Surat Cerai Yang Ku Layangkan

Surat Cerai Yang Ku Layangkan
Berasa Ngefly


__ADS_3

"Dretsss.. Dretsss.." ponsel Riri yang berdering di atas meja rias nya, Riri yang melihat ponselnya berbunyi pun segera meraihnya. Ia melihat ada beberapa pesan dari Alex, seketika Riri pun langsung membacanya.


"Aku sudah di depan rumah, keluarlah." pesan dari Alex.


Riri yang mendapat pesan kembali meletakkan ponselnya, dan langsung keluar dari kamar untuk menemui Alex. tumben sekali Alex pagi-pagi ke rumah pikirnya.


"Ceklak." pintu yang sudah terbuka.


"Good morning sayang." sapa Alex sambil membawa sebuah buket bunga di tangannya.


Riri yang masih menggunakan baju piyama dengan rambut berbalut handuk seketika terkejut, mendapati Alex datang terlalu pagi dengan membawa sebuah bunga yang begitu cantik berwarna warni.


"Kok bawa bunga? buat apa?." tanya Riri yang sudah mengambil alih bunga tersebut dari tangan Alex.


"Ya buat kamu lah sayang, ini hadiah untuk kamu."


"Hadiah? hadiah apa, sepertinya hari ulang tahunku masih lama." Riri yang bingung dengan ucapan Alex.


"Udah nanti kamu juga tahu sendiri, udah mandi kan yuk cepat siap-siap aku mau bawa kamu pulang lagi ke rumah." Alex yang berjalan masuk sambil melingkarkan tangannya di perut buncit Riri.


"Lohh baru tadi malam aku dari rumah kamu Lex, masa iya ke sana lagi?." Riri yang menatap wajah tampan di sampingnya.


"Memang kenapa? kamu gak mau?."


"Bukannya gak mau, tapi gak enak aja." ucap Riri lirih.


Sebenarnya Riri malas ke rumah Alex karena nyonya Jini selalu bersikap dingin dan acuh kepadanya, itu membuat Riri serba salah, diam salah, bicara lebih salah. Tidak bergerak di bilang sombong, bergerak di bilang sok akrab. Riri selalu berfikir andai saja mama Alex merestui hubungan mereka, pasti tidak akan sesulit ini baginya.

__ADS_1


"Kok malah melamun sih, ayo cepat ganti baju, dandan yang cantik ya." Alex yang mengecup kening Riri secara halus.


Setelah hampir 30 menit Riri pun sudah siap, ia menggunakan baju kemeja yang longgar di padukan celana jins yang tidak terlalu ketat, dengan sepatu berwarna putih kasual. Riri begitu terlihat cantik menggunakan pakaian biasa, tidak lupa ia biarkan rambut panjangnya terurai begitu saja, dengan make up yang tidak terlalu tebal menghiasi wajah cantiknya.


Alex yang melihat Riri terus saja memujinya, Alex merasa Riri semakin hari semakin cantik. Mungkin anaknya cewek? karena menurut orang Jawa jika ibunya hamil semakin cantik itu tandanya baby nya perempuan.


Di dalam mobil Riri kembali merasa badannya panas, dingin, setiap dirinya akan berkunjung ke rumah Alex, ia merasa ber gemetar karena takut menghadapi nyonya Jini yang cuek nya minta ampun.


"Bagaimana apa kamu sudah bicara dengan papa, kalau aku akan datang ke rumah untuk melamar mu?." tanya Alex memecah keheningan.


"Aku belum sempat ke rumah papa, nanti sore kalau jadi sekalian nganterin dokumen yang di perlukan kak Bimo untuk kantor." jawab Riri sambil menoleh ke arah Alex di sampingnya.


"Ya sudah, nanti aku anterin, biar aku yang bilang sama papa, kalau aku akan datang melamar mu."


Riri yang mendengar ucapan Alex hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Setibanya di rumah Alex, dari dalam mobil Riri sudah melihat nyonya Jini sudah di depan pintu rumah, Riri yang melihat nyonya Jini semakin bergidik takut, Lagi-lagi jantung berdetak tanpa beraturan.


Di dalam hati Riri berkata pasti sebentar lagi ia akan kena omelan dan hujatan, karena nyonya Jini jelas-jelas tidak suka dengan kehadiran Riri di rumahnya, karena Riri tidak pernah di inginkan.


Riri berjalan pelan mendekat ke arah rumah megah tersebut, dengan wajah menunduk ke arah bawah karena menyiapkan mental untuk menatap mata tajam nyonya Jini yang seperti Elang yang siap menerkam mangsanya.


"Riri.." Nyonya Jini yang berjalan mendekat terlebih dahulu ke arah Riri dan langsung memeluk tubuh Riri.


Deggg...


Jantung Riri yang tadinya berdebuk begitu kencang, seketika merasa berhenti begitu saja, adegan apa ini.


"Hah.. kenapa nyonya Jini tiba-tiba memelukku, apa ini tidak salah." ucap Riri di dalam hati.

__ADS_1


"Maafkan tante ya Ri.. maaf jika tante selalu melukai perasaan mu dengan ucapan tante yang tidak baik."


Riri yang mendengar nyonya Jini memeluk dan meminta maaf kepadanya menjadi ngeFly, ia merasa tubuhnya tidak ada rasa beban apapun, dan ringan. Ketakutan yang selalu ia pendam dan ia tahan tiba-tiba hilang begitu saja.


"Kenapa tante minta maaf kepada Riri? tante tidak ada salah." ucap Riri yang masih tidak menyangka kenapa tiba-tiba nyonya Jini berubah, biasanya dia seperti singa yang akan memakan anaknya sendiri.


"Salah tante banyak sama kamu, kamu mau kan maafin tante." nyonya Jini yang mengusap pipi mulus Riri secara pelan.


"Tanpa meminta maaf, Riri sudah memaafkan tante." ucap Riri sambil tersenyum.


Alex yang melihat kekasih dan mamanya akur pun seketika bahagia, akhirnya sang mama bisa menerima hubungan mereka dengan baik, hati Alex terlihat damai melihat mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Nah.. gitu dong, kalau gitu kan di lihat enak, enggak bikin enek." tuan Argantara yang baru keluar dari dalam rumah kala melihat istrinya dan Riri saling tersenyum.


"Iya ya pa.. kenapa gak dari kemarin-kemarin kaya gini?." ucap nyonya Jini.


"Hah.. mama sih, pakek drama segala, kaya di TV-TV, judulnya terhalang restu dari orang tua." ucap tuan Argantara seketika membuat nyonya Jini, Alex, dan Riri tertawa.


"Ah.. papa ini apa-apa an sih.." nyonya Jini yang memukul lengan sang suaminya secara manja.


"Ya sudah yok masuk, di luar dingin." titah tuan Argantara, karena angin pagi di luar memang begitu kencang.


"Iya yok.. mama sudah masakin banyak buat kalian." ucap nyonya Jini yang masih menggenggam tangan calon menantunya.


"Buat kita apa cuma buat nona Riri ya Al?." tuan Argantara yang kembali. menyahut ucapan istrinya sambil melirik ke arah Alex.


Nyonya Jini yang lagi-lagi mendengar lelucon suaminya hanya tersenyum. Mereka ber empat pun sudah masuk ke dalam rumah. Alex yang berada di belakang mereka ber tiga pun seketika berhenti sejenak.

__ADS_1


"Terimakasih Tuhan, sudah mengabulkan doaku, seperti ini lah yang ku minta, dan engkau telah mengabulkannya." Alex yang begitu bersyukur dan bahagia.


__ADS_2