
Rachel merasakan kehangatan atas sikap manis Jenson padanya. Ia mengenalnya begitu lama, tidakkah seharusnya ia mengetahui hal itu? Tubuh Rachel terasa siap untuk bereaksi saat Jenson menyelipkan lidahnya ke mulut Rachel, lidah Rachel menemuinya dengan menggoda, seperti ingin bermain-main.
Perut Jenson bergejolak Rachel membuatnya menginginkan lebih, apalagi dengan aroma alami tubuh Rachel, membuat bagian tubuh Jenson tegang. Ia menyisipkan jemarinya ke rambut Rachel, menguatkan cengkeramannya.
Kini, saat mulutnya menjelajahi mulut Janson, jejak di pipi Janson yang belum dicukur tak membuatnya terganggu seperti yang ia perkirakan, itu malah membuatnya bergairah. Ketidaknyamanan lantai yang keras, semburan udara dingin melalui pintu yang masih terbuka, tak mereka hiraukan.
Keduanya merasakan kenyamanan, lalu gigitan singkat gigi Janson di bibirnya membuatnya merasa seakan-akan baru saja mendarat di sebuah daerah tak berpenghuni. Daerah baru adalah tempat ia dibesarkan selama ini, namun dalam pengalamannya, ia tak pernah menjelajahi sesuatu yang begitu unik, begitu eksotis ataupun begitu nyaman. Rachel ingin terus, tapi ia tahu ia harus berhenti.
Mereka menjauhkan diri secara bersama-sama.
“Well.” Rachel berupaya menyeimbangkan diri seraya melipat tangannya di pangkuan. Bersikap-lah santai, perintahnya pada diri sendiri sementara jantungnya berdebar teramat kencang. Jangan bersikaplah ceroboh, Rachel tak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat Janson menertawakannya. “Hanya sekali ini saja, tidak akan terulang dan tidak akan lebih dari ini."
Janson merasa seolah-olah baru saja tergelincir turun dari roller coaster tanpa menaiki keretanya. “Okay.” Ia mengamati Rachel selama sesaat, ingin tahu dan agak terkesima. Saat melihat jemari Rachel ditautkan, ia merasakan sebersit kepuasan. “Aku mengikuti aturan yang kau buat.”
“Banyak hal terjadi tanpa kita harapkan.” Terlalu banyak kejutan dalam sehari, Rachel bangkit dengan terhuyung. Ia membuat kesalahan dengan melihat sekeliling dan nyaris terbenam ke lantai lagi.
“Rachel...”
“Tidak, jangan khawatir.” Ia menggelengkan kepala sewaktu Janson bangkit. “Aku baik-baik saja.” Memusatkan diri untuk bernapas teratur, dipandanginya ruang kerjanya. “Kelihatannya kau benar soal kunci itu. Kurasa aku mesti bersyukur karena kau belum mengatakan ‘sudah kubilang’.”
“Mungkin aku akan mengatakan itu, kalau itu sudah kau terapkan.” Janson memungut zamrud-zamrud yang berserakan di meja Rachel. “Aku bukan ahlinya, istriku, tapi aku berani mengatakan bahwa batu-batu ini bernilai puluhan bahkan ratusan juta.”
__ADS_1
“Jadi?” Rachel merengut sewaktu alur pikirannya mulai menyesuaikan diri dengan alur pikiran Janson . “Tidak akan ada pencuri yang mau meninggalkan batu berharga semacam ini begitu saja.” Sambil menunduk, dipungutnya seraup bebatuan. Terdapat dua butir berlian mutu terbaik di sana. “Atau ini.”
Sesuai kebiasaan, Janson mulai menyatukan langkah-langkahnya dalam semacam skenario mental. Aksi dan reaksi, motif dan hasil. “Aku berani bertaruh, kalau kau sudah selesai melakukan pengecekan, kau tidak kehilangan apa pun. Siapa pun yang melakukan ini tidak ingin mengambil risiko menerobos masuk secara paksa dan melakukan vandalisme.”
Sambil mengembuskan napas, Rachel duduk di atas mejanya. “Kau berpikir bahwa orang itu salah seorang anggota keluarga kita?” tanya Rachel.
“Mereka berpendapat bahwa kita takkan bertahan lama,” ucapnya seraya membenamkan kedua tangannya di saku. “Tak ada seorang pun dari mereka yang percaya bahwa kita mampu melewati enam bulan bersama-sama. Kenyataannya kita mampu melewati dua minggu pertama ini tanpa halangan. Ini bisa membuat salah seorang dari mereka cukup gugup sampai ingin memperkeruh suasana. Apa reaksi pertamamu ketika melihat semua ini?”
Rachel menyusupkan jemarinya ke rambut. “Bahwa kau melakukannya untuk membuatku jengkel. Persis seperti yang diharapkan sanak keluarga kita. Sialan, aku benci kalau sikapku bisa ditebak.”
“Kita bisa mengakali mereka kalau pikiranmu sudah jernih.”
Ia memandang sekilas pada Janson , ragu apakah ia mesti berterima kasih padanya atau meminta maaf lagi, tapi lebih baik tidak melakukan keduanya. “Yagil?” cetus Rachel. “Tipuan rendahan macam ini pas sekali untuknya.”
“Ya kamu benar."
Apa Paman Diara Yosef? Sepertinya bukan, tampaknya itu terlalu kasar untuk gayanya. Bianca pasti akan terlalu takjub terhadap kilauannya, hingga tak bisa melakukan apa pun kecuali menimang-nimangnya." Jenson mencoba menganalisis saudar-saudara mereka.
Rachel mencoba membayangkan salah seorang saudaranya yang lemah lembut dan beradab tengah emegang dan menggunakan sepasang catut. “Yah, kurasa tidak terlalu penting siapa di antara mereka yang melakukannya. Mereka membuatku terlambat dua minggu menerima komisi.” Sekali lagi dipungutnya potongan-potongan emas tipis. “Ini tidak akan jadi sama seperti dulu lagi,” gumamnya. “Tidak sama lagi kalau sudah kususun kembali.”
“Tapi terkadang, malah menjadi lebih baik. Aku percaya kau bisa melakukannya, istriku.”
__ADS_1
Sambil menggeleng, Rachel melangkah mendekati penghangat ruangan. Kalau Janson memberinya simpati lebih banyak lagi sekarang, ia takkan mampu mempercayai dirinya sendiri. “Dengan cara ini atau cara lainnya, aku harus memulainya. Katakan pada Jesica bahwa aku tidak akan sempat kembali untuk makan siang.”
“Aku akan membantumu membereskan ini.”
“Tidak.” Ia berbalik, melihat Janson sedang cemberut. “Tidak, sungguh, Janson , aku menghargai tawaranmu, tapi aku butuh sendirian.”
Janson tidak menyukainya, tapi ia bisa memahami. “Baiklah. Sampai jumpa saat makan malam.”
“Janson…” panggi Rachel.
Lelaki itu berhenti di dekat pintu lalu berbalik.
Di tengah kebingungannya Rachel masih tampak kuat dan berani.
“Mungkin Kakek Robert benar,” ujar Jenson.
“Tentang apa?”
“Kau memiliki kualitas yang sangat istimewa.” Janson tersenyum pada Rachel, sekilas namun mempesona, kemudian ia pergi dan menutup pintu ruang kerja Rachel.
Rachel tidak percaya takhayul, tapi ia nyaris berpikir bahwa tadi ia mendengar tawa riuh Kakeknya.
__ADS_1
Digulungnya lengan bajunya dan mulai bekerja.