
“Lebih memuaskan bagiku untuk meninju Yagil. Bagaimanapun juga, dia cukup mengenal rumah ini. Dan kubayangkan kalau kita memeriksa rumah ini, kita akan mendapati sebagian besar klan kita yang berbahagia itu pernah tinggal di sini, setidaknya selama beberapa hari. Menemukan kotak sekring di gudang bawah tanah tidak memerlukan banyak keterampilan. Pikirkan, Rachel. Mereka bertujuh kalau, coba kau hitung bila seratus lima puluh miliar dibagi tujuh, setidaknya masing-masing dari mereka mendapatkan 21 miliar secara rata. Mereka semua punya alasan untuk menginginkan kita melanggar syarat-syarat wasiat itu. Tak ada seorang pun dari mereka yang rela hanya kita yang mendapatkan warisan itu.”
“Itu-lah alasan lain mengapa uang tidak begitu menarik buatku,” renung Rachel. “Mereka tidak melaku kan apa-apa kecuali merusak dan mengganggu, tapi sialan aku sangat ingin membalas mereka.”
“Pembalasan terbaik bakal muncul dalam waktu kurang dari lima bulan.” Tanpa memikirkan hal itu, Jenson melingkarkan tangannya di bahu Rachel. Tanpa memikirkan hal itu, Rachel bersandar pada Jenson. Wewangian samar tercium dari kulitnya. “Kau lihat tidak, wajah paman Yosef waktu wasiat itu dibacakan dan dia tidak mendapatkan apa pun kecuali tongkat ajaib dan topi tipuan?”
Bahu Jenson terasa lebih kokoh dari yang pernah dibayangkan Rachel. “Dan paman Yagil dengan tiga karton korek api.” Rachel merasa nyaman bersandar di bahu suaminya, kemudian ia terkekeh. “Kakek Robert pasti sedang tertawa.”
“Kita akan tertawa bersamanya beberapa bulan lagi.”
“Setuju," ucap Rachel. " Jenson, sepatumu menempel di sepraiku.”
“Maaf.” Dengan dua gerakan singkat, Jenson mencampakkan sepatunya.
“Sebetulnya maksudku bukan itu. Tidakkah kau mau pergi ke kamarmu sekarang?”
“Tidak juga. Tempat tidurmu lebih bagus daripada punyaku. Apa kau selalu tidur telanjang?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Pasti sekarang hari keberuntunganku.” Jenson beringsut untuk mendaratka bibirnya ke memar di bahu Rachel. “Sakit?”
Rachel mengangkat bahu. “Sedikit.”
“Istri kecilku yang malang. Aku selalu menganggapmu tangguh.”
“Aku memang...”
“Lembut,” potong Jenson seraya menyusuri lengan Rachel dengan jemarinya. “Amat lembut. Ada memar lagi?” Disapukannya bibirnya ke lekuk leher Rachel. Mereka berdua bisa merasakan desir kilat yang tak terelakkan.
“Tidak terlalu, kalau kau memperhatikan.”
Rachel menarik napas, tergerak teramat hebatnya oleh sentuhan ringan Jenson. Ia tak boleh menampakkannya, bukan? Ia tak boleh menggapai sesuatu yang ternyata hanya ilusi. Jenson tidak stabil. Jenson tidak nyata, dia hanya suami sementara Jenson bersamanya saat ini karena ia ada di sini dan tidak ada orang lain lagi, begitu kontrak pernikahan ini selesai maka Jenson akan meninggalkannya. Kenapa sulit sekali untuk mengingat hal itu?
Wajah Jenson mendekat, memenuhi cakrawala pandangannya. Dilihatnya hal-hal kecil yang tidak ingin ia perhatikan selama ini. Bagaimana cincin tipis keabuan menghiasi iris matanya, garis hidungnya yang lurus dan nyaris aristokrat yang secara ajaib tetap utuh betapa pun seringnya ia berkelahi. Mulutnya yang terukir lembut, entah bagaimana ia tampak puitis. Mulutnya, kenang Rachel, yang hangat, kuat, dan penuh inovasi sewaktu mengecup bibirnya.
“Jenson…” Kenyataan bahwa Rachel ragu, kemudian mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan bimbang sebelum meraih tangan Jenson, membuat lelaki itu senang sekaligus gugup. Rachel tidak sedingin dan percaya diri seperti biasanya. Dan karena itu, Jenson bisa menyelipkan diri ke balik kulit Rachel. Namun mungkin ia tak akan menyelipkan diri keluar lagi dengan mudahnya.
Bersikaplah praktis, ujar Rachel pada diri sendiri. Bersikaplah realistis. “Jenson, kita masih punya lima bulan lagi untuk dilewati.”
__ADS_1
“Lalu?” Jenson membutuhkan kehangatan. Ia membutuhkan wanita ini. Mungkin sudah waktunya untuk mengambil risiko atas konsekuensinya. Ditundukkannya kepalanya dan dikecupnya bibir Rachel. “Kenapa buang-buang waktu?”
Rachel membiarkan dirinya menikmati Jenson. Sekejap saja, janjinya pada diri sendiri. Cuma sekejap saja. Jenson sungguh hangat dan tangannya ringan. Malam itu sungguh panjang dan dingin serta menakutkan. Betapa pun bencinya Rachel untuk mengakuinya, ia membutuhkan Jenson. Kini, dengan sinar mentari menerobos panel-panel mungil di jendela, menyeruak cerah dan terang ke tempat tidur, ia mendapatkan Jenson. Dekat, memberinya rasa aman, membuatnya nyaman.
Bibirnya membuka menyambut bibir Jenson.
Jenson tak berencana apa-apa sewaktu datang ke kamar Rachel. Ia cuma ingin mendekati Rachel, ia ingin berbaring di sebelahnya dan berbincang dengannya. N*fsu tidak menuntunnya. Gairah tidak mendorongnya. Hanya ada kebutuhan dasar untuk berada di rumah, berada di rumah bersama Rachel. Ketika Rachel bersandar di bahunya dengan rambut terurai dan mata yang berat, hal yang alami jika rasa butuh itu menderanya. Ia Cuma ingin tinggal di tempatnya berada sekarang, mendekap Rachel, perlahan-lahan menghangat.
Dan bagi Rachel, gairah tidak bergejolak dengan liar, tapi pelan-pelan, bagaikan ramuan yang dibiarkan mendidih perlahan-lahan seharian saat ditambahkan bumbu rempah. Cicip sedikit, lalu cicip lagi, dan rasanya berubah, bertambah kaya, bertambah dalam. Bersama Jenson, cita rasanya Cuma diberi sedikit, aroma untuk disinggahi dan dinikmati. Rachel bisa terus dan terus melakukannya, jam demi jam, sampai segalanya di antara mereka telah terpatrikan. Ia ingin menyerah pada hasrat itu, awal mula keserakahan. Jika ia melakukannya, segalanya akan berubah. Itu adalah perubahan yang bisa diperkirakannya, bisa dilihatnya dengan jelas, yang hanya bisa diantisipasinya. Jadi Rachel menolak Jenson dan dirinya sendiri serta apa yang bisa terjadi di antara mereka berdua.
“Jenson…” Tapi ia membiarkan jemarinya berlama-lama tinggal di rambut Jenson semenit lebih lama lagi. “Ini tidak seharusnya kita lakukan.”
Jenson mengecup mata Rachel sampai terpejam. Itu sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain padanya. “Kenapa? Bukankah kita sudah menikah?”
“Jenson, keadaan sudah cukup rumit. Kalau kita jadi sepasang suami istri sungguhan dalam waktu lima bulan ke depan dan segalanya tidak berjalan baik, bagaimana kita bisa melanjutkan ini? Bagaimana dengan surat wasiat kakek Robert?" Rachel benar-benar takut jika ia menyerahkan tubuhnya pada Jenson, Jenson akan mencampakannya begitu saja.
“Surat wasiat itu sama sekali tak ada kaitannya dengan kau dan aku di ranjang ini, kita sudah sah, kakek justru akan senang jika kita melakukannya.”
Bagaimana mungkin Rachel bisa melupakan kegigihan Jenson tak kala bertekad mewujudkan keinginannya? Bagaimana bisa ia tak pernah memperhatikan betapa menariknya pria itu dalam keadaan begitu? Ia harus menetapkan keputusan sekarang, kalau tidak, nanti ia sendiri yang harus menanggung akibatnya. “Surat wasiat itu sangat berkaitan dengan kau dan aku di rumah ini. Kalau kita tidur bersama, dan hubungan kita berubah. Sementara aku masih ingin menunggu pria yang benar-benar terbaik untukku."
__ADS_1