
Dua hari setelah memeriksakan kandungan ke dokter Wisma, Riri merasa perutnya berkali-kali kontraksi, terkadang hilang dan terkadang datang, pagi ini Riri baru saja terbangun dari tidurnya, namun saat bangun tidur perutnya kembali sakit, seperti kemarin, pikir Riri mungkin itu hanya kontraksi kecil seperti yang di jelaskan dokter Wisma kepadanya. Riri yang merasa ada yang aneh dengan perutnya pun mencoba untuk bangun dari ranjang.
"Aduh sayang.. kamu kenapa sih, dari kemarin kok rewel di perut mommy." ucap Riri sambil mengusap perutnya pelan.
Saat Riri duduk, ia merasa ada yang basah di bawah sana, Riri berpikir air apa yang tumpah, ia pun seketika semakin panik, air berwarna putih bukan berwarna darah. Kepanikan Riri seketika semakin membuat perutnya sakit.
"Apa kamu sudah mau lahir sayang, tapi usia kandungan mu, masih 8 bulan." ucap Riri lagi sambil meringis kesakitan.
Riri yang perutnya semakin sakit pun segera menghubungi Alex, karena di rumah Riri tidak ada siapa-siapa hanya bik Lili saja.
Riri segera meraih ponsel di sampingnya dan segera mencari nomor Alex, dan telfon pun sudah tersambung.
"Tut.. Tut.. Tut.." Alex yang tak kunjung mengangkat, namun tidak lama Alex pun mengangkat telfon dari Riri juga.
"Hallo sayang.. ada apa?." tanya Alex di dalam telfon.
"Hallo sayang.. apa kamu sedang sibuk." ucap Riri dengan nada yang begitu lemah.
"Aku baru saja sampai di kantor, kamu kenapa? apa kamu sakit kenapa nada suaramu seperti itu?." Alex yang terlihat panik.
"Perut ku sakit dari tadi pagi jam 5, aku kira hanya kontraksi kecil, tapi ada air keluar, apa itu ketuban?." ucap Riri.
__ADS_1
"Air ketuban? apa kamu sudah mau melahirkan? ya sudah aku akan ke sana sekarang, kamu jangan ke mana-mana ya, tunggu di kamar saja, dan panggil lah bik Lili kalau kamu butuh apa-apa." ucap Alex lalu mematikan sambungan telfon begitu saja.
Riri yang mendengar ucapan Alex hanya menurut, ia hanya duduk di ujung ranjang tempat tidur sambil berkali-kali merintih kesakitan.
"Bik.. Bik.. Bik Lili..." Riri yang memanggil ART nya, dan tidak lama bik Lili pun datang."
"Iya nyonya.. ada yang bisa saya bantu?." ucap bik Lili dengan logat jawanya. Bik Lili yang melihat majikanya terlihat pucat seketika mendekat. "Nyonya kenapa? apa nyonya sakit?."
"Tidak bik, perutku hanya sakit, dan tadi keluar air jernih, apa itu ketuban?." Riri yang tidak mengetahui air apa itu sebenarnya, karena ini baru pertama kalinya Riri merasakan hamil dan kontraksi.
Bik Lili yang mendengar ucapan majikannya pun seketika langsung menatap ke arah lantai dan kaki majikannya. "Oh ya nyonya.. seperti nyonya sudah mau melahirkan, karena air ketuban nyonya sudah pecah." ucap bik Lili.
"Tidak usah bik, Alex sudah menuju ke sini, biar Alex saja yang mengantar ku ke rumah sakit."
Bik Lili yang mendapat perintah dari majikanya pun hanya menurut, bik Lili kembali membantu Riri untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aduh bik.. perutku sangat sakit.." Riri yang udah tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya. "Rasanya ada yang ingin keluar bik." lanjut Riri.
"Sabar nyonya.. tahan dulu, sebentar lagi tuan Alex akan datang." bik Lili yang juga sangat panik karena Alex tak kunjung datang, sedangkan Riri sudah begitu kesakitan.
Setelah menunggu beberapa menit, Alex pun sudah datang, ia terus berlari dengan kencang untuk menuju ke kamar Riri, Alex langsung membuka pintu kamar begitu saja. "Sayang.." ucap Alex langsung mendekat ke arah Riri.
__ADS_1
"Perut ku sakit sayang." Riri yang udah menitihkan air matanya, seketika membuat Alex semakin panik.
"Sepertinya nyonya sudah mau melahirkan tuan, karena air ketuban nya sudah pecah, jangan menunggu terlalu lama, itu bisa berbahaya, tuan harus segera membawa nyonya ke rumah sakit." ucap bik Lili yang memberi tahu.
Dengan sangat sigap Alex pun membawa tubuh Riri di gendongannya, ia terus berjalan untuk menuju ke mobil, sopir pribadi Riri pun dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk majikanya.
"Ayo pak, kita ke rumah sakit sekarang, cepat." perintah Alex yang sudah meletakkan Riri di dalam mobil.
Mobil Alphard hitam pun sudah melaju cukup kencang menuju ke rumah sakit, beberapa kali pak sopir menekan klakson untuk mendahului pengendara-pengendara yang lainnya, jalan tampak sedikit ramai karena jam masuk kerja.
"Aduh.. perut ku sakit." Riri yang terus meringis kesakitan.
"Ayo pak.. bisa lebih cepat lagi tidak.. calon istri saya sudah kesakitan ini." ujar Alex, yang semakin panik.
"Baik Pak..." sopir pribadi Riri yang langsung berbelok untuk mencari jalan alternatif agar lebih cepat sampai di rumah sakit, karena jalan raya begitu macet, karena banyak pengendara yang masuk kerja.
Hanya memerlukan waktu 15 menit, mobil pun sudah sampai di depan rumah sakit, Alex segera membawa Riri dengan begitu hati-hati, namun dengan sigap tenaga medis mendekat untuk segera membawa Riri ke ruang persalinan.
"Kamu yang kuat ya sayang." ucap Alex sambil mengusap kening Riri.
Riri terus di dorong dengan menggunakan Hospital Bed, menuju ke ruang persalinan, dengan Alex yang terus mendampingi Riri sampingnya, tenaga medis melangkah begitu cepat, karena mengingat pasien sudah begitu pucat.
__ADS_1