Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 17


__ADS_3

Setelah proses pengecekan yang panjang dan membosankan, Rachel tidak menemukan adanya sesuatu yang hilang, karena itulah ia menolak usulan Jenson untuk memanggil polisi. Kalau sesuatu telah dicuri, ia pasti akan menganggap panggilan itu sebagai langkah yang masuk akal, tapi ini sama sekali tidak ada yang hilang.


Polisi akan mengaduk-aduk, mengobrak-abrik, dan  memberikan  ceramah soal tidak adanya kunci. Jika perusak itu salah Seorang anggota keluarga mereka dan ia harus sependapat dengan kesimpulan, penyelidikan resmi yang heboh akan membuat pendobrakan itu terlalu dibesar-besarkan dan tidak diragukan lagi, akan terlalu banyak pemberitaan.


Ya, wartawan pasti akan menyenanginya. Rachel sudah bisa membayangkan berita utamanya. 'Keluarga vs keluarga dalam peperangan atas wasiat seorang eksentrik.' atau 'Demi harta warisan 150 miliar seorang penulis naskah film rela nikah kontrak dengan seorang desainer perhiasan.' sungguh berita yang sangat menggelikan bagi Rachel.


Di balik kemandirian dan kebiasaan tanpa basa-basinya, ada bagian dari dirinya yang merasa urusan keluarga adalah urusan pribadi.


Jika satu atau lebih anggota keluarga mereka mengawasi Robert's House dan setiap kejadian yang tengah berlangsung, Rachel ingin mereka berpikir bahwa ia menganggap perusakan itu sebagai hal bodoh dan sia-sia. Ia bertekad mencari tahu siapa yang mendobrak masuk ke ruang kerjanya dan bagaimana orang itu mampu memilih waktu yang sangat sempurna untuk melakukannya.


Jenson tidak bersikeras untuk menghubungi polisi karena alur pikirannya  sama  dengan yang Rachel pikirkan. Ia berhasil, lewat banyak manuver dan sikap diam, menjaga kariernya tetap terpisah dari urusan  keluarga. Dalam bisnis, ia dikenal sebagai Jenson si penulis pemenang penghargaan, bukan Jenson cucu dari Kakek Robert, multimiliuner. Jenson ingin menjaga citranya tetap seperti itu.


Dengan keras kepala, masing-masing telah menolak untuk memberitahu tentang rencana penyelidikan mereka, atau semacam penyelidikan detektif pribadi. Bukan sekadar masalah kepercayaan, tapi lebih kepada kenyataan bahwa tak ada seorang pun dari mereka yang merasa yang lainnya lebih mampu melakukan pekerjaan tersebut. Jadi, mereka menjaga supaya percakapan berlangsung ringan melalui salah satu dari hidangan bintang empat yang disajikan Jesica dan membiarkan masalah perusakan itu tenggelam. Lebih penting lagi, mereka dengan hati-hati menghindari setiap ucapan yang mungkin memicu kenangan tentang apa yang telah terjadi dalam taraf yang lebih pribadi di ruang kerja Rachel.


Setelah menikmati dua gelas anggur dan sepotong besar fricassee ayam, Rachel merasa lebih optimis. Keadaan bakal lebih buruk lagi jika ada satu dari alat pertukangan maupun peralatannya yang diambil. Itu berarti pesanan pelanggannya akan mengalami penundaan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kejahatan terburuk yang dapat dilihatnya adalah kenyataan bahwa ia telah dimata-matai.

__ADS_1


“Aku ingin tahu,” cetus Rachel, menyelidik pelan-pelan, “Apakah salah seorang keluarga Saunderson masih ada di sini?” seingatnya, keluarga itu hanya tinggal putri bungsunya dan ia sudah melanjutkan sekolahnya di luar negeri beberapa minggu yang lalu.


“Tetangga yang mempunyai kolam?” Jenson sendiri memikirkan kediaman keluarga Saunderson itu. Di rumah itu terdapat tempat-tempat yang, dengan satu set teropong yang bagus, bisa dijadikan seseorang untuk mengamati kediaman kakeknya dengan mudah. “Mereka menghabiskan banyak waktu di Eropa, bukan?”


“Hmm.” Rachel berkutat dengan ayamnya. “Mereka bergerak di bidang perhotelan, kau tahu. Mereka cenderung muncul di sana-sini.”


“Apa mereka pernah menyewakan tempat itu?”


“Oh, setahuku tidak. Aku memiliki kesan mereka meninggalkan staf tengkorak di sana, bahkan kalau mereka sedang pergi. Sekarang setelah kupikirkan lagi, mereka ada di rumah, beberapa bulan yang lalu.” Kenangan itu membuat Rachel tersenyum. "Kakek Robert dan aku pergi memancing ke kolam, kemudian Saunderson nyaris menangkap basah kami. Kalau kami tidak buru-buru lari ke pondok...“ Ia menghentikan bicaranya saat gagasan itu tercetus.


Rachel mengangkat bahu seakan-akan itu tak berarti apa-apa sementara otaknya berputar. “Akhirnya dia lebih banyak makan buncis dari pada makan binatang buruan. Biasanya kami menangkap sekumpulan ikan nila, menangkap kancil dan memasaknya, lalu mengirimkan sisanya kepada Saunderson. Dia tidak pernah mengirimkan tanda terima kasihnya kepada Kakek.”


“Kebiasaan jelek.”


“Well, mau tambah anggurnya?”

__ADS_1


“Tidak, terima kasih," tolaknya, menurut Jenson, yang terbaik adalah menjaga pikirannya tetap jernih jika ia ingin menjalankan rencana yang baru mulai terbentuk. “Kalau mau, jangan malu-malu untuk mengambil sendiri.”


Rachel meletakkan botol itu dan memberikan seulas senyum manis. “Tidak, aku baik-baik saja, hanya sedikit capek.”


“Kau berhak untuk itu.” Akan membuka jalannya dengan mulus jika ia bisa membuat Rachel mabuk dan masuk kamar tidur lebih awal. “Yang kau perlukan adalah tidur malam yang nyenyak.”


“Ya kau benar.”


Mereka berdua terlalu sibuk memikirkan rencana masing-masing untuk memperhatikan betapa luar  biasa  sopannya  percakapan  itu. “Aku tidak akan minum kopi hari ini, aku langsung mandi.” Ia pura-pura menguap. “Bagaimana denganmu? Punya rencana untuk kerja lembur?”


“Tidak—tidak, kurasa aku akan memulainya pagi-pagi sekali,” jawab Rachel.


“Baiklah kalau begitu.” Rachel bangkit, masih tersenyum. Ia akan menunggu satu jam, ia mengira-ngira, sebelum keluar dan pergi. “Aku akan naik. Selamat malam, Jenson.”


“Selamat malam.” Segera sesudah lampu di kamar Rachel padam, Jenson pergi ke rumah Saunderson.

__ADS_1


__ADS_2