
"Sayang apa kamu baik-baik saja? kenapa tubuh mu penuh dengan luka?." Riri yang begitu tidak tega melihat wajah serta tubuh Alex yang di penuhi dengan luka.
"Aku baik-baik saja sayang, kamu tidak perlu khawatir." jawab Alex yang menatap ke arah Riri.
Riri pun seketika langsung memeluk tubuh Alex dengan sangat pelan. "Aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan kamu." Riri yang seketika menitihkan air mata.
"Kamu lihat sendiri kan aku baik-baik saja." ucap Alex yang mencoba membuat Riri untuk tenang.
Setelah bertemu dengan Alex, Riri pun berjalan masuk untuk menemui kakaknya Bimo, di dalam kamar Riri melihat kakaknya terbaring lemah. "Kak, kakak kenapa bisa begini?."
"Kakak tidak apa-apa Riri, sebentar lagi kakak akan sembuh." ucap Bimo kepada adiknya.
Riri benar-benar tidak bisa membendung air mata, kala melihat orang-orang yang ia sayang terluka dan sakit, namun Riri juga merasa lega, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Alex dan Bimo untuk hidup.
Setelah melihat keadaan Alex dan Bimo, Riri pun memutuskan untuk membawa Alex dan David pulang, karena keadaan mereka berdua sudah cukup membaik. Sedangkan Bimo masih harus di rawat di kediaman dokter Lilis, karena tubuhnya masih lemah dan masih perlu perawatan. Alex dan David pun sudah masuk ke dalam mobil, dengan di ikuti Riri yang juga masuk ke dalam mobil juga, mereka ber tiga di antara oleh Kenzo selalu anak buah tuan Hadiwinata, sedangkan tuan Hadiwinata harus tetap tinggal di kediaman dokter Lilis untuk menjaga Bimo.
"Riri pulang dulu ya pa?." ucap Riri dari dalam mobil.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya, dan titip salam buat mama, kalau papa belum bisa pulang sekarang." ucap tuan Hadiwinata.
"Iya pa, nanti Riri akan bilang sama mama."
Mobil hitam pun sudah melaju meninggalkan kediaman dokter Lilis, di perjalanan Riri terus menggenggam tangan Alex, Riri benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Alex sekarang. "Bukannya kemarin papa sudah bilang kepadamu jika kamu harus ber hati-hati dengan tuan Tiger, dan ini alasannya papa bilang seperti itu, bahkan aku juga bilang agar kamu tidak menerima tawaran dari tuan Tiger, kamu tetap saja ngeyel." Riri yang merasa jengkel dengan tindakan Alex yang tidak pernah memikirkan kedepannya.
"Iya sayang maaf, seharusnya aku tidak menerima bisnis itu begitu saja, gara-gara aku semua menjadi kena imbasnya, termasuk kak Bimo, aku benar-benar merasa bersalah dengannya." ucap Alex.
"Walaupun anda tidak menerima tawaran bisnis itu, Tiger akan tetap melakukan ini tuan Alex, karena pada dasarnya Tiger selalu mengincar keluarga Hadiwinata, dan pas saja anda yang kena sasarannya." Sahut Kenzo sambil mengemudikan mobilnya
"Apakah sebenci itu Tiger kepada keluarga Hadiwinata, hingga melukai banyak orang?." tanya Alex kepada Kenzo.
"Iya, memang dari dulu Tiger membenci keluarga Hadiwinata, bahkan Tiger selalu mencoba untuk membunuh nona Riri, agar membuat bos Hadiwinata semakin lemah."
__ADS_1
Alex yang mendengar ucapan Kenzo sedikit terkejut. "Ingin membunuh Riri?."
"Iya sayang, aku dulu juga pernah di culik seperti kamu, tapi untungnya, papa segera datang menolongku, coba kalau tidak, pasti aku tidak akan hidup sampai sekarang." sahut Riri.
"Tiger memang-memang kejam, dia begitu mudahnya menghabisi nyawa seseorang." Alex yang merasa benci dengan tuan Tiger.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka semua sudah sampai di kediaman Riri, namun saat mobil baru saja berhenti Kenzo lebih dulu melihat kehadiran Anya yang sudah teriak-teriak di depan rumah.
"Ada Anya nona." ucap Kenzo sedikit menoleh ke arah Riri yang masih duduk di kursi belakang. Riri yang mendengar ucapan Kenzo seketika melihat ke depan, benar saja Anya sedang berdebat dengan nyonya Tata di depan rumah, Riri yang melihat Anya pun seketika langsung turun dari mobil.
"Kenzo.. tolong bantu Alex dan David untuk turun dari mobil, biar aku yang menemui wanita gila itu." perintah Riri kepada Kenzo.
"Baik non." jawab Kenzo.
Riri pun sudah berjalan untuk mendekat ke arah Anya. "Mau apa lagi kamu datang ke rumah ku?." tanya Riri.
Anya yang melihat ke hadiran Riri seketika mendekat ke arah Riri. "Eh lo akhirnya pulang juga, di mana papamu, dia harus bertanggung atas meninggalnya ayahku!."
"Pokoknya aku tidak mau tahu, ayahmu harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, ayahku meninggal di tangannya."
"Papaku tidak bersalah, dia hanya membela kebenaran, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, sebelum security menyeret mu dari sini."
"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan ayahmu, mana ayahmu biarkan aku bertemu dengannya!." Anya yang terus menerka-nerka.
"Dia tidak ada di rumah, lebih baik kamu pergi saja." ucap nyonya Tata sambil menggendong baby Exzi.
Anya yang tidak di izinkan bertemu dengan tuan Hadiwinata pun seketika langsung mengambil baby Exzi begitu saja dari tangan nyonya Tata.
"Aku akan membunuh anak ini." Baby Exzi yang sudah berada di tangan Anya.
Nyonya Tata dan juga Riri yang melihat Anya mengambil baby Exzi seketika panik. "Anya.. kembalikan anakku, dia tidak salah Anya." ucap Riri takut jika anaknya kenapa-kenapa.
__ADS_1
Baby Exzi yang berada di gendongan Anya seketika menangis. "Diam kamu bayi sialan, aku akan membunuh mu, sebagai bayaran karena kakekmu telah membunuh ayahku." Anya yang menatap baby Exzi.
Alex, David, dan Kenzo yang melihat Anya membawa baby Exzi seketika juga panik. mereka ber tiga pun berjalan untuk mendekat. Dengan kaki yang pincang Alex mendekat ke arah Anya.
"Anya.. apa yang kamu lakukan, kembalikan baby Exzi, jangan sakiti dia, dia tidak salah." ucap Alex.
"Diam kalian semua." Anya yang sudah mengeluarkan sebuah peso kecil dari dalam sakunya. "Aku akan membunuh anak ini."Ancam Anya.
Riri dan nyonya Tata yang melihat Anya membawa sebuah pisau seketika semakin panik. "Anya aku mohon kembalikan bayi ku Anya, jangan kamu sakiti dia, aku mohon." Riri yang seketika menitihkan air matanya.
"Hahaha.. Ayahku mengajarkanku, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dan bayi ini yang akan menjadi gantinya untuk kematian ayahku, hahaha pasti ayahku bangga melihat ku membunuh keturunan Hadiwinata!." teriak Anya.
"Lepaskan bayi itu Anya, ayahmu mati karena ulahnya sendiri, tidak ada yang membunuhnya, berhentilah untuk menyakiti seseorang." ucap Kenzo kepada Anya.
"Diam kamu Kenzo, apa kamu juga takut jika anak ini aku bunuh? atau kamu takut dengan putri Hadiwinata yang kamu cintai itu mati di tanganku." Anya yang menunjuk ke arah Riri. "Beruntung sekali kamu Riri di cintai oleh banyak laki-laki, Kenzo menolak cintaku karena mencintaimu, dan sekarang Alex, dia lebih memilihmu dari pada memilihku, aku tidak Terima itu!." Anya yang terus membabi buta.
Riri yang mendengar ucapan Anya seketika terkejut, jika selama ini Kenzo juga menyukainya. Bahkan Anya juga pernah menaruh rasa dengan Kenzo mantan anak buah ayahnya. Karena sebelum Kenzo menjadi anak buah tuan Hadiwinata, Kenzo lebih dulu menjadi anak buah tuan Tiger. Namun Riri tidak mau memikirkan hal itu, karena yang penting sekarang adalah baby Exzi yang berada di tangan Anya.
"Kembalikan bayi itu kepada Riri, Anya, berubah lah.. jangan seperti ayahmu yang hidupnya penuh dengan dendam." ucap Kenzo lagi.
"Aku tidak perduli lagi dengan ucapanmu Kenzo." Anya yang sudah berlari pergi membawa baby Exzi.
"Anya.. kembalikan anakku." Riri yang mencoba untuk mengejar Anya namun di halangi oleh Alex.
"Kamu tetap di sini saja biar aku yang mengejarnya." ucap Alex.
"Tidak usah.. kaki mu belum sembuh, biar aku saja yang mengejar Anya." ucap Kenzo lalu berlari untuk mengejar Anya.
"Alex.. bagaimana dengan baby Exzi." Riri yang terus menangis, dan seketika Alex pun memeluk tubuh Riri di dekapannya. "Kamu yang tenang ya, baby Exzi akan baik-baik saja, Kenzo sedang mengejar Anya." Alex yang mencoba menenangkan Riri.
Alex benar-benar merasa tidak berguna, bahkan di situasi seperti ini, ia tidak bisa melindungi Riri dan juga baby Exzi, ia benar-benar merasa bersalah, semua kejadian ini adalah awal perbuatannya yang menandatangani kontrak bisnis dengan tuan Tiger.
__ADS_1