kalau begitu, calon cucu mama baik-baik saja."
"Iya maa.." Riri yang tersenyum.
"Ya sudah ayo masuk, di luar dingin., silahkan tuan Alex" ucap nyonya Tata.
"Saya langsung pulang saja tante, karena saya masih ada urusan."
"Kamu gak masuk dulu Lex?." tanya Riri.
__ADS_1
"Tidak Ri.. lain kali saja aku akan mampir."
"Baiklah... terimakasih ya sudah mengantarku pulang." ucap Riri sambil tersenyum.
"Yess.. banyak-banyak lah istirahat.."
"Oke.. Hati-hati di jalan." ucap Riri dan Alex pun hanya mengangguk pelan.
"Kalian bisa masuk dulu, papa akan bicara dengan tuan Alex sebentar." perintah tuan Hadiwinata.
Riri dan nyonya Tata pun sudah berjalan untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Alex dan tuan Hadiwinata masih berdiri di samping mobil. "Aku tidak menyangka kalau Samuel dan juga selingkuhannya masih menemui putriku, padahal aku sudah berkali-kali memberitahunya agar Samuel tidak menemui lagi Riri, tapi dia menyepelekan perkataanku dan masih mengusik putriku."
"Iya tuan, Samuel diam-diam masih menemui Riri, dan bersikeras tidak mau bercerai degan Riri."
"Apa aku harus memberikan dia pelajaran, rasanya tanganku begitu gatal ingin memukul wajahnya, lalu menghabisinya."
"Tidak perlu tuan, biar saya yang mengurus semua ini, tuan tidak perlu khawatir, saya pastikan Samuel tidak akan bisa menemui atau melukai Riri lagi." ucap Alex kepada tuan Hadiwinata.
"Apa kamu yakin, Samuel itu orang yang kerasa kepala, susah untuk di arahkan, kecuali dengan kekerasan, agar dia jera."
"Saya yakin tuan, saya akan mengurus semuanya, tuan tidak perlu turun tangan."
Tuan Hadiwinata yang mendengar uucapan Alex sedikit tersenyum. "Kenapa kamu begitu perduli dengan putriku." tuan Hadiwinata yang memukul lengan Alex.
"Karena Riri adalah sahabat serta patner kerja saya tuan, sudah selayaknya saya perduli dan menjaga Riri dengan baik." jawab Alex.
Tuan Hadiwinata yang mendengar jawaban Alex kembali tersenyum, sebenarnya tuan Hadiwinata tahu bahwa Alex mencintai putrinya dari dulu sebelum menikah.
"Terimakasih ya tuan Alex sudah mengantarkan putri saya sampai rumah dengan selamat."
__ADS_1
"Sama-sama tuan, saya juga senang bisa menjaga Riri dengan baik."