
“Cara berpikirmu itu selalu aneh.” Jenson turut bangkit dan menghampirinya. Rachel harus mengagumi caranya bergerak. Gerakannya kurang angkuh, sebab Jenson tidak berusaha untuk tidak terlihat angkuh. “Kalau kita bermain lagi, apa pun yang kita mainkan, kau tidak akan bisa mencurangiku lagi.”
Rachel tersenyum padanya. “Jenson, kita sudah lama saling mengenal, jadi kau tak bisa mengintimidasi aku.” Ia mengangkat tangan untuk menepuk pipi Jenson dan mendapati pergelangan tangannya dicekal untuk yang kedua kali. Dan untuk kedua kalinya ia melihat dan merasakan sesuatu yang sama, sesuatu yang berbahaya yang tadi dirasakannya di lantai atas.
Kini tak ada lagi Kakek Robert yang biasanya menjadi penengah di antara mereka berdua. Mungkin mereka berdua baru mulai menyadarinya. Apa pun yang ada di antara mereka yang membuat mereka menggeram dan membentak, harus menghadapi waktu enam bulan yang panjang.
Mungkin tak ada satu pun dari mereka yang ingin menghadapinya, tapi keduanya terlalu keras kepala untuk mundur.
“Mungkin kita baru mulai saling mengenal,” gumam Jenson.
Rachel setuju tapi tetap tidak menyukai Jenson meski Jenson bukanlah si bodoh berperawakan besar seperti Yagil ataupun si besar tak berbahaya seperti David. Mungkin ia dan Jenson hanya saudara sepupu, tapi darah di antara mereka selalu saja mendidih. Ada kekerasan dalam diri Jenson, dan terkadang itu tercermin di sorot matanya, di cara ia menahan diri, seolah-olah ia berupaya tidak menghindari suatu bahaya tapi malah menghadapinya.
Rachel mengenalinya karena ia sendiri juga memiliki kekerasan itu. Mungkin itulah mengapa ia selalu merasa terpaksa melempar anak panah ke arah Jenson, cuma untuk melihat berapa banyak yang bisa dikembalikan Jenson padanya.
Mereka terpaku di tempat mereka selama beberapa saat, menaksir kekuatan masing-masing. Hal paling bijaksana untuk dilakukan sekarang adalah dengan menyingkir. Rachel mengangkat dagu Jenson bersiap untuk mendorongnya, namun Jensontak bergerak sebab Jenson memegang tangannya dengan erat. “Kita bertengkar lain kali saja, Jenson. Saat ini aku capek menempuh perjalanan dari Malang. Apa kau setuju kita berdamai untuk sementara ini?”
“Peraturan nomor lima,” ucap Rachel, Jenson belum mau melepaskan tangannya. "Tidak ada ciuman, s*x dan semacamnya. Mau bagaimana pun ini adalah pernikahan sementara jadi aku tidak mau menyerahkan keperaw*nanku padamu. Aku masih berharap bisa bertemu dengan pria yang tepat, kemudian menikah dan hidup bahagia dengannya. Dan ini termasuk tidak mencampuri urusan asmara masing-masing. Kau silahkan berpacaran dengan penari gila itu, dan aku akan mencari pangeran berkuda putihku."
Jenson mengerutkan keningnya. "Sudahku katakan aku tak memiliki hubungan apa-apa dengannya," ia melepaskan lengan Rachel dan menatap tubuh mungil sepupunya itu. "Lagi pula siapa yang mau menidurimu, kau sama sekali bukan tipeku."
__ADS_1
Sebelum Rachel berkicau lebih banyak untukmmembalas ucapannya. Jenson lebih dahulu meninggalkannya. "Sampai jumpa saat makan malam, Sepupu."
...****************...
Rachel TERBANGUN sebelum matahari terbit, terjaga, cukup istirahat, dan penuh energi. Entah karena udara sejuk kediaman kakeknya atau enam jam tidur nyenyak, ia sudah siap dengan pernikahannya bersama Jenson.
Meski tak banyak yang ia siapkan untuk hari pernikahannya. Rachel hanya membeli sebuah gaun sederhana tanpa ekor dari butik yang kemarin ia kunjungi di Malang, untuk riasannya pun ia berencana merias dan mencepol rambutnya sendiri seperti yang biasa ia lakukan saat menghadiri sebuah pesta.
Tak perlu mengenakan riasan pengantin sungguhan, pikirnya. Sebab tak akan ada yang datang, termasuk kedua orangtuanya yang tengah sibuk meliput salah satu hutan di Kalimantan, sementara orang tua Jenson sudah sibuk dengan pasangan baru mereka masing-masing. Baik kedua orang tuanya maupun ke dua orang tua Jenson hanya menitipkan doa untuk mereka.
Agaknya kedua orang tua mereka, juga berpikir jika ia dan Jenson menikah hanya karena harta warisan Kakek Robert, seperti yang ada di pikiran saudara-saudara mereka yang lainnya yang kemarin turut hadir dalam pembacaan harta warisan Kakek Robert.
Mereka berhasil melalui makan malam tanpa ribut-ribut. Mungkin mereka saling bersikap ramah karena Nyoman dan Jesica, atau mungkin karena sama-sama terlalu letih untuk saling mengecam. Rachel tak begitu yakin.
Mereka makan malam di bawah cahaya temaram dari sebuah tempat lilin besar dan bercakap-cakap tentang, rencana pernikahan hari ini, cuaca dan makanan.
Pukul sembilan mereka mencari kesibukan masing-masing, di kamar mereka masing-masing. Rachel membaca sampai matanya tertutup dan Jenson bekerja di ruang kerjanya.
Selesai menghabiskan sepotong muffin dan segelas teh hangat, Rachel kembali ke kamarnya, bersiap untuk merias wajahnya. Meski terlihat simple, nyatanya Rachel menghabisakan waktu hampir tiga jam untuk merias wajah dan menata rambutnya.
__ADS_1
Nyoman datang menjemput Rachel ketika Rachel telah siap. Jesika memuji kecantikan Rachel seraya memberikan buket bunga anggek yang di petik dari taman kediaman kakek Robert.
"Apa pendeta dan Mrs. Zephaniah sudah hadir?" tanya Rachel.
"Semua sudah menunggu anda turun," Nyoman menyodorkan lengannya, siap menggandeng Rachel menuju taman, tempat di langsungkannya pemberkatan.
Entah siapa dan kapan di sulapnya taman di samping kediaman Kakek Robert, menjadi altar pernikahan yang cantik, yang di kelilingi oleh bunga-bunga segar. Jenson terlihat berbeda dari biasanya, ia nampak rapih dengan stelan jas berwarna putihnya, tak bisa Rachel pungkiri, jika dia terlihat tampan hari ini. Dia tersenyum, berdiri di hadapan pendeta, menyambut kedatangan Rachel.
Rachel sempat menitikan air mata harunya, saat Jenson mengucapkan janji pernikahan, namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang menggenang. Rasanya ia terlihat bodoh, merasa haru terhadap sesuatu yang hanya akan berlangsung enam bulan.
Tanpa Rachel ketahui, air mata Jenson pun sempat mengenang di sudut matanya, ketika Rachel mengucapkan janji pernikahan. Pemberkatan berlangsung singkat, Rachel melotot ke arah Jenson ketika pendeta mempersilahkan Jenson untuk mencium istrinya.
Astaga bibirku yang selama ini aku jaga hanya untuk suamiku kelak, ternoda oleh Jenson, batin Rachel. Ia memejamkan matanya erat-erat ketika Jenson mendekatkan wajahnya ke arahnya. Astaga bagaimana ini?
Cup..
Jenson mendaratkan kecupannya di kening Rachel, dan Rachel menghembuskan napas leganya. Selesai acara, mereka semua menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh Jesica. Jenson dan Rachel baru menandatangani kontrak persetujuan persyaratan warisan Kakek Robert, setelah pendeta dan pemain piano yang mengiringi pemberkatan mereka telah meninggalkan kediaman Kakek Robet.
"Aku akan selalu mengawasi kalian berdua," ucap Mrs. Zephaniah.
__ADS_1