
“Aku memang lemah,” rutuk Nyoman, tapi tetap saja dipungutnya lap itu. Ketika Rachel masuk ke dapur, dilihatnya Jesica tergeletak di kursi dengan mata terpejam dan Nyoman berdiri di sisinya sambil mengipas-ngipaskan lap di wajahnya.
“Ya Tuhan, ada apa ini Nyoman, apa Jesica pingsan?” Sebelum yang ditanya sempat menjawab, Rachel sudah bergegas menghampirinya. “Panggil Jenson,” perintahnya. “Cepat panggil Jenson.” Ia menyuruh Nyoman pergi, lalu membungkuk. “Jesica, ini Rachel. Apa kau sakit?” tanyanya khawatir.
Jesica nyaris tak bisa menahan desah puasnya, ia membiarkan matanya terbuka dan berharap terlihat pucat di hadapan Rachel. “Oh, Nona, kau jangan khawatir. Aku hanya sedikit capek sewaktu bekerja. Akhir-akhir ini jantungku sering berdebar seolah-olah tidak bisa dikendalikan.”
“Aku akan memanggil dokter.” Rachel baru saja berjalan selangkah sewaktu tangannya diraih dengan genggaman yang secara tak terduga, begitu kuat.
“Itu tidak perlu.” Jesica membuat suaranya terdengar lirih dan penat. “Beberapa bulan lalu aku sudah ke dokter dan katanya aku harus bersiap untuk terus mengalami hal-hal semacam ini.”
“Oh ya Tuhan,” Rachel semakin khawatir. “Kau sudah bekerja terlalu keras, dan itu harus segera dihentikan.”
Sedikit gelitik rasa bersalah merayapi Jesica saat menyadari kepedulian yang begitu besar dari Rachel. “Jangan begitu, nona. Aku tidak bisa berhenti bekerja, begitu saja.”
“Ada apa ini?” Jenson muncul dari balik pintu dapur. “Jesica?” Ia berlutut di sebelah wanita tua itu dan meraih tangannya yang sebelah lagi.
“Aku jadi buat kalian khawatir,” Dalam hati Jesica melompat dan bersorak-sorai. “Aku hanya agak sedikit capek. Dokter mengatakan bahwa aku harus berhati-hati. Hanya ada sedikit gangguan di jantungku yang sudah menua ini, itu saja.” Ditatapnya Nyoman lekat-lekat sewaktu pria itu masuk ke dapur. Tampaknya ia kelihatan cukup galak sehingga Nyoman menangkap isyarat yang diberikannya.
“Kau harus beristirahat di tempat tidur selama dua atau tiga hari,” ucap Nyoman.
Jesica puas karena Nyoman mengingat yang mesti dikatakannya, ia kemudian pura-pura menghardik. “Omong kosong. Aku akan baik-baik saja beberapa menit lagi. Ada makan malam yang harus kumasak.”
“Kau tidak akan memasak apa pun.” Tanpa aba-aba Jenson langsung menggendongnya. “Kau istirahat di tempat tidur.”
“Kalau begitu siapa yang akan beres-beres?” tuntut Jesica. “Aku tidak akan membiarkan Nyoman mengacau di dapurku.”
__ADS_1
Jenson sudah nyaris keluar dari ruangan itu bersama Jesica sebelum Nyoman mengingat langkah selanjutnya, ia muali terbatuk-batuk.
“Dengarkan itu!” ucap Jesica sembari nenyandarkan kepalanya pada bahu Jenson. “Aku tidak akan tidur-tiduran dan membiarkannya menginfeksi dapurku.”
“Sudah berapa lama kau batuk?” selidik Rachel. Sewaktu Nyoman mulai menggumam, Rachel berdiri. “Sudah cukup. Kalian berdua istirahatlah di kamar. Jenson dan aku yang akan membereskan segalanya.” Ia meraih lengan Nyoman dan mulai menuntunnya menuju kamar Nyoman. “Kalian istirahat di kamar dan jangan membantah. Aku akan membuatkan teh untuk kalian berdua. Jenson, pastikan bahwa Nyoman beristirahat, aku akan menjaga Jesica.”
Dalam setengah jam, Jesica berhasil membuat mereka berada dalam keadaan yang ia inginkan. Berbaikan.
“Nah, mereka sudah beristirahat dan tidak demam," ucap Rachel penuh perasaan puas, ia menuangkan teh untuk dirinya sendiri. “Kurasa yang mereka perlukan hanyalah istirahat beberapa hari dan sedikit dimanja. Mau teh?”
Jenson mengernyit mendengar gagasan itu dan berpindah pada kopi.
“Ya, aku pun berpikir hal yang sama, lebih baik mereka berdua beristirahat di tempat tidur. Kita bisa bergantian menjaga mereka.”
“Mmm-hmm.” Rachel membuka lemari es dan mengamatinya. “Bagaimana dengan masakan? Kau bisa masak?”
“Masak?” Rachel mengangkat sebuah tutup plastik dengan penuh harap. “Aku bisa memanggang steak dan mendadar telur. Yang lainnya tak terlalu bisa diandalkan.”
“Rupanya kau tak pandai memasak.” Jenson bergabung dengan Rachel yang sedang mengaduk-aduk isi lemari es. “Itu ada separuh apple cobbler.”
“Itu nyaris bukan seperti makanan lagi.”
“Buatku oke-oke saja.” Jenson mengeluarkannya dan mencari sendok. Rachel menyaksikan Jenson duduk di balik meja dan menyendoknya. “Mau?”
Rachel menolak berdasarkan prinsip yang dianutnya, ia tak ingin satu suapan dengan Jenson, ia pergi ke lemari, ditemukannya sebuah mangkuk. “Bagaimana dengan yang sakit?” tanyanya sambil menyendoki cobbler.
__ADS_1
“Sup,” jawab Jenson sambil mengunyah. “Tidak ada yang lebih baik dari sup hangat. Meskipun pertama-tama aku akan membiarkan mereka beristirahat lebih dahulu.”
Mengangguk setuju, Rachel duduk berhadapan dengan Jenson. “Jenson…” Bicaranya terputus sambil mengaduk-aduk cobbler-nya. Uap dari tehnya membumbung di antara mereka. Selama berhari-hari ia sudah berpikir untuk mengemukakan masalah itu pada Jenson. Agaknya saatnya sudah tiba. “Aku sudah berpikir. Dalam dua bulan, surat wasiat itu akan mencapai final. Saat Zephaniah mengirimi kita email minggu lalu, dia mengatakan bahwa para pengacara Kakek Robert menyarankannya untuk membatalkan tuntutannya.”
“Jadi?”
“Rumah ini, berserta isinya, akan menjadi setengah milikmu, setengah milikku.”
“Itu betul.”
Digigitnya cobbler-nya lagi, lalu diletakkannya sendoknya. “Kenapa kau tersenyum?”
“Kau sangat cantik. Sungguh nyaman rasanya bisa duduk di sini, berduaan saja di dapur, dalam keheningan, dan memandangmu.”
Hal semacam itulah, yang membuat Rachel merasa terbang melayang. Sesaat ditatapnya pria itu, kemudian dijatuhkannya pandangannya ke mangkuk. “Kuharap kau tidak lagi menggobaliku, dengan kata-kata menggelikan.”
“Tidak, aku tidak sedang menggombal. Aku mengatakan apa yang aku rasakan.”
“Terserah.” Rachel memberi dirinya waktu sejenak, dengan hati-hati menyendok cobbler-nya. “Masing-masing dari kita akan menjadi pemilik rumah ini, tapi kita tidak akan tinggal bersama di sini lagi. Jesica dan nyoman akan berdua saja di sini. Aku mengkhawatirkan mereka. Apalagi setelah kejadian tadi, membuatku tambah khawatir saja. Mereka tidak bisa berdua saja tinggal di sini.”
“Ya, kurasa kau benar. Apa kau punya ide?”
“Aku sudah pernah menyebut bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk tinggal di sini secara semi permanen.” Tiba-tiba saja selera makan Rachel hilang dan ia beralih kembali pada tehnya. “Kurasa aku akan membuatnya permanen saja.”
Jenson mendengar tanda-tanda kegugupan dalam nada suara sepupunya. “Karena Nyoman dan Jesica?”
__ADS_1
“Sebagian.” Rachel meneguk tehnya lagi, meletakkan cangkirnya, dan memain-mainkan cobbler-nya. Ia tidak terbiasa mendiskusikan keputusannya dengan orang lain. Meski sulit baginya, ia telah menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan. Lebih jauh lagi, ia menyadari bahwa ia perlu berbicara dengan Jenson, dan menjadi seperti yang tak mampu dilakukannya pada tingkatan lain jujur. “Aku selalu menganggap Robert’s sebagai rumahku, tapi aku tidak menyadari seberapa besarnya. Aku membutuhkannya, untuk diriku sendiri. Kau tahu, aku belum pernah mempunyai rumah sungguhan.” Ia mendongak dan menatap Jenson. “Hanya di sini aku merasakannya.”