Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 55


__ADS_3

“Sebentar.” ia menjaga Rachel tetap berada di sampingnya, Jenson menoleh ke dokter itu. “ Apa Rachel harus dirawat di rumah sakit?”


“Jenson...”


“Diam dulu sayang.”


“Siapa pun yang mengalami gegar otak harus diperiksa secara rutin dan harus dalam pengawasan. Akan lebih bijaksana kalau Nona Cecilion menginap dan dirawat dengan penanganan yang profesional.”


“Aku tidak akan tinggal di rumah sakit karena ada benjolan di kepalaku. Selamat sore, Letnan.”


“Nona Cecilion.”


Sambil mengangkat dagu, Rachel balas menatap si dokter. “Sekarang, Dokter…”


“Rizky.”


“Dr. Rizky,” ia memulai. “Aku akan menuruti beberapa nasihatmu. Aku akan beristirahat, menghindari stres. Kalau muncul tanda mual-mual atau pusing, aku akan langsung menemuimu. Bisa kujamin, karena kau sudah meyakinkan Jenson bahwa aku sakit, aku akan dirawat dengan baik dan selalu ditunggui. Kau harus puas hanya dengan itu.”


Jauh dari puas, si dokter menghampiri Jenson. “Tentunya aku tak bisa memaksanya untuk di rawat di rumah sakit.”


"Ya dokter, aku mau di rawat."


“Kurang lebih selama seminggu,” ulangnya, lalu pergi melintasi gang itu.


“Jika aku tidak lebih tahu,” renung Jenson, “aku akan mengatakan bahwa dia ingin menahanmu di sini Cuma untuk memandangimu.”

__ADS_1


“Tentu saja. Aku tampak menakjubkan dengan darah bercucuran di wajahku dan dengan lubang di kepalaku.”


“Aku pikir begitu.” Dikecupnya pipi Rachel, tapi menggunakan gerak itu untuk melihat lukanya lebih dekat. Jahitan si dokter kecil dan rapi, berakhir digaris rambut Rachel. Setelah menghitung keenam-enamnya, tekad Jenson menjadi bulat. “Ayo kita pulang supaya aku bisa mulai memanjakanmu.”


“Aku sendiri yang akan membawamu.” Randall memberi tanda ke arah pintu. “Sebaiknya aku memang melihat-lihat sementara aku berada di sini.”


...****************...


Jesica berkotek bagaikan induk ayam dan bersikeras supaya Rachel sudah berada di tempat tidur lima menit setelah ia melangkah melewati pintu masuk. Kalau Rachel punya tenaga, ia akan berdebat menentangnya. Namun ia malah membiarkan dirinya diselimuti, diberi sup dan teh hangat, juga dicereweti. Meskipun dokter sudah menjamin bahwa tidur aman baginya, ia memikirkan cerita-cerita kuno dan berjuang untuk tetap terjaga. Dipersenjatai buku sketsa dan sebatang pensil, dihabiskannya waktu. Tapi saat ia mulai lelah dengan itu, ia mulai berpikir.


Pembunuhan. Tak lebih dari pembunuhan. Pembunuhan demi harta, renungnya, hal yang mustahil untuk ia mengerti. Sebelumnya ia berucap pada diri sendiri bahwa hidupnya terancam, namun sepertinya hal itu jauh sekali dari perhatiannya. Kini ia hanya perlu menyentuh keningnya sendiri untuk membuktikan betapa pentingnya hal itu.


Paman, sepupu, bibi? Siapa orangnya yang begitu menginginkan harta Robert sehingga sanggup membunuh? Bukan untuk pertama kalinya Rachel berharap ia mengenal mereka lebih baik, memahami mereka lebih baik. Ia menyadari bahwa ia hanya mengikuti petunjuk Robert dan menganggap mereka semua membosankan.


Sewaktu Jenson datang, Rachel sudah menggambar bertumpuk-tumpuk sketsa. “Kumpulan para penjahat.”


Jenson datang langsung dari garasi, tempat ia dan Randall menemukan minyak rem yang masih basah di lantai betonnya. Tidak semuanya, renung Jenson. Siapa pun yang telah merusak rem itu sudah meninggalkan cukup banyak minyak supaya mobil itu bisa berjalan normal pada beberapa mil pertama. Dan kemudian, tidak bisa lagi. Jenson sudah menyimpulkan bahwa polisi akan menemukan sebuah lubang pada rem itu. Seperti mereka menemukan lubang pada rem mobil Rachel, mendapati genangan gelap di bawah mobil itu. Hal itu sama mematikannya dengan yang ada pada mobilnya.


Ia belum siap mengatakan pada Rachel bahwa siapa pun yang telah mencoba membunuh mereka berada dekat sekali dengan garasi itu sehari, mungkin dua hari sebelumnya. Alih-alih ia mengamati sketsa yang dibuat Rachel.


“Apa yang kau lihat?” tuntut Rachel.


“Kau memiliki bakat luar biasa dan sebaiknya mempertimbangkan secara serius tentang melukis.”


“Maksudku di wajah-wajah Mereka.” Tak sabar dengan dirinya sendiri, Rachel menarik kakinya menurut gaya Indian. “Tidak ada apa-apa di sana. Tak ada percikan, tanda-tanda bahwa orang-orang ini sanggup membunuh.”

__ADS_1


“Siapa pun sanggup membunuh. Oh ya,” tambah Jenson tatkala Rachel membuka mulut untuk menyatakan ketidaksetujuannya. “Siapa pun. Motifnya harus sesuai dengan kepribadian, situasi, dan kebutuhannya. Kalau ada yang mengancamnya, dia membunuh. Untuk beberapa orang, hanya jika nyawa mereka atau nyawa orang-orang yang mereka sayangi terancam.”


“Itu sama sekali berbeda.”


“Tidak.” Jenson duduk di tempat tidur. “Ini hanya masalah derajat yang berbeda. Beberapa orang membunuh karena rumah mereka terancam, harta mereka terancam. Yang lain membunuh karena hasrat mereka terancam. Kekayaan, kekuatan, itu adalah hasrat yang sangat kuat.”


“Jadi seseorang yang sangat biasa, bahkan konvensional, bisa membunuh untuk mencapai hasrat itu.”


Jenson mengarahkan telunjuknya ke arah sketsa-sketsa Rachel. “Salah seorang dari mereka sudah mencobanya. Bibi Laura dengan wajah kecilnya yang bulat dan mata rabunnya.”


“Kau tak sungguh-sungguh percaya bahwa...”


“Dia setia pada Morgan, sangat-sangat setia."


Jenson memungut sketsa berikutnya. “Atau Morgan sendiri, gemuk, blak-blakan, keras kepala. Dipikirnya Robert gila dan menyusahkan.”


“Mereka semua begitu.”


“Tepat sekali. Paman Yosef, kaku, tak punya selera humor, dan satu-satunya putra Robert yang masih hidup.”


“Tapi, dia tahu ayahnya lihai, mungkin lebih dari orang lain. Siapa yang berani mengatakan bahwa dia tidak akan menutup-nutupi ketidaksukaannya dengan cara yang lebih langsung? Yagil…” Jenson tergelak saat mengamati sketsa itu. Rachel menggambarnya persis seperti aslinya. Asyik dengan dirinya sendiri.


“Aku tak bisa membayangkan dia mengotori tangannya sendiri.”


“Demi seratus lima puluh miliar? Aku bisa. Bianca Cornelia mungil nan manis. Aku bertanya-tanya apakah dia semanis dan sekosong penampilannya. Dan Paman David.” Rachel menggambarnya dengan otot-otot lengan yang diregangkan. “Akankah dia puas dengan beberapa ratus juta saja di saat dia bisa mendapatkan beratus ratus juta?”

__ADS_1


__ADS_2