Surat Cerai Yang Ku Layangkan

Surat Cerai Yang Ku Layangkan
Di rumah Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah, sakit, Anya dan Alex sudah masuk ke ruang UGD untuk menjalani pemeriksaan, sedangkan Kenzo dan tuan Hadiwinata sedang menunggu di depan ruangan, mereka berdua sangat takut jika terjadi sesuatu dengan mereka, apa lagi dengan Alex, karena Alex belum sembuh total, bahkan kakinya masih cedera yang lumayan parah.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ken?." tanya tuan Hadiwinata yang masih berdiri di depan anak buahnya.


"Maaf tuan, saat saya dan lainnya tiba di rumah nona Riri, Anya sudah berada di depan rumah, dan sedang berdebat dengan nyonya besar Tata, Anya begitu sangat marah dan ingin bertemu dengan anda, Anya ingin balas dendam, karena Anya berfikir bahwa tuan lah yang membunuh ayahnya." jelas Kenzo.


"Lalu, kenapa mereka berdua bisa seperti itu?." tanya tuan Hadiwinata lagi yang melihat Anya dan Alex terluka.


"Karena Anya mengambil baby Exzi begitu saja dari nyonya besar Tata, dan ingin membunuh baby tersebut, hingga Alex pun melakukan hal yang tidak terduga menghantam tubuh Anya begitu saja, agar baby Exzi bisa lepas dari tangan Anya, dan akhirnya mereka menjadi terluka." jelas Alex lagi.


Tuan Hadiwinata yang mendengar penjelasan dari Kenzo seketika menjadi geram dengan perilaku Anya. "Ayah sama anak sama saja, Sama-sama meresahkan!."


Setelah hampir menunggu 1 jam di depan ruangan, Tiba-tiba Riri datang, dengan wajah yang begitu takut, karena baru saja ia bertemu dengan Alex, ia harus melihat Alex terluka lagi.


"Bagaimana dengan ke adaan mereka pa?." tanya Riri yang datang sendiri ke rumah sakit.


"Belum tahu, karena dokter belum keluar, dan baru memeriksa mereka." jawab tuan Guntoro sambil menatap wajah putrinya.


Tidak lama, pintu ruangan UGD pun sudah terbuka. Riri yang melihat dokter sudah keluar dari ruangan seketika berjalan mendekat. "Bagaimana dengan keadaan mereka dok?apakah baik-baik saja?." Riri yang berharap mendapat jawab bagus dari dokter Firman.


"Untuk pasien pak Alex, ia baik-baik saja, hanya kakinya saja yang sedikit bergeser karena terhantam batu, sedangkan pasien ibu Anya, saya minta maaf Pak beliau tidak tertolong, karena benturan yang cukup keras di kepalanya, hingga membuat darahnya keluar begitu banyak, dan sarafnya rusak." jelas dokter Firman.


Riri yang mendengar bahwa Anya tidak tertolong pun seketika terkejut, apakah ini balasan dengan apa yang di lakukan Anya kepadanya. Riri masih tidak menayangkan bahwa Anya akan pergi secepat ini. Tuan Hadiwinata hanya diam kala mendengar penjelasan dari dokter Firman. Akibat perseteruannya dengan tuan Tiger, mereka menyebabkan banyak orang terluka dan meninggal. Sebenarnya tuan Hadiwinata sudah tidak mau lagi ada korban, cukup kedua orang tuanya saja yang meninggal.

__ADS_1


Setelah beberapa jam, Alex pun sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP di rumah sakit tersebut, sedangkan jenazah Anya sudah di bawa oleh pihak keluarganya untuk segera di makamkan. Di dalam ruangan, Riri sudah duduk di sebelah Alex yang sedang terbaring masih belum sadarkan diri.


"Kenapa masalah hidup ku tak pernah usai, apa memang aku tidak di takdirkan untuk bahagia, kenapa kehidupanku, penuh dengan lika-liku, kenapa begitu sulit untuk menuju kebahagiaan." ucap Riri pelan, karena ia merasa hidupnya penuh dengan cobaan, dari masalahnya dengan Samuel hingga sekarang. "Tuhan.. aku hanya ingin bahagia."


Riri yang merasa matanya berat, dan mengantuk pun seketika meletakkan kepalanya di dekat Alex, ia merasa begitu lelah dan mengantuk, karena kurang tidur dan istirahat. Bahkan tubuhnya sedikit kurus karena banyak beban yang ia pikirkan. Dan masalah yang harus ia lewati. Tidak terasa Riri pun sudah tertidur dengan pulas.


Saat Riri tertidur, Alex baru saja siuman dari pingsannya. Alex sudah membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan, ruangan tampak asing baginya, dan ternyata ia sedang berada di rumah sakit. Lalu ia melihat Riri yang sedang tertidur di sebelahnya dengan tangan menggenggam tangannya.


"Sayang.." panggil Alex dengan nada yang sangat lirih, namun Riri bisa mendengarnya.


Riri yang melihat Alex sudah siuman pun seketika bahagia." Kamu sudah bangun sayang?." tanya Riri.


"Di mana baby Exzi apakah dia baik-baik saja?." Alex yang teringat kejadian tadi bahwa Anya membawa baby Exzi.


"Syukurlah.. lalu si Anya siluman ular itu bagaimana, apakah di sudah di tangkap polisi?." Alex yang berharap Anya mendapat ke adilan yang setimpal atas perbuatannya.


Riri yang mendengar ucapan Alex diam sejenak. "Anya sudah meninggal sayang, karena kepalanya terbentur batu, dan tidak bisa di selamatkan." jawab Riri.


Alex yang mendengar ucapan Riri antara bahagia dan sedih. Alex merasa bersyukur jika Anya sudah mati, karena tidak akan ada yang mengusik keluarganya lagi, namun Alex juga merasa bersalah, karena dirinya Anya kehilangan nyawanya.


"Semoga dia bahagia di sana, dan semoga Tuhan tidak menghukumnya karena perbuatannya." ucap Alex, lalu mengusap rambut lurus milik Riri dengan lembut.


"Semoga setelah kejadian ini, kita bertemu dengan kebahagian ya sayang, semoga tidak ada masalah lagi yang menerpa kita, aku sudah lelah."

__ADS_1


"Semua makhluk hidup itu mempunyai masalah sayang, itu sudah kodratnya, tapi semoga kedepannya, masalah kita tidak seberat sekarang." ucap Alex.


"Iya sayang, dan semoga kamu cepat sembuh, karena sebentar lagi kita menikah, aku tidak mau melihat kamu sakit seperti ini."


"Iya sayang.. aku akan segera sembuh, dan segera menikahi mu."


Saat Riri dan Alex masih berbincang-bincang, tuan Hadiwinata dan Kenzo masuk ke dalam ruangan. "Kamu sudah siuman Lex?." tanya taun Hadiwinata.


"Sudah pa.. Keadaanku juga sedikit membaik." jawab Alex yang menatap ke arah calon mertua.


"Aksi mu benar-benar hebat tuan Alex, bahkan aku tidak berfikir kamu akan melakukan itu." puji Kenzo.


Dari arah luar ruangan semua mendengar suara seseorang yang sedang berjalan ke arah kamar mereka.


"Alex! Alex!" teriak nyonya Jini yang baru saja masuk ke dalam ruangan, dengan di ikuti tuan Argantara di belakangnya.


"Nak.. apakah kamu baik-baik saja? bagaimana kamu bisa seperti ini, bagaimana kamu bisa terluka sayang?." nyonya Jini yang seketika menangis melihat keadaan Alex yang penuh dengan luka, dari atas hingga bawah.


"Alek tidak kenapa-kenapa ma.. hanya lecet sedikit."


"Lecet sedikit bagaimana? lihatlah tubuhmu penuh dengan luka, bahkan kakimu terluka, mama benar-benar cemas saat mendengar kamu masuk rumah sakit." nyonya Jini yang sudah memeluk putra sulungnya.


"Maaf kalau Alex membuat mama cemas dan takut, Alex janji tidak akan membuat mama cemas lagi." Alex yang mencium pipi sang mama dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2