Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chpter 49


__ADS_3

Jenson dan Rachel masing-masing mengamati Jesica dengan hati-hati. Pipi Jesica kemerah-merahan dan bulat, matanya bersinar-sinar. Wanita itu mondar-mandir dari satu sisi ke sisi lain “Jangan bekerja berat dulu.”


“Itu benar. Jenson dan aku yang akan mengurus cuciannya.” Rachel melihat Jenson merengut, lalu menepuk bahunya. “Kami senang melakukannya.”


Karena Jenson dan Rachel bersikeras, mereka berempat makan di dapur. Nyoman, duduk di sebelah Jesica, menjadi tak tahu akan seberapa banyak lagi ia mampu batuk dan tetap berada di tengah-tengah permainan ini. Rachel dan Jenson memutuskan untuk menyimpan masalah penyusup itu untuk diri mereka sendiri. Keduanya merasa pengumuman bahwa seseorang mengintai rumah itu akan terlalu mengesalkan kedua orang tua itu sementara mereka dalam proses menuju kesembuhan.


Dalam makan malam tersebut, Rachel terus berpikir bagaimana caranya ia menggiring para pelayan itu ke tempat tidur lalu menghubungi polisi. Lebih dari sekali, Rachel menangkap basah Jesica melirik ke arahnya lalu beralih ke Jenson. Lady tua yang manis, renung Rachel, ia bertekad untuk melindungi Jesica dan Nyoman dari segala ketidaknyamanan. Ia berkonsentrasi pada bersih-bersih dan membuat mereka pergi tidur, dan sudah hampir pukul sembilan sebelum ia akhirnya ia menghampiri Jenson di ruang tamu.


“Beres?”


Rachel menangkap kegelisahan yang familiar pada nada suara Jenson. Ia mengangguk, lalu menuangkan brendi. “Agak mirip membujuk anak kecil, tapi aku berhasil menemukan film Cary Grant yang membuat mereka tertarik.” Ia meneguk brendi itu, menunggu otot-ototnya menjadi santai. “Aku sendiri juga mau kalau diajak menonton film itu.”


“Lain kali.” Jenson meneguk gelas brendi Rachel. “Aku sudah menelepon polisi. Mereka akan tiba sebentar lagi.”


Rachel mengambil kembali gelasnya. “Aku masih kurang suka kita membawa-bawa masalah ini ke pihak luar. Apalagi, segala hal di luar penyusupan ini hanya spekulasi semata.”


“Kita akan membiarkan para polisi itu berspekulasi.”


Rachel tersenyum. “Logan-mu selalu menangani semuanya dengan caranya sendiri.”


“Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa dia hanya fiksi.” Dituangkannya brendi untuk dirinya sendiri lalu bersulang pada Rachel.


“Sepertinya kau mulai mengembangkan sindrom lindungi-si wanita, Jenson. Itu tidak seperti kau.”


“Mungkin tidak.” Diteguknya lagi minumannya. “Beda kalau ini wanitaku.”

__ADS_1


Rachel berpaling, alisnya terangkat. Rasanya aneh merasakan kebahagiaan menanggapi istilah yang begitu bodoh dan posesif itu. “Wanitamu?”


“Wanitaku, istriku” Disangganya bagian belakang leher Rachel dengan tangannya. “benarkan?”


Jantung Rachel berdegup teratur di tenggorokannya sampai ia berhasil menelannya. Mungkin Jenson memang bersungguh-sungguh sekarang. Dalam beberapa bulan saat Jenson kembali berpindah ke dunianya sendiri, dengan orang-orangnya sendiri, Rachel tidak akan lebih dari sekadar sepupunya yang entah bagaimana, menjengkelkannya. Tapi untuk sekarang, hanya untuk sekarang, mungkin Jenson bersungguh-sungguh. “sebelum kontrak berakhir.”


“Pikirkan baik-baik,” Jenson menasihati sebelum menurunkan bibirnya menuju bibir Rachel. “Kita akan kembali membahasnya.”


Jenson meninggalkannya dalam keadaan gugup, dan pergi untuk membuka pintu.


Sewaktu ia kembali, Rachel sudah duduk dengan cukup tenang di sebuah kursi bersandaran tinggi di dekat perapian. “Letnan Randall, Rachel Cecilion.”


“Apa kabar?” Sang letnan mencopot sarung tangan wol tebalnya dan menyusupkannya di saku jaketnya. Dia kelihatan, pikir Rachel, seperti kakeknya seseorang. Riang, bulat, dan membotak. “Malam yang buruk,” pria itu mengumumkan, dan menempatkan diri di dekat perapian.


“Kau ingin minum kopi, Letnan?”


“Silakan duduk. Aku akan kembali sebentar lagi.”


Rachel memanfaatkan waktunya dengan santai dengan memanaskan kopi dan mengatur cangkir-cangkir serta piring-piring kecil dalam nampan. Bukan menunda-nunda, ia bersikukuh, hanya bersiap-siap. Ia tak pernah punya kesempatan untuk berbicara pada seorang polisi mengenai subjek yang lebih kompleks dan surat tilang. Cepat atau lambat ia harus menghadapinya. Kini, sebentar lagi ia akan mendiskusikan keluarganya dan hubungannya dengan Jenson.


Hubungannya dengan Jenson pikirnya lagi saat ia menyibukkan diri dengan mangkuk gula. Itulah yang sebenarnya membuat dirinya bersembunyi di dapur. Ia masih belum mampu meredam perasaan yang merayapinya sewaktu Jenson menyebutnya “wanitanya”. Anak remaja, ucap Rachel pada diri sendiri. Benar-benar absurd untuk merasa gamang, berpuas diri serta gugup karena seorang laki-laki telah memandangnya dengan nafsu di bola matanya.


Tapi mata itu milik Jenson.


Ia menemukan serbet-serbet linen lalu melipatnya menjadi bentuk segi tiga. Ia tak ingin menjadi wanita milik siapa pun juga kecuali miliknya sendiri. Ketegangan dan kegemparan hari itulah yang membuatnya bereaksi seperti anak usia enam belas tahun yang ditawari cincin sekolah. Ia adalah orang dewasa, ia mampu menunjang dirinya sendiri. Ia sedang jatuh cinta. Tarik dirimu dari hal itu, tantang Rachel pada dirinya sendiri. Setelah menarik napas panjang, ia mengangkat nampan itu dan kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


“Silakan, Tuan-tuan.” Rachel meletakkan nampan itu pada meja pendek dan terpaksa tersenyum. “Pakai krim dan gula, Letnan?”


“Terima kasih. Yang banyak, ya.” Diletakkannya sebuah buku catatan di pangkuannya ketika Rachel memberikannya secangkir kopi. “Jenson Cecilion sudah bercerita padaku. Agaknya kalian mendapatkan beberapa gangguan.”


Rachel tersenyum menanggapi istilah itu. Seperti tampangnya, suara Letnan Randall juga riang. “Beberapa.”


“Aku tidak akan berceramah.” Tapi sang letnan memandangi mereka berdua dengan tatapan tegas. “Tapi, semestinya kalian memberitahu polisi setelah kejadian yang pertama. Vandalisme adalah sebuah kejahatan.”


“Kami berharap dengan mengabaikannya tidak akan terjadi pengulangan.” Rachel mengangkat cangkirnya. “Kami keliru.”


“Aku perlu membawa sampanye itu.” Sekali lagi Letnan Randall memandangi mereka dengan air muka tidak setuju. “Meskipun kalian sudah menganalisisnya, kami masih ingin memeriksanya di lab kami sendiri.”


“Akan kuambilkan untukmu.” Jenson berdiri dan meninggalkan mereka berdua saja.


“Miss Cecilion, dari apa yang diceritakan sepupumu, persyaratan surat wasiat itu agak tidak lazim.”


“Sedikit.”


“Dia juga mengatakan padaku bahwa dia membujukmu untuk menyetujuinya.”


“Itu Cuma khayalan Jenson, Letnan.” Rachel menyeruput kopinya. “Aku melakukan apa yang kupilih untuk kulakukan.”


Randall mengangguk dan menimpali. “Kau sepakat dengan gagasan Mr. Dirgantara bahwa insiden-insiden itu berkaitan dan salah seorang kerabatmu bertanggung jawab.”


“Aku tak bisa memikirkan sebuah alasan pun untuk tidak menyetujuinya.”

__ADS_1


“Apa kau punya alasan untuk lebih mencurigai seseorang dibandingkan dengan yang lainnya?”


Rachel memikirkannya masak-masak seperti yang sudah dilakukannya sebelumnya. “Tidak. Kaulihat, kami bukan keluarga dekat. Kenyataannya aku tidak begitu mengenal mereka.”


__ADS_2