
“Well, sebenarnya kita mau ke mana sih?” Rachel menyadari jika Jenson tak mengarahkan kendaraannya pada lajur pintu tol.
“The Plaza.”
“Hotel The Plaza? Kenapa? Ngapain kita kesana?”
“Kita disana akan mendapatkan satu kamar, memasang gerendel di pintunya, dan bercinta selama dua puluh empat jam yang akan datang. Setelah itu, barulah kita putuskan bagaimana kita akan menangani masalah ini selanjutnya.”
Rachel menganga untuk sesaat. "Kenapa kau tak meminta persetujuanku jika kita akan ke hotel?"
"Karena kuyakin kau akan menyetujuinya. Kau menyukainya bukan?" Jenson menepikan kendaraannya di hotel The Plaza.
Rachel membuang wajahnya, ia tak ingin terlihat jika kemarin saat bercinta dengan Jenson, ia begitu menikmatinya. “Tapi kita tidak membawa barang bawaan, kita tidak membawa apa-apa.”
“Kita tidak perlu membawa apa-apa, tubuh kita akan menghangatkan satu sama lain,” ucap Jenson ketika mereka berjalan memasuki lobi hotel yang sangat elegan itu, rasa hangat menjalari kulitnya dan membuat saraf-sarafnya berdesir.
“Selamat sore.” Jenson tersenyum pada si petugas resepsionis yang berdiri di belakang meja. Sesaat Rachel bertanya-tanya apakah senyum itu akan menjadi begitu menakjubkan seandainya saja si petugas adalah seorang laki-laki. “Aku ingin check-in.”
__ADS_1
“Apakah anda sudah memesan kamar?”
“Dirgantara. Jenson Dirgantara.”
Si petugas menekan beberapa tombol dan memelototi layar komputernya. “Sayang sekali tidak ada pesanan kamar atas nama Dirgantara untuk tanggal dua puluh enam.”
“Ketlin,” ujar Jenson dengan napas tak sabar. “Seharusnya aku tak mempercayainya untuk menangani hal ini.”
Memahami maksudnya, Rachel menepuk tangan Jenson. “Kau harus memakluminya, Jenson. Dia sudah bekerja untuk keluargamu selama empat puluh tahun, kalau seseorang sudah memasuki usia tujuh puluhan…” Bicaranya terputus dan membiarkan Jenson meneruskan.
“Kita akan membicarakannya kalau sudah sampai ke rumah.” Ia berbalik kembali ke meja resepsionis. “Tampaknya ada kesalahpahaman antara sekretarisku dan hotel ini. Kami hanya akan menginap semalam di hotel ini. Apa ada kamar yang tersedia?”
Petugas itu menekan lebih banyak tombol lagi. “Kami masih punya sebuah suite.”
“Oke baiklah.” Jenson mengambil formulir registrasi dan mengisinya. Dengan kunci di tangan, ia tersenyum lagi pada si resepsionis. “Terima kasih atas bantuan Anda.” Melihat pemuda pengangkat barang siap bekerja, ia memberinya beberapa lembar uang. “Kami akan menanganinya, terima kasih.”
Si pemuda menatap Lima ratus ribu di tangannya dan ketiadaan barang bawaan mereka. “Baik, Sir!”
__ADS_1
“Dipikirnya kita punya hubungan gelap” gumam Rachel saat mereka melangkah masuk ke dalam lift. “Biarkan saja.” Sebelum pintu lift menutup kembali, Jenson menyambar tubuh Rachel dan memenjarakannya dalam sebuah ciuman yang bertahan selama dua belas lantai.
“Kita belum saling mengenal,” ucapnya saat mereka melangkah ke luar lift. “Kita baru saja bertemu. Kita tidak punya kenangan masa kecil bersama ataupun keluarga yang sama.” Ia memasukkan kunci itu ke lubangnya. “Kita sama sekali tidak peduli tentang mata pencaharian yang lain ataupun apakah kita punya opini yang saling menentang.”
“Apakah itu akan mempermudah keadaan?”
Jenson menariknya ke dalam. “Mari kita cari tahu.”
Ia tidak memberi Rachel kesempatan untuk bertanya-tanya, kesempatan untuk berdebat. Segera setelah pintu tertutup, ia mendekap Rachel. Dibuangnya jauh-jauh segala pertanyaan. Disingkirkannya semua pilihan. Sekali ini Rachel menginginkan Jenson melakukan itu semua. Dalam balutan nafsu, dahaga, rasa butuh, mereka berpadu. Masing-masing berjuang untuk mendapatkan lebih, lebih daripada yang lainnya, untuk menyentuh lebih cepat, memiliki lebih segera. Mereka melupakan apa yang mereka tahu, apa yang mereka pikir, dan bersuka ria menikmati apa yang mereka rasakan.
Kedua jaket mereka, masih dingin karena angin, dijatuhkan ke lantai. Baju hangat dan kaus menyusul. Tak lebih dari satu langkah dari pintu masuk, mereka bergulir di karpet.
“Musim dingin sialan,” rutuk Jenson sambil berjuang melepaskan sepatu bot Rachel.
Sambil tertawa, Rachel mencoba membantu Jenson melepaskan sepatu botnya, lalu mengerang sewaktu pria itu mengecupkan bibirnya ke buah dadanya.
Itu adalah sebuah perlombaan, sebagian berupa perang, sebagian lagi melibatkan rasa sayang. Tak seorang pun memberi kelonggaran pada yang lain. Sewaktu pakaian mereka sudah terlucuti, mereka berpacu lebih giat lagi, tangan saling meraih, bibir saling merangsang. Tak ada lagi dejavu penuh lamunan seperti yang mereka rasakan pada kali pertama. Ini hal yang baru. Jari-jari yang menelusuri kulit Rachel belum pernah dirasakannya sebelumnya. Bibir, yang hangat dan membakar, belum pernah dirasakannya. Segar, erotis dan segar, mulut mereka bertemu dan berpadu.
__ADS_1
Rachel yakin, jantungnya tak pernah berdetak secepat itu. Tubuhnya tak pernah merasa nyeri dan bergetar begitu putus asa. Ia tak pernah menginginkan hal itu terjadi. Kini ia menginginkan lebih, semuanya. Diri Jenson. Ia bergulir supaya bisa meletupkan kecupan-kecupan singkat dan penuh dahaga ke sekujur wajah pria itu, lehernya, dadanya. Di mana-mana.
Benak Jenson sepakat dengan Rachel, dengan setiap bagian diri gadis itu yang bisa disentuh, dirasakan, maupun diciumnya. Rachel sungguh liar dengan cara yang tak pernah dibayangkannya, Rachel bersikap menuntut dengan cara yang pasti akan didambakan setiap lelaki. Tubuh Jenson seperti membuatnya terkagum, setiap lekuk, setiap sudutnya. Rachel menjelajahinya sampai Jenson setengah gila, sampai meraba-rabanya.