Surat Cerai Yang Ku Layangkan

Surat Cerai Yang Ku Layangkan
Ulah Anya


__ADS_3

"Anya berhenti!." teriak Kenzo yang terus berlari untuk mengejar Anya.


Anya terus berlari dengan membawa baby Exzi. Ia sudah tidak mengindahkan teriakan-teriakan Kenzo. Dua security yang menjaga di sebuah gerbang yang melihat Anya pun seketika langsung ikut mengejar Anya. Anya yang sudah di kepung oleh dua Security dan Kenzo seketika diam di tempat.


"Anya.. berikan bayi itu kepadaku, aku akan melepaskan mu." ucap Kenzo yang berharap Anya berubah pikiran dan memberikan baby Exzi kepadanya.


"Jangan mendekat, atau akan ku bunuh anak ini sekarang juga." acan Anya yang sudah mendekatkan pisau kecil di tubuh baby Exzi.


"Berikan bayi itu Anya, dia tidak bersalah, dan dia tidak tahu apa-apa masalah keluarganya, tolong berikan dia kepadaku." Kenzo yang terus membujuk Anya.


"Diam kamu Kenzo!" bentak Anya. "Kamu tidak tahu rasanya kehilangan orang yang kamu sayang, aku kehilangan kakakku Aldo karena Hadiwinata, dan sekarang aku kehilangan ayahku juga karena perlakuan Hadiwinata, dan aku akan membunuh anak ini, agar mereka tahu rasanya kehilangan orang yang mereka sayang!." Anya yang masih tak terkendali, is terus menerka-nerka seakan tidak Terima jika ayahnya telah meninggal.


"Ayahmu meninggal bukan karena tuan Hadiwinata, itu karena ulahnya sendiri, karena ayahmu yang di penuhi dengan dendam, sadar lah Anya, kamu juga seorang wanita yang kelak juga akan menjadi seorang ibu, sama dengan Riri, apa kamu tega melukai bayi itu?." Kenzo yang terus membujuk Anya.


"Aku tidak perduli dengan hati Riri, matilah kamu bayi brengsek!." Anya yang sudah siap untuk menancapkan pisau ke tubuh Baby Exzi yang dari tadi masih menangis.


Alex yang melihat Anya kelewatan pun langsung menabrak tubuh Anya begitu saja. Karena hanya cara itulah agar baby Exzi selamat.


"Brak!." Anya yaang sudah terlempar ke dalam kolam ikan di belakangnya, dengan di ikuti Alex yang juga ikut masuk ke dalam kolam tersebut. Kenzo yang melihat baby Exzi sudah jatuh ke air seketika segera mengambilnya. Kenzo pun seketika langsung masuk ke dalam kolam tersebut dengan cepat untuk menyelamatkan baby Exzi. Setelah Kenzo berhasil menyelamatkan baby Exzi, ia segera kembali ke atas. Dan bersyukur saja baby Exzi tidak kenapa-kenapa, karena dia hanya terapung di atas air dan untung saja Kenzo dengan cepat mengambilnya.


Beda halnya dengan Alex dan Anya. Alex sudah tak sadarkan diri di atas air karena tubuhnya yang masih penuh luka, harus terhantam oleh air kolam yang cukup banyak, seketika membuat dadanya menjadi sesak, sedangkan Anya sudah tak sadarkan diri karena kepalanya terhantam batu yang cukup besar, bahkan kepalanya pun keluar darah. Dua security yang melihat mereka tak sadarkan diri pun segera untuk memeriksanya, dan segera membawa Alex dan Anya ke atas darat.


Alex dan Anya pun sudah di baringkan di atas tanah, security memeriksa Alex masih bernafas dengan baik mungkin hanya pingsan, sedangkan Anya, nafasnya datang, pergi alias tidak beraturan. Dua security pun memutuskan untuk segera membawa mereka ke rumah sakit terdekat dengan ambulance agar mendapat pertolongan pertama.

__ADS_1


Kenzo yang sudah berhasil membawa baby Exzi seketika langsung ia berikan kepada Riri, Riri yang melihat baby Exzi baik-baik saja seketika bersyukur. "Alhamdulilah sayang, kamu baik-baik saja." Riri yang sudah mengecup wajah putranya.


"Sepertinya saya harus membawa tuan Alex dan Anya ke rumah sakit terdekat nona, karena mereka berdua tak sadarkan diri." ucap Kenzo kepada Riri.


Riri yang mendengar Alex tak sadarkan diri pun kembali panik, setelah sedikit lega karena baby Exzi selamat, justru malah Alex yang gantian tidak sadarkan diri, seketika membuat Riri kembali di landa ketakutan dengan kondisi Alex.


"Baiklah, cepat bawa mereka ke rumah sakit, aku akan segera menyusul kalian, setelah mengurus baby Exzi." ucap Riri.


"Baik nona." Kenzo yang kembali pergi untuk membawa Alex dan Anya, dengan kondisi baju yang masih basah kuyup. Tidak lama setelah hampir 10 menit menunggu akhirnya ambulance pun susah datang dan segera membawa Alex dan Anya ke rumah sakit terdekat untuk di periksa.


...****************...


Di tempat lain.


"Apa kamu baik-baik saja Winata?." tanya dokter Lilis.


Tuan Hadiwinata yang melihat kehadiran dokter Lilis sedikit terkejut. "Eh.. tidak.. aku hanya sedikit merasa ada yang mengganjal di hati aku, aku merasa ada sesuatu dengan keluargaku." ucap tuan Hadiwinata sambil menatap ke arah temannya.


"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, apa yang kamu takuti lagi sekarang? bukankah Tiger sudah meninggal, seharusnya kamu sudah cukup tenang, karena tidak ada lagi yang mengganggu keluargamu."


"Tapi tetap saja Lis.. Tiger itu mempunyai keturunan dan anak buah yang banyak, bagaimana jika anak-anak buah Tiger balas dendam kepada keluargaku yang ada di rumah atas kematian bosnya."


"Itu tidak mungkin Winata, apa lagi keturunan Tiger hanya tinggal satu, yaitu Anya, apakah Anya akan bersikap seperti ayahnya, yang hidupnya hanya penuh dengan dendam, sepertinya tidak, karena Anya perempuan." Dokter Lilis yang mencoba meyakinkan tuan Hadiwinata bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Tuan Hadiwinata yang mendengar ucapan sahabatnya mencoba membenarkan, memang sudah tidak ada lagi yang mengusik keluarganya, namun entah kemana perasaannya begitu gelisah, bahkan ingin sekali tuan Hadiwinata untuk pulang, seakan-akan ada seseorang yang membutuhkannya. Tuan Hadiwinata pun mencoba untuk menghubungi istrinya lewat telfon, tapi ia lagi-lagi lupa bahwa di sana adalah daerah terpencil, tidak ada sinyal sama sekali.


Bimo yang melihat ayahnya gelisah menjadi ikut tidak tenang. "Jika papa masih gelisah dan ingin pulang, pulang lah pa, tidak apa-apa." Bimo yang seketika beranjak untuk duduk dengan di bantu oleh ayahnya.


"Tidak.. papa akan tetap di sini." jawab tuan Hadiwinata yang menolak untuk pulang, padahal di hati kecilnya ia begitu merasa was-was dan gelisah dan ingin segera kembali ke rumah. "Kamu masih butuh perawatan di sini, luka mu belum sembuh total." lanjut tuan Hadiwinata.


"Bimo tidak apa-apa pa.. papa pulang saja terlebih dahulu, biar Black dan King yang menjaga Bimo di sini hingga sembuh."


"Kamu yakin tidak apa-apa?." tuan Hadiwinata yang merasa ragu untuk meninggalkan anak laki-lakinya.


"Iya pa.. papa tenang aja, sudah gih, pulang.. dan hati-hati di jalan."


Setelah mendapat ijin dari Bimo, tuan Hadiwinata pun sudah keluar dari dalam rumah dokter Lilis, dan segera masuk ke dalam mobilnya, mobil hitam pun sudah melaju meninggalkan halaman rumah, saat mobil sudah keluar dari rawa dan hutan, tuan Hadiwinata mendengar berkali-kali notif pesan di ponselnya, namun karena dia sedang fokus berkendara, ia mengabaikan pesan tersebut. Mobil melaju cukup kencang di siang hari melewati jalan yang tidak terlalu ramai. Tuan Hadiwinata memutuskan untuk pergi ke rumah Riri terlebih dahulu, karena sang istri masih di sana.


Setibanya di depan rumah anaknya, tuan Hadiwinata melihat ada mobil ambulance di sana, bahkan ia melihat beberapa medis membawa Alex dan Anya. Tuan Hadiwinata yang melihat itu seketika terkejut. Ada apa dengan Alex dan Anya?


Mobil sudah berhenti sempurna, tuan Hadiwinata segera turun dari mobil dan menghampiri anak buah nya Kenzo yang masih basah kuyup karena air kolam.


"Kenzo!." teriak tuan Hadiwinata saat melihat Kenzo sudah masuk ke dalam mobil.


Kenzo yang melihat kehadiran bosnya, sedikit heran, sejak kapan bosnya ada di sini?. "Loh bos, kenapa anda di sini?." tanya Kenzo yang kembali turun dari mobil.


Ambulance pun sudah pergi meninggalkan kediaman Riri untuk menuju ke rumah sakit, dengan membawa Anya dan juga Alex.

__ADS_1


"Ada apa ini Kenzo, apa yang barusan terjadi?." tanya tuan Hadiwinata yang melihat suasana yang begitu tidak mengenakan di kediaman putrinya.


__ADS_2