Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 36


__ADS_3

Setelah berjam-jam akhirnya perasaan marah Rachel kepada keluarga tersayangnya yang hampir meracuni dirinya perlahan berkurang. “Kau tidak perlu merasa bersalah, aku yang sepenuhnya bertanggung jawab atas diriku sendiri. Aku tak ingin berhenti,” tambahnya sebelum Jenson sempat memotong. “Aku mengatakan bahwa aku tidak menginginkan uang, dan itu benar. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak memerlukannya, dan itu tidak sepenuhnya benar. Dan di atas semua itu, ada harga diri. Aku takut, ya, tapi aku tidak ingin berhenti. Oh, berhentilah mondar-mandir dan duduklah di sini, Jenson” Perintah itu hampir membuat Jenson tersenyum. Ia mendekat dan duduk di tempat tidur itu.


“Kau sudah lebih baik, sayang?”


Rachel menatapnya lama dan mantap, dengan sedikit pertanda sebuah senyuman samar “Ya Jenson, aku sudah berbaring di sini selama berjam-jam memikirkan hal itu. Aku menyadari beberapa hal. Kau pernah sekali menyebutku tinggi hati, dan mungkin kau benar, karena aku tidak terlalu memikirkan soal uang. Sewaktu Kakek Robert mengagetkan semua orang dengan surat wasiat yang di tulisnya, aku menganggapnya sebagai lelucon sekaligus tamparan bagi mereka yang tak pernah memperdulikan kakek. Aku sudah mengira mereka akan menggerutu dan mengeluh tapi hanya itu saja.” Ia mengangkat permukaan tangannya. “Hanya uang, mereka bisa sekejam itu.”


“Pernah mendengar istilah rakus atau haus kekuasaan?”


“Mungkin, aku tidak berpikir sejauh itu. Seberapa banyak yang kau tahu tentang semua orang itu? Mereka memang selalu membuatku bosan atau jengkel, tapi aku tidak pernah memikirkan mereka secara perorangan.” Kini disisirnya rambutnya dengan tangan sehingga selimut itu turun ke pinggangnya. “Bianca pasti seumuran denganku, tapi aku tidak bisa mengira-ngira suatu hal yang bisa menjadi kesamaan kami. Aku mungkin berpapasan dengan istri Yagil di jalan dan melewatinya begitu saja tanpa mengenalinya.”


"Aku juga sulit sekali mengingat namanya,” timpal Jenson, dan mendapatkan ******* dari Rachel.


“Itulah maksudku. Kita tidak benar-benar mengenal mereka. Keluarga ini, mirip semacam lelucon. Kita tidak tahu siapa mereka dan apa yang mampu mereka lakukan? Aku baru mulai memikirkannya. Ini bukan lelucon, Jenson.”


“Memang bukan.”


“Aku ingin melawan, tapi tidak tahu bagaimana caranya.”


“Cara paling pasti adalah dengan tetap tinggal di sini. Dan mungkin,” tambahnya, lalu meraih tangan Rachel. Tangan itu terasa dingin dan lembut. “Tambahkan sedikit perang psikologis.”


“Misalnya?”


“Bagaimana kalau kita mengirimkan sebotol sampanye kepada masing-masing kerabat kita?”

__ADS_1


Senyum Rachel mengembang perlahan-lahan. “Sebotol.”


“Akan menarik untuk melihat reaksi macam apa yang akan kita dapatkan. Ya, kan?”


“Itu tindakan yang nakal, bukan?”


“Uh hmm.”


“Mungkin aku belum memberikan penghargaan kepada otakmu yang kreatif itu.” Rachel terdiam saat Jenson memain-mainkan rambutnya dengan ujung jemarinya. “Kurasa kita perlu tidur.”


“Kurasa juga begitu.” Tapi jarinya terus menuruni bahu Rachel.


“Aku tidak begitu lelah.”


“Boleh," ucap Rachel, ia tidak berusaha mencegah sewaktu Jenson menurunkan tali tipis baju dalamnya dari bahunya.


“Atau…” Jenson melihat reaksi Rachel, ia tak ingin membuat Rachel marah. “Kita bisa menyelesaikan sesuatu belum kita lakukan beberapa hari lalu."


Rachel menarik tubuhnya menjauh dari Jenson, ia langsung paham jika Jenson ingin bercinta dengannya, "Tidak Jenson!! Aku tidak mau."


"Aku tahu kau sangat khawatir aku meninggalkanmu, tapi aku berani bersumpah aku tidak akan meninggalkanmu kecuali kau yang meminta cerai." Jenson mengangkat tangan Rachel dan menyentuhkan bibirnya ke punggung tangan itu.


Rachel membeci hati dan tubuhnya yang mulai berkhianat dengan pikirannya, hatinya menginginkan cinta dan kenyamanan dari Jenson, dan tubuhnya mendamba sentuhan pria itu. Tanpa ia sadari, Rachel melingkarkan tangannya di leher Jenson, saat Jenson mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Rachel.

__ADS_1


“Janji?”


"Janjiku di hadapan Tuhan, di hari pernikahan kita kemarin," Jenson mendekap erat tubuh mungil Rachel, kemudian mereka menjatuhkan diri ke tempat tidur bersama-sama.


Masing-masing dari mereka bergerak perlahan, gairah saat itu terasa nyaman, dan mudah dipuaskan dengan sentuhan. Naf*u bergelora dalam diri Jenson meluap melalui helaan napas. Inci demi inci ia menjelajahi tubuh Rachel dengan ujung-ujung jemarinya, dan dengan bibirnya. Ia sudah menunggu terlalu lama, sudah menginginkannya terlalu lama, untuk melewatkan setiap bagian yang dapat mereka berikan pada satu sama lain.


Rachel menyentuh tubuh Jenson dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya. Mulutnya menuntut sekaligus memberi. Ketika bibir Jenson berpisah dengan bibirnya, tatap matanya hanya pada pria itu, berkabut oleh hasrat, gelap oleh rasa, takjub akan lelucon yang dibagi bersama-sama. Mereka tengah bersama, pikir Jenson seraya membenamkan wajahnya di rambut Rachel. Ia dan Rachel benar-benar menjadi sepasang suami istri sungguhan.


Tangan Rachel mantap melucuti baju hangat Jenson melewati kepalanya, ia kemudian menyusuri dada bidang suaminya. Kulitnya bersentuhan dengan kulit Jenson pada setiap gerakan. Setiap gerakan yang memikat. Bersama detak jantungnya yang menggebu, Jenson berkelana lebih rendah lagi. Dengan kecupan-kecupannya ia mempelajari tubuh Rachel dengan cara yang dahulu hanya bisa dibayangkannya. Aroma tubuh Rachel ada di mana-mana, samar pada lekuk pinggangnya, lebih tajam di bagian bawah payud*ranya yang lembut. Jenson menekuninya dan membiarkannya menyelam di kepalanya.


Sewaktu erangan muncul pada desah napas Rachel, Jenson mengajaknya lebih dalam lagi. Mereka mencapai suatu titik di mana ia tidak lagi tahu apa yang telah mereka saling lakukan, hanya tahu bahwa kekuatan sudah bertemu dengan kebutuhan dan kebutuhan sudah menjadi keputusan.


Kulit Jenson basah. Rachel merasakan kelembapannya dan menjelajah lebih jauh lagi. Jadi inilah gairah. Inilah dahaga menggetarkan yang ingin digapai setiap pria dan wanita. Benaknya dipenuhi sensasi seperti tubuhnya yang terasa hangat dan ringan. Kerapuhan itu menyerangnya meskipun tubuhnya melengkung kaku dan tangannya memeluk Jenson.


Dengan napas yang tersengal-sengal, diseretnya mulut Jenson untuk kembali ke mulutnya. Mereka bergulingan di tempat tidur. Tak ada seorang pun yang sudah merasa cukup. Ketika ia menarik lepas celana jins Jenson, lelaki itu membawanya lebih tinggi lagi. Jenson menginginkan kegilaaan itu, untuk dirinya dan untuk diri Rachel. Kini Jenson merasakan kekuatan liar itu tumpah dari diri Rachel. Tidak ada berpikir lagi di sini, tidak ada logika. Ia bergulir menindihnya lagi, bersuka ria di atas napas Rachel yang memburu.


Rachel mendekapnya, dengan lengan dan kakinya. Sewaktu mereka bersatu, masing-masing menyaksikan rasa takjub pada wajah pasangannya. Mereka sudah pulang. Masing-masing menemukan rumah tempat yang paling damai untuk berlabuh.


...****************...


Ada keheningan, kebekuan, kesunyian yang ganjil. Mereka berbaring di atas ranjang saat kayu yang tadi ditambahkan Jenson ke perapian terbelah dan memercikkan bunga api ke kasa penyekatnya. Mereka sudah saling mengenal dengan baik, terlalu baik untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi. Jadi mereka berbaring diam dengan kulit yang mendingin dan detak jantung yang kembali normal. Jenson beranjak menarik selimut untuk menghangatkan mereka berdua.


“Selamat Natal istriku sayang,” gumamnya.

__ADS_1


Dengan suara yang sekaligus merupakan helaan napas dan tawa, Rachel menyandarkan tubuhnya di tubuh Jenson.


__ADS_2