Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 23


__ADS_3

Rachel menggelengkan kepala. “Aku tidak mau kau memikirkan itu. Aku akan menelepon Mrs. Zephaniah dan menjelaskan soal ini. Mungkin dia bisa melakukan sesuatu. Lagi pula, ini kan masalah darurat. Kalau dia tidak bisa memaklumi....”


Jenson mengambil langkah yang bisa menghilangkan miliaran uang dari genggaman Rachel. Miliaran uang dan rumah yang dicintainya. Terkoyak, Jenson mendekatinya dan meletakkan tangannya di bahu Rachel. Wanita itu begitu ramping. Jenson telah lupa bagaimana seorang wanita kuat bisa menjadi begitu rapuh. “Maafkan aku, Rachel. Seandainya saja ada cara lain…”


“Jenson, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menginginkan uang itu. Aku bersungguh-sungguh.”


Jenson mengamatinya selama beberapa saat. Ya, kekuatan itu ada di sana, kekeraskepalaan dan kebaikan yang sering ia lupakan. “Aku percaya,” gumamnya.


“Selanjutnya yeah, kita lihat saja nanti. Sekarang cepat berangkat sebelum kau ketinggalan pesawat.” Rachel menunggu sampai Jenson menyambar tasnya lalu berjalan mengiringi pria itu ke arah ruang tamu. “Telepon aku kalau kau sempat dan beri kabar tentang ibumu.”


Jenson mengangguk, mulai melangkah ke arah tangga, lalu berhenti. Diletakkannya tasnya, kemudian berbalik dan mendekap Rachel. Ia mendaratkan kecupan di bibir Rachel, kecupan penuh bara yang sama sekali tidak ditutup-tutupi. Tiba-tiba dilepaskannya pelukannya. “Sampai jumpa, Istri.”

__ADS_1


“Yeah” Rachel menelan ludah. “Sampai jumpa.”


Rachel tetap terpaku di tempatnya berdiri sampai ia mendengar suara pintu depan ditutup.


Rachel punya cukup banyak waktu untuk memikirkan ciuman itu, sepanjang makan malam yang sunyi, selama saat-saat ia mencoba membaca dibantu terang perapian nan riang di ruang tamu. Ciuman itu terjadi karena ia simpatik, pada Jenson yang tengah kebingungan.


Dan untuk kedua kalinya ia mendapati dirinya sendirian di rumah itu, dan yang membuatnya heran, ia merasa kesepian. Padahal sudah ada api yang terang, bukunya yang menghibur, serta brendi yang diseruputnya untuk menghangatkan tubuhnya di tengah derasnya hujan yang turun.


Tapi ia memang kesepian. Setelah sebulan lebih sedikit, ia mulai tergantung pada keberadaan Jenson untuk menemaninya. Bahkan ia antusias menjalaninya, meski terasa aneh. Ia senang duduk berseberangan dengan Jenson pada waktu-waktu makan, berdebat dengannya. Ia gemar menyaksikan cara Jenson bertengkar dengannya, rasanya seperti mau meledak sewaktu Jenson menggodanya, memanggilnya istri, seolah dirinya istri sungguhan.


Rachel mengira-ngira kapan bisa bertemu Jenson lagi. Dan ia menduga-duga apakah kini mereka harus batal menghabiskan waktu enam bulan pernikahan bersamanya. Jika syarat-syarat dalam surat wasiat itu dilanggar, tidak akan ada lagi alasan bagi mereka untuk tetap bersama. Bahkan mereka sama sekali tak berhak lagi tinggal di rumah kakek Robert. Mereka akan kembali ke rumah masing-masing, dan karena di tempat itu gaya hidup mereka berbeda, mereka tidak akan pernah bertemu lagi satu sama lain. Baru kali ini, saat dimungkinkan, Rachel sepenuhnya menyadari betapa ia tidak menginginkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Ia tak ingin kehilangan rumah kakek Robert. Ada begitu banyak kenangan di tempat ini, begitu banyak kenangan yang penting. Akankah kenangan itu memudar saat ia tak bisa lagi masuk ke ruang-ruangnya dan membawa mereka kembali? Ia tak ingin kehilangan suami seperti Jenson. Kehilangan seorang teman, ralatnya segera.


Keberadaan Jenson didekatnya ternyata diluar perkiraannya. Jenso mampu menambahkan percik-percik gairah pada hari-harinya. Sambil mend*sah, Rachel menutup bukunya dan memutuskan bahwa tidur lebih awal akan lebih produktif daripada cuma berspekulasi membayangkan Jenson. Saat mengulurkan tangan untuk mematikan lampu, lampu itu sudah mati sendiri. Yang tertinggal hanyalah nyala api dari perapian.


Aneh, pikirnya sambil meraih sakelar lampu. Setelah memajukan dan memundurkannya, ia bangkit, menyalakan bola lampu yang tidak beres. Tapi ketika melangkah ke ruang tamu, ia mendapati ruangan itu diliputi kegelapan. Lampu yang dibiarkannya menyala sudah mati, bersama lampu yang selalu dibiarkan menyala di puncak tangga. Sekali lagi Rachel meraih sakelar lampu dan sekali lagi ia mendapatinya tak berfungsi.


Mati lampu, ucapnya. Selama beberapa menit ia menunggu lampu emergensi yang terpasang di beberapa sudut rumah menyala, tapi ternyata tidak, rumah itu tetap gelap gulita. Rachel tak pernah memikirkan betapa gelapnya gelapnya kediaman kakakenya. Perlahan ia mulai berjalan ke kamar tamu untuk mengambil lilin, seketika hal lain terpikir olehnya. Rumah itu dihangatkan dengan listrik. Jika listrik tidak segera menyala kembali, tak lama lagi rumah itu akan menjadi sangat dingin dan gelap. Dengan dua orang berusia tujuh puluh tahunan di rumah itu, Rachel tak bisa tinggal diam begitu saja.


Akhirnya, ia menemukan tiga batang lilin di wadah perak kemudian menyalakannya. Tak ada gunanya mengganggu tidur Nyoman dan menyeretnya turun ke lantai dasar. Mati listrik ini mungkin hanya disebabkan oleh satu atau dua sekring yang putus. Seraya membawa lilin itu di depannya, Rachel mereka-reka langkahnya melalui ruangan berkelok menuju gudang bawah tanah.


Ia tidak kesal karena harus turun menuju gudang bawah tanah di dalam kegelapan. Begitulah yang dikatakannya pada diri sendiri sewaktu ia berdiri terpaku dengan sebelah tangan pada pegangan pintu. Lagi pula tempat itu cuma sebuah ruangan biasa. Dan sebuah ruangan, yang seingatnya, penuh dengan peninggalan-peninggalan beberapa hobi kakeknya yang ganjil. Kotak sekring ada di sana. Ia pernah melihatnya sewaktu menolong kakeknya memindahkan beberapa kotak peralatan fotografi ke gudang setelah kakeknya itu memutuskan untuk tidak lagi meneruskan idenya menjadi fotografer. Rachel akan pergi ke bawah, memeriksa sekring yang putus, lalu menggantinya. Setelah penerangan dan penghangat selesai diurus, ia akan mandi air hangat dan pergi tidur.

__ADS_1


Namun ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintunya.


Tangga yang dinaikinya berderak. Itu sesuatu yang sudah bisa diduga sebelumnya. Tangga itu curam dan sempit seperti tangga-tangga gudang bawah tanah pada umumnya. Cahaya lilin membuat bayangan berdansa di kotak dan peti yang disimpan kakeknya.


__ADS_2