Surat Cerai Yang Ku Layangkan

Surat Cerai Yang Ku Layangkan
Mana Alex dan Kak Bimo


__ADS_3

Black yang melihat tuan Hadiwinata, Bimo, dan Kenzo sudah keluar dari rumah, seketika dengan sigap mengemudikan mobilnya. Dua mobil pun sudah melaju meninggalkan rumah yang sudah terbakar. Di mobil pertama terdapat Black sebagai sopir, serta tuan Hadiwinata dan juga Bimo yang masih tak sadarkan diri duduk di kursi belakang.


Sedangkan di mobil nomor dua terdapat King sebagai sopir, dan Kenzo duduk di sebelahnya, sedangkan Alex dan David duduk di kursi belakang. Mobil melaju cukup kencang saat mendengar sirene mobil polisi yang sudah mulai berdatangan. Mereka memutuskan untuk mengambil jalan alternatif agar lebih cepat.


Di dalam mobil kondisi Bimo semakin parah, bahkan darah terus keluar dari tangannya, dan terdapat beberapa luka sayatan di tubuh Bimo, hingga banyak darah yang keluar.


"Apakah kita harus ke rumah sakit bos?." tanya Black kepada atasannya.


"Jangan, karena itu sangat berbahaya, polisi bisa menangkap kita karena kita adalah rombongan Mafia, lebih baik kita ke tempat praktik dokter lilis saja, agar Bimo, Alex, serta David tangani di sana." perintah tuan Hadiwinata.


"Baik bos." Black pun semakin tancap gas untuk menuju ke rumah dokter Lilis, dokter yang juga ikut organisasi Mafia, salah satu teman tuan Hadiwinata juga.


Setelah perjalanan cukup jauh hampir satu jam akhirnya dua mobil pun telah tiba di sebuah kediaman dokter Lilis, letak rumah yang ada di dekat pulau terpencil, hanya ada satu rumah di pulau tersebut, yaitu hanya rumah dokter Lilis, bahkan akses untuk menuju ke tempat itu tidaklah mudah, karena jalan yang begitu kecil, dengan di penuhi hutan-hutan lebat di sekitarnya.


Tuan Hadiwinata sudah turun membawa Bimo dengan di bantu oleh Black untuk masuk ke dalam rumah. Begitu pun dengan King dan Kenzo mereka berdua membawa Alex dan David yang sudah begitu lemah karena banyak luka di tubuhnya.


Dokter Lilis yang melihat kehadiran Hadiwinata sahabatnya seketika langsung mendekat. "Ada apa Winata? kenapa anakmu?." tanya Dokter Lilis yang membantu Bimo untuk berbaring di sebuah tempat tidur.


"Nanti aku ceritakan, tolong tangani mereka terlebih dahulu." ucap tuan Hadiwinata.


Dokter Lilis pun segera memeriksa keadaan Bimo terlebih dahulu karena ia terlihat lebih parah dari Alex dan David. Bahkan detak jantungnya pun sudah berdetak sangat lambat. Setelah dokter Lilis memeriksa, Bimo sudah kehilangan darah begitu banyak.


"Apakah ada yang mempunyai golongan darah B?." tanya dokter Lilis kepada tuan Hadiwinata, Black, Kenzo dan King.


"Kenapa? apakah Bimo membutuhkan donor darah?." tanya tuan Hadiwinata.


"Iya.. karena Bimo kehilangan begitu banyak darah." jawab dokter Lilis.


"Golongan darah saya B, anda bisa mengambilnya?." sahut Alex yang sudah berbaring di samping Bimo.


"Apakah bisa Alex mendonorkan darahnya, bahkan tubuhnya sangat lemah?." tanya Hadiwinata kepada dokter Lilis.


"Kita coba saja dulu." Dokter Lilis yang meraih jarum suntik untuk segera mengambil darah Alex, karena Bimo sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk bertahan.

__ADS_1


Setelah hampir dua jam akhirnya Bimo, Alex dan David bisa di selamatkan. Namun Bimo masih belum sadarkan diri, karena efek bius. Dokter Lilis pun seketika keluar dari ruangannya, tuan Hadiwinata yang melihat dokter Lilis sudah keluar dari ruangan pun mencoba mendekat. "Bagaimana keadaan mereka?." tanya tuan Hadiwinata.


"Semua baik-baik saja, namun Bimo belum sadar karena efek bius, sebentar lagi pasti bangun." jelas dokter Lilis.


"Ah syukurlah Kalau begitu." tuan Hadiwinata yang merasa lega.


Dokter Lilis pun seketika duduk di samping sahabatnya. "Bukankah kamu sudah berhenti dari organisasi ini Winata? kenapa sekarang kamu melakukannya lagi, bagaimana jika istrimu tahu?." tanya dokter Lilis.


"Ceritanya sangat panjang Lis.. sudah lama aku berhenti dari organisasi ini, dan lebih fokus dengan keluargaku, tapi kamu tahu Tiger, Tiger selalu mengusik keluargaku, apakah aku harus diam melihat orang-orang yang aku cintai pergi satu persatu." Tuan Hadiwinata yang menoleh ke arah dokter Lilis.


"Apakah Tiger masih saja mengusik keluargamu?."


"Yah.. bahkan dia berani menculik dan melukai Alex calon dari putriku, hanya ingin membuat aku masuk ke dalam perangkapnya."


"Tiger benar-benar tidak pernah berubah, selalu ingin di anggap raja, tahta membuat dirinya buta." dokter Lilis yang tahu betul bahwa Tiger sangat membenci Hadiwinata, bahkan mereka berdua tidak pernah berdamai.


"Lalu kamu sendiri? sampai kapan kamu akan terus menjadi dokter untuk para Mafia di sini? apakah kamu tidak ingin menikah? dan hidup selayaknya manusia biasa tanpa ada ketakutan atau kecemasan." tanya Tuan Hadiwinata balik.


"Aku lebih suka menjadi Mafia di bandingkan manusia biasa, aku lebih suka peperangan dari pada kedamaian." jawab dokter Lilis, wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dan anggun.


Namun saat tuan Hadiwinata ingin menelfon putrinya ternyata jaringan tidak ada. "Di sini tidak ada sinyal, kamu tidak akan bisa mengabari keluargamu." sahut dokter Lilis yang melihat temannya sibuk dengan ponselnya.


"Ah iya aku lupa.. kalau tempat ini pulau terpencil."


Tuan Hadiwinata pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, untuk memberi tahu Riri bahwa dia dan Alex baik-baik saja.


"Aku pamit dulu, dan titip anakku, besuk aku akan kembali lagi ke sini." ucap tuan Hadiwinata kepada dokter Lilis.


"Pasti.. Hati-hati di jalan, ini sudah malam." dokter Lilis yang menepuk pundak temannya tersebut.


Tuan Hadiwinata pun kembali masuk ke dalam mobilnya bersama Black untuk pulang, sedangkan Kenzo dan King masih berada di kediaman dokter Lilis untuk menjaga Alex, Bimo, dan David.


...****************...

__ADS_1


Riri yang ada di dalam rumah begitu sangat gelisah, pasalnya kini ayahnya dan Alex belum ada kabar hingga malam, bahkan berkali-kali Riri menelfon sang ayah namun tidak ada jawaban. Riri terus berdiri di sebalik jendela rumahnya, ia terus menatap ke arah luar dan berharap ayah dan calon suaminya segera kembali.


"Sayang.. kenapa kakek dan daddy mu belum juga pulang, padahal ini sudah jam 10 malam, apa terjadi sesuatu dengan mereka?." ucap Riri kepada Exzi yang berada di gendongannya.


Riri benar-benar sangat cemas, hingga dia tidak bisa tidur, namun saat Riri masih mondar-mandir ke sana kemari tiba-tiba ada mobil datang dan berhenti di depan halaman rumahnya. Riri yang melihat mobil ayahnya seketika sedikit lega.


"Papa.." ucap Riri lalu berjalan untuk segera membukakan pintu.


Riri sudah keluar dari rumah untuk menemui papanya, namun Riri di buat terkejut dengan jaket yang di kenakan ayahnya penuh dengan darah, bahkan Riri juga tidak melihat Alex dan kakaknya.


"Papa.." Riri yang sudah memeluk tubuh sang ayah.


"Apakah kamu baik-baik saja?." tanya tuan Hadiwinata.


"Iya.. mana Alex dan kak Bimo pa, kenapa papa hanya dengan anak buah papa, mana mereka?." tanya Riri yang semakin panik, karena melihat darah di baju ayahnya.


"Tenang Ri.. tenang.. Alex dan kak Bimo baik-baik saja, ia sedang di rawat di suatu tempat."


"Di rawat? apa mereka terluka? di rumah sakit mana mereka di rawat pa, Riri ingin ke sana melihatnya!." teriak Riri dengan histeris hingga baby Exzi pun ikut menangis di gendongannya karena Riri yang terus menangis.


"Riri kamu yang tenang.. kamu tidak perlu panik, lihatlah baby Exzi sampai menangis melihatmu menangis, kamu tidak perlu khawatir, Alex dan kak Bimo baik-baik saja, mereka hanya sedikit terluka, tapi itu tidak masalah."


"Bagaimana Riri bisa tenang pa.. Riri belum tahu keadaan mereka." sahut Riri.


"Percaya sama papa, Alex dan kak Bimo baik-baik saja, dan besuk papa akan membawa mu ke sana untuk menemui mereka, jadi sekarang kamu tenang tidak usah khawatir." tuan Hadiwinata yang terus menenangkan putrinya.


Riri yang mendengar ucapan tuan Tiger seketika, sedikit tenang, ia percaya dengan ucapan ayahnya, bahwa Alex dan kakaknya baik-baik saja.


"Sekarang kamu masuk ya, dan istirahat, tidurlah yang nyenyak, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, karena semua baik-baik saja." ucap tuan Hadiwinata lagi.


Tuan Hadiwinata pun sudah mengantarkan Riri dan baby Exzi untuk masuk ke dalam rumah, setelah itu tuan Hadiwinata kembali pergi untuk pulang untuk menemui istrinya yaitu nyonya Tata yang pasti ikut panik, karena suaminya tak kunjung pulang dan memberi kabar.


"Papa pulang dulu ya, kamu hati-hati di rumah." tuan Hadiwinata yang sudah pamit kepada Riri, lalu mengecup kening Riri dan mencium baby Exzi.

__ADS_1


"Iya pa, papa hati-hati di jalan, kabari Riri jika terjadi apa-apa."


__ADS_2