
Riri yang dari tadi mengirim pesan kepada Alex tak kunjung di balas, secara sudah dari tadi pagi hingga sore Alex tak kunjung memberi kabar kepadanya, Riri yang tidak mendapat kabar dari Alex seketika merasa khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan Alex.
"Kemana daddy mu sayang? kenapa dia tidak membalas pesan dari mommy, apa terjadi sesuatu dengan daddy Alex, apa justru dia malah menerima tawaran bisnis itu, dan membohongi mommy?." ucap Riri kepada Exzi yang berada di gendongannya. Seketika Riri berfikir yang tidak-tidak kepada Alex.
Riri yang tidak mendapat kabar dari Alex pun seketika memutuskan untuk menelfon David sekretaris Alex, namun tetap sama, David tak kunjung mengangkat telefon dari Riri, bahkan telefon di luar jangkauan tidak aktif. Di situ Riri tak menyerah, ia mencoba menghubungi kantor Alex, mungkin saja Alex langsung menuju ke kantor setelah membatalkan tawaran bisnis tersebut. Namun lagi-lagi hasilnya nihil, pihak kantor mengatakan bahwa Alex dan David belum tiba di kantor dari tadi pagi.
Riri yang mendengar kabar bahwa Alex dan David belum datang ke kantor semakin panik, di mana sebenarnya Alex, Riri seketika teringat dengan calon mertuanya yaitu tuan Argantara, ia memutuskan untuk menghubungi tuan Argantara apakah Alex ada di rumah.
"Tut.. Tut.." telefon yang sudah tersambung.
"Halo Ri.. ada apa?." tanya tuan Argantara yang sudah mengangkat telfon.
"Halo pa, Riri mau tanya apakah Alex ada sana?."
"Tidak.. kamu tahu sendiri kan Alex tidak pernah pulang ke rumah papa dan mama, kalau tidak ada kepentingan, memang ada apa?." tanya tuan Argantara balik.
"Yang benar pa, Alex tidak ada di rumah?."
"Iya.. mungkin dia sedang di apartemennya, nanti papa coba hubungi." ucap tuan Argantara.
"Riri sudah berkali-kali menghubungi Alex tapi tidak bisa pa, Riri juga menghubungi David tapi sama saja, kata pihak kantor mereka juga tidak ada di kantor."
"Iya nanti papa coba ke apartemennya ya, untuk melihat apakah dia ada di sana."
"Iya pa, segera hubungi Riri ya pa."
"Iya.. kamu tenang ya, papa akan segera menghubungi kamu."
Setelah Riri menghubungi tuan Argantara, Riri pun segera menghubungi ayahnya, mungkin saja Alex bersama ayahnya tuan Hadiwinata.
"Halo sayang, ada apa?." tanya tuan Argantara kepada putrinya.
"Halo pa.. papa ada di mana?." tanya Riri balik.
"Di rumah, kenapa?."
__ADS_1
"Apa papa bersama Alex, karena Alex tidak ada kabar dari tadi pagi pa, tidak biasanya Alex seperti ini, ponselnya tidak aktif, bahkan Riri telfon sekretarisnya, sama saja tidak bisa, dan saat Riri tanya pihak kantor, kata pihak kantor Alex dan David tidak datang ke kantor hari ini."
"Bukan kah hari ini Alex pergi ke perusahaan Tiger grup untuk membatalkan bisnis mereka?." tanya tuan Hadiwinata lagi.
"Iya pa.. tapi apakah selama itu, dari pagi hingga sekarang belum selesai?."
"Sudah papa duga." ucap tuan Hadiwinata secara tiba-tiba.
Riri yang mendengar ucapan ayahnya tidak mengerti. "Gimana pa, papa bicara apa, Riri tidak tidak mengerti."
"Papa akan segera ke sana, tunggu papa."
"Apa ada masalah dengan Alex pa?." Riri yang semakin panik, karena ayahnya tiba-tiba ingin ke rumahnya.
"Tunggu papa saja di sana.. jangan keluar dari rumah, itu berbahaya untuk kamu dan Exzi." perintah tuan Hadiwinata dan seketika sambungan telfon pun terputus begitu saja.
Riri yang mendengar ayahnya berbicara seperti itu semakin panik, dimana sebenarnya Alex, dan apa yang di ketahuilah ayahnya tentang Alex. Akhirnya Riri menuruti ucapan sang papa, ia tetap diam di dalam rumah untuk menunggu papa nya datang.
Tidak lama hanya 20 menit, tuan Hadiwinata pun sudah tiba di kediaman Riri dengan kostum yang tidak biasa, Riri melihat ayahnya mengenakan kostum serba hitam, dengan topi dan kaca mata yang senada dengan warna bajunya. Riri yang melihat kehadiran ayahnya semakin merasa khawatir, karena Riri tahu betul jika sang ayah sudah memakai kostum tersebut menandakan bahwa sang ayah siap tempur. Sudah begitu lama Riri tidak melihat ayahnya memakai kostum dengan banyaknya alat berbahaya yang menempel di kostum tersebut. Dari pisau tajam, pistol, dan bom terdapat di celah-celah saku baju dan celananya.
"Papa.." ucap Riri yang melihat ayahnya berjalan ke arahnya.
"Apa kamu dan Exzi baik-baik saja?." tanya Tuan Hadiwinata sambil mengusap kepala putrinya.
"Iya pa Riri baik-baik saja.. kenapa papa memakai baju itu lagi? bukankah mama sudah melarang papa untuk memakai kostum itu, itu bisa membahayakan papa." ucap Riri yang merasa khawatir dengan ayahnya.
"Alex sedang bahaya, pasti Tiger sudah menyekapnya, ia sengaja mengambil kesempatan ini agar Alex bisa jatuh di tangannya." ucap tuan Hadiwinata.
"Tiger? Tiger pemilik perusahaan Tiger Grup itu?." tanya Riri.
"Iya..." jawab tuan Hadiwinata.
"Memang Alex salah apa dengan tuan Tiger, bukankah mereka tidak saling kenal?."
"Memang mereka tidak saling kenal, tapi Tiger mengenal papa dan kamu, Tiger mengenal keluarga kita." jawab tuan Hadiwinata sambil menatap putrinya.
__ADS_1
Riri semakin tidak paham dengan ucapan ayahnya. "Tuan Tiger mengenal Riri, bagaimana bisa? Riri saja tidak tahu seperti apa orangnya?."
"Apa kamu lupa dengan kejadian 6 tahun yang lalu, siapa yang membawa kamu ke sebuah rumah kosong saat itu, itu adalah Tiger, Tiger ingin memusnahkan papa dan keturunan papa." jelas tuan Hadiwinata.
Riri yang mendengar ucapan ayahnya seketika terkejut, ternyata yang menculik dirinya dulu adalah ayah Anya yaitu teman kuliah Alex. "Lalu bagaimana dengan Alex pa?." Riri yang seketika semakin takut jika Alex kenapa-kenapa.
"Kamu tenang saja, dan turuti perkataan papa, jangan keluar dari rumah, kunci semua pintu dan jendela, karena itu berbahaya untuk kamu dan Exzi, papa akan segera mencari Alex." perintah tuan Hadiwinata.
"Tapi bagaimana dengan papa, tidak mungkin papa datang ke sana sendiri, itu sangat ber bahaya untuk papa."
"Tenang.. papa tidak sendiri, aku akan menemani papa.." teriak Bimo yang baru saja masuk ke dalam rumah Riri.
Riri yang mendengar suara kakaknya pun seketika menoleh ke arah sang kakak, Riri bisa melihat bahwa Bimo juga mengenakan kostum seperti ayahnya. "Kak Bimo." ucap Riri.
"Kamu tenang saja papa akan aman bersamaku?." ucap Bimo kepada adiknya.
"Kamu yakin akan ikut dengan papa kak?." tanya Riri menatap wajah sang kakak.
"Iya.. memang kenapa, apa kamu meragukan kakak?." tanya Bimo balik.
"Tidak" jawab Riri sedikit menggelengkan kepalanya.
Riri memang tidak meragukan skill kakaknya, karena kakaknya juga jebolan Mafia, walaupun tidak sepintar ayahnya. Namun skill Bimo tak perlu di ragukan lagi, dia mampu menembak musuh dari jarak 10 meter dari nya. Tuan Hadiwinata tidak ingin membuang-buang waktu dia ingin segara pergi untuk mencari Alex sebelum semuanya terlambat.
...****************...
Jangan lupa untuk like, comment dan Vote ya kakak-kakak.
Author akan Up lagi nanti malam, jika yang like banyak..
Kalau tidak.. ya tidak.. heheheh...
Author juga mau promosikan Novel author yang baru nih, mampir ya..
__ADS_1