Surat Cerai Yang Ku Layangkan

Surat Cerai Yang Ku Layangkan
Dua minggu pun berlalu


__ADS_3

Dua minggu pun berlalu, hari ini adalah hari di mana sidang perceraian Samuel dan Riri akan di laksanakan, Setelah pertimbangan keluarga yang cukup matang, Riri berserta keluarga memutuskan untuk segera melaksanakan sidang perceraian tanpa menunggu Riri melahirkan terlebih dahulu. Karena mengingat Samuel terus saja mengusik Riri dan terus menemui Riri membuat orang tua Riri menjadi geram, dan murka, sebab keluarga juga tidak ingin Riri kenapa-kenapa.


.Riri yang masih di rumah sedang bersiap-siap untuk menyambut hari bahagia namun juga hari yang sedih untuknya, bahagia karena ia akan terlepas dari seseorang yang meng hianati dan melukainya, namun juga sangat sedih karena harus berpisah dengan seseorang yang dulu menemaninya di saat suka maupun duka, apa lagi laki-laki itu adalah calon ayah dari janin nya.


Setelah ia merias wajahnya, Riri beranjak dari tempat duduknya, ia tatap lamat-lamat sudut-sudut kamar, dan entah kenapa kenangan-kenangan bersama Samuel kembali terlintas difikiran nya.


Entah kenapa Riri menjadi terharu saat mengingat bahwa kamar itu adalah saksi bisu malam pertama, saksi bisu canda dan tawa, tempat ternyaman untuknya setelah melepas lelah seharian bekerja. Ia menatap ke arah dinding kamar yang dulu terpajang bingkai dan foto-foto mereka berdua, dari foto bertunangan, pernikahan dan foto-foto kebersamaan yang lainnya. Namun di situ Riri baru sadar saat memandang dinding bekas foto pernikahan mereka, Riri tak lagi menitihkan air mata seperti yang lalu-lalu. Ia lebih tampak kuat dan tidak lagi merasa kecewa.


"Apakah ini yang namanya keiklasan, hingga pada akhirnya aku sudah tidak merasakan sakit, kecewa, marah, dan tertekan, apakah benar aku sudah mengikhlaskan mas Sam untuk wanita lain tuhan?." ucap Riri di dalam hati.


Mita yang dari tadi sibuk menata beberapa berkas, yang akan di bawa ke pengadilan, ia tidak sengaja menatap ke arah Riri yang sedang fokus menatap pada dinding-dinding kamar, bukan pertama kalinya Mita melihat Riri merenung se akan-akan mengenang kebersamaan dia dengan Samuel.


"Ibu tidak perlu khawatir, pilihan ibu sudah benar, tidak ada yang salah." ucap Mita dan membuat Riri seketika menoleh ke arah Mita.


"Apakah aku masih terlihat terpuruk Mit?. "tanya Riri menatap wajah Mita.


Mita tatap lamat-lamat wajah cantik antasan nya, baru kali ini juga Mita melihat wajah Riri tidak terlihat sendu dan tidak berkaca-kaca saat merenung di dalam kamar. " Apakah ibu sudah bisa move on dari pak Sam?."


"Kenapa? apa ada yang salah dengan wajah ku?."tanya Riri balik.


"Aku lihat wajah ibu terharu namun aku juga melihat kebahagiaan di wajah ibu, aku tahu ibu adalah wanita yang kuat, wanita yang luar biasa dari segi apapun, wanita yang baik dan wanita yang tidak mudah hancur hanya karena butiran debu yang sangat sepele." ucap Mita sambil berjalan lalu duduk di samping Riri.

__ADS_1


Riri yang mendengar ucapan Mita seketika tersenyum. "Bukankah aku berhak bahagia Mit?."


"Yess, anda berhak bahagia karena anda andalah wanita yang sangat istimewa ibu Direktur." Mita yang memeluk tubuh Riri begitu saja. "Bisa lepas dari dia adalah sebuah keberuntungan dari Tuhan untuk ibu, tidak ada yang perlu di sesali, kebahagian akan segera datang." lanjut Mita.


"Thank you Mit, sudah menjadi sekretaris serta teman yang baik untukku, Tuhan menghadirkan kamu di dekat ku, karena Tuhan tau kamu juga wanita yang baik." puji Riri kepada sekretarisnya.


"Terimakasih bu, terimakasih banyak sudah mempercayai ku hingga sejauh ini."


Saat mereka berdua masih saling berpelukan, Tiba-tiba pintu kamar terbuka, hingga membuat Riri dan Mita saling melepaskan pelukannya.


"Ayo sayang kita berangkat sekarang, ini sudah siang, nanti telat, papa dan Alex juga sudah menunggu di bawah." ucap Nyonya Tata kepada putrinya.


"Ah.. iya ma.. ini juga sudah selesai, sebentar lagi turun." jawab Riri.


Keluarga Riri pun sudah siap semua untuk datang ke persidangan Riri dan juga Samuel. Di mobil pertama terdapat Tuan Hadiwinata, nyonya Tata Anastasya, dan Bimo anak lelaki tuan Hadiwinata. Sedangkan di mobil nomor dua terdapat Alex, Riri, dan juga Mita. Kedua mobil melaju cukup kencang karena mengingat hari semakin siang.


"Bagaimana jika Samuel tidak menghadiri persidangan ini pa?." tanya nyonya Tata yang sedang duduk di samping suaminya. "Mengingat Samuel begitu bersikeras tidak mau bercerai dengan putri kita." lanjut nyonya Tata.


"Iya, Bimo juga takut kalau Samuel tidak hadir di persidangan hari ini, tahu sendiri kan anak itu sangat keras kepala, dan seenak jidatnya sendiri, dari dulu kalau tidak sesuai keinginannya, dia pasti menolak." Bimo yang juga ragu akan kakak iparnya tersebut.


"Akan ku pecahkan kepalanya, jika dia tidak hadir di persidangan ini, dia kira persidangan perceraian ini adalah sebuah permainan, yang bisa dia sepelekan begitu saja." jawab tuan Hadiwinata.

__ADS_1


"Tapi kalau memang Samuel menyepelekan bagaimana pa?." sahut Bimo lagi. "Pasti Samuel akan mencari cara untuk menghambat atau menggalakan perceraiannya."


"Jika itu terjadi, berarti Samuel menantang papa, dia akan tau akibatnya jika menyepelekan ku, berarti dengan dia tidak di anggap lagi oleh orang tuanya, lepas dari jabatannya, tidak mempunyai apa-apa lagi, itu masih kurang untuknya?."


"Bukankah itu terlalu keterlaluan untuk Samuel pa?." tanya nyonya Tata Anastasya.


"Keterlaluan, why?. " tuan Hadiwinata yang menatap wajah istrinya sambil melotot. "Putri kita hancur ma, apa mama tidak melihatnya, dia di duakan, dan selingkuhan nya adalah sahabatnya sendiri, sampai hamil, posisi putri kita juga sedang mengandung, apakah yang aku lakukan kepada Samuel lebih keteraluan dari yang Samuel lakukan kepada putri kita no, itu fikiran gila."


"Iya. ih mama, bagaimana bisa mama berfikiran bahwa papa keterlaluan dengan Samuel?." Bimo yang ber sependapat dengan ayahnya.


"Masih untung ya putriku tidak mengakhiri hidupnya, coba orang-orang di luar sana, pasti sudah memilih untuk gantung diri, karena menanggung malu, suaminya berselingkuh, dan sekarang hamil tanpa seorang suami., dan setelah melahirkan akan menjadi seorang janda., apa lagi keluarga kita ini bukan keluarga sembarangan, pasti ada cibiran-cibiran yang Riri Terima dari orang lain" lanjut tuan Hadiwinata.


"Iya bener kata papa, Riri salah satu wanita yang cukup kuat menghadapi masalahnya,, belum tentu aku di posisi Riri akan sekuat Riri." Bimo yang terus membenarkan ucapan sang ayah.


"Jadi mama jangan berfikir bahwa keluarga kita itu jahat kepada Samuel, apa yang papa berikan kepada Samuel belum ada apa-apanya di banding dengan yang di berikan Samuel kepada anak kita, mama paham?."


"Iya pa, aman paham." jawab nyonya Tata Sambil mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


Beneran ni Samuel dan Riri akan cerai, terus ikuti cerita hidup mereka ya jangan lupa untuk like, comment, dan votenya, biar author masih bisa up terus sambil bekerja.


__ADS_2