
Mereka meninggalkan Robert's pada pagi hari setelah Natal. Matahari bersinar dengan sangat cerah, secerah foto kakek Robert yang terpajang di dinding perpustakaan.
Setelah cekcok sebentar, mereka sepakat bahwa Rachel-lah yang akan mengemudi ke Bogor dan Jenson yang akan mengemudi pada perjalanan pulangnya, mereka akan mengemudi secara bergantian. Jenson mendorong kursinya ke belakang sampai mencapai batasnya dan berhasil meluruskan kaki. Sedangkan Rachel mengemudi dengan hati-hati saat menelusuri jalan yang licin karena bekas hujan. Mereka sama sekali tidak berbicara sampai ia mencapai jalan tol yang cukup lengang sebab masih terlalu pagi.
“Bagaimana kalau mereka tidak membiarkan kita masuk?”
“Kenapa mereka mesti melakukan itu? kenapa kita tidak boleh masuk?” Rachel lebih memilih mengemudi dibandingkan duduk diam, Jenson beringsut di kursinya. Untuk pertama kalinya ia merasa tak sabar menghadapi bermil-mil jarak yang memisahkan Robert’s dan Bogor.
“Bukankah itu seperti menghitung jumlah ayam?” Rachel menaikan pendingin mobil satu tingkat dan melonggarkan kancing-kancing kemejanya. “Kita belum menjadi pemilik tempat itu kan.”
“Cuma masalah teknis.”
“Kau selalu congkak.”
“Kau selalu memandang dari sisi yang negatif.”
“Dengar…“ Jenson mulai mengatakan sesuatu yang bernada mengkritik, tapi kemudian ia menyadari betapa eratnya Rachel mencengkeram kemudi. Dia tegang, renungnya. Walaupun pemandangannya saat ini sangat indah, di samping kanan kiri mereka banyak pepohonan hijau yang seharusnya membuat suasana menjadi tenang, tetapi mereka tidaklah benar-benar mampu berpura-pura sedang bertamasya. Ia sendiri juga tegang, dan itu dikarenakan sampanye yang diracuni itu.
Jenson masih tak percaya jika ia akan terbangun di sisi Rachel dalam cahaya dingin fajar dan ia merasa menjadi suami sungguhan.
Ia menarik napas dalam-dalam dan kembali mengamati pemandangan di luar. “Dengar,” mulainya lagi dalam nada suara yang lebih ringan. “Kita mungkin memang tidak memiliki lab itu atau semuanya saat ini, tapi kita masih sanak keluarga kakek Robert. Dengan alasan apa seorang teknisi lab menolak melakukan sedikit analisis?”
“Aku rasa kita akan mencari tahu sewaktu sudah sampai di sana.” Rachel mengemudi sejauh sepuluh mil lagi dalam keheningan.
"Aku ingin tahu apakah seseorang sudah mencoba untuk meracuniku,” ucap Jenson.
“Jadi kita akan tahu apa betul itu terjadi, dan kita akan tahu mengapa. Kita tetap masih belum tahu siapa yang melakukannya.”
“Itulah langkah selanjutnya.” Jenson menoleh. “Kita bisa mengundang mereka semua ke Robert's pada tahun baru dan bergiliran menanyai mereka.”
__ADS_1
“Dan menghajar mereka?”
“Sedikit," dustanya. Tentu saja ia akan menghajar orang yang sudah mencoba meracuni istrinya, menjebak istrinya di ruang bawah tanah, menghancurkan perhiasan istri dan mendorong istrinya ketika mereka sedang mengambil pohon di hutan.“Sayang, kenapa kau tidak mengatakan padaku apa yang sebenarnya tengah mengganggu pikiranmu?”
“Tidak ada.” Semuanya mengganggu pikirannya. Sudah dua puluh empat jam ini ia tidak mampu berpikir jernih.
“Tidak ada?”
“Tidak ada kecuali mengira-ngira apakah ada seseorang yang ingin membunuhku.” Rachel mengucapkannya dengan lembut.
Jenson menangkap kegelisahan di balik kalimat itu. “Itukah mengapa kemarin kau bersembunyi seharian di kamar?”
“Aku tidak bersembunyi.” Ia punya harga diri cukup besar untuk tidak terdengar rapuh. “Aku merawat Bruno. Dan aku capek.”
“Kau sama sekali tidak memakan angsa besar yang sudah dimasak Jesica.”
“Aku pernah makan malam bersamamu, dengan menu angsa,” ucap Jenson. “Kau makan seperti kuda.”
“Betapa sopannya kau mengatakan aku seperti kuda.” Tanpa alasan yang jelas, Rachel berpindah jalur, menekan pedal gas dan menyalip mobil lain. “Anggap saja suasana hatiku sedang tidak mendukung.”
“Bagaimana kau membujuk dirimu sendiri untuk begitu cepat tidak menyukai apa yang terjadi diantara kita?” Itu terasa sakit. Jenson merasakan sakitnya, tapi bukan berarti ia harus membiarkannya terlihat.
“Tidak." Rachel tak mampu memikirkan dan merasakan yang lainnya. Hal yang demikian membuatnya ketakutan setengah mati. “Kita tidur bersama.” Ia berhasil mengucapkannya sambil mengangkat bahu. “Aku rasa kita berdua tahu cepat atau lambat itu akan terjadi.”
Ia begitu mengenal pria playboy ini, sehingga ia tak mengharap Jenson menepati janjinya. Ia memberikan tubuhnya pada Jenson karena ia mencintainya dan Jenson adalah suaminya, ia tak memikirkan bagaimana hubungannya dengan Jenson kedepannya.
"Hanya itu saja?”
Pertanyaan itu diajukan dengan nada tenang, tapi Rachel terlalu sibuk dengan urat-urat sarafnya sendiri untuk bisa memperhatikan. “Apalagi?” Ia harus segera berhenti mengulas masalah ini. Ia tidak bisa terus membiarkan akal sehatnya dilibas rasa tertarik yang tanpa arah. “Jenson, tak ada gunanya lagi membesar-besarkan sesuatu yang sudah terjadi di luar kendali.”
__ADS_1
“Kendali apa?”
Mobil itu terasa penuh sesak. Rachel meningkatkan pendinginnya dan memusatkan perhatiannya pada jalanan. “Kita ini dua orang dewasa, dan sudah menikah” mulainya, namun mesti menelan ludah sampai dua kali.
“Lalu?”
“Aku tidak harus merincinya.”
“Ya, kau harus merincinya.”
“Kita ini dua orang dewasa,” ucapnya lagi, tapi dengan kemarahan yang menggantikan ketegangan. “Kita punya kebutuhan orang dewasa yang normal. Kita tidur bersama dan saling memuaskan.”
“Betapa sederhananya cara berpkirmu.”
“Aku memang sederhana.” Tiba-tiba ia ingin sekali menangis. “Amat terlalu sederhana untuk berkhayal kau betul-betul menginginkan pernikahan ini selamanya. Apa yang sebetulnya terjadi kemarin tak lebih dari saling bertukar dan berbagi na*su yang normal dan mendasar.”
“Pinggirkan mobilnya sekarang.”
“Tidak mau, aku tidak akan meminggirkan mobil ini.”
“Pinggirkan sekarang, Rachel, atau aku yang akan melakukannya untukmu.”
Rachel mengertakkan giginya dan berdebat untuk membalas gertakan Jenson. Jalanan cukup macet untuk bisa memaksanya meminggirkan mobil. Dengan sedikit saja decitan ban, Rachel meminggirkan mobil ke sisi jalan. Jenson mematikan mesin lalu menyambar kelepak baju Rachel, kemudian menariknya ke kursinya. Sebelum Rachel sempat melawan, Jenson sudah mengecup bibir Rachel.
Hangat, amarah, gairah. Sepertinya semua itu berpadu dalam sebuah emosi. Ia mendekapnya di sana sementara mobil-mobil lalu lalang, membuat jendela bergoyang. Rachel membuatnya marah, Rachel membuatnya terangsang, Rachel menyakitinya. Menurut Jenson, hal seperti itu sudah terlalu berat untuk diterima seorang pria dari seorang wanita. Sama tiba-tibanya dengan saat menyambarnya, ia melepaskannya.
“Aku mencintaimu,” ucap Jenson.
Rachel yang tersengal-sengal, diam sejenak untuk mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan Jenson, kemudian dalam suatu gerak marah, ia memutar kunci, dan segera menyalakan mesin mobilnya itu. “Dasar kau idi*t Jenson, ini jalan tol mana boleh berhenti," ia kembali melajukan kendaraannya.
__ADS_1