Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 44


__ADS_3

“Robert’s sudah menjadi rumah bagiku. Aku ingin tinggal di sini setelah jangka waktu itu berakhir,” ucap Rachel.


Jenson menggenggam tangannya. “Tidakkah kau pernah berpikir bahwa kita ini sepasang suami istri, dan memang sudah sepatutnya tinggal bersama? Dan ini adalah rumah kita.”


"Kita hanya nikah kontrak, Jenson."


Jenson menyumpah-nyumpah dan melepaskan tangan Rachel. Sambil berdiri, dibenamkannya tangannya di saku belakang celananya dan dilangkahkannya kakinya ke arah jendela. Demi Tuhan, ia sudah lelah meyakinkan Rachel bahwa pernikahan mereka bukanlah pernikahan kontrak. Ia begitu ingin tinggal di rumah itu bersama Rachel untuk selamanya.


“Aku tidak bermaksud membuatmu jengkel, aku masih belum bisa menerima pernikahan ini...”


Jenson berbalik perlahan. “Ya, aku mengerti.” Ia berharap dalam waktu dua bulan yang tersisa ini bisa membuat Rachel yakin dan meneruskan pernikahan ini.


“Lupakan saja.” Ia berpaling untuk mencari bahan-bahan sup. "Ini sudah hampir waktunya makan, kita harus menyiapkan makan untuk Jesica dan Nyoman."


Rachel terpaku sejenak, mengamati punggung Jenson, ketegangan pada otot-ototnya. “Jenson…” Sambil menghela napas, ia memeluk pinggang pria itu. Ia merasakannya menegang, tapi tidak menyadari bahwa itu disebabkan oleh keterkejutannya. “Sepertinya selama dua bulan ini aku ingin menikmati masa-masa kita sebagai sepasang suami istri."

__ADS_1


Jenson berbalik untuk membingkai wajah Rachel dengan tangannya. Sesaat mereka, tampak seperti berteman, seperti sepasang kekasih. “Rachel…” Jenson ingin Rachel mengerti bahwa ia tak ingin Rachel menceraikannya, bahwa ia ingin terus hidup bersamanya. Ia benar-benar sudah jatuh hati padanya selama bertahun-tahun. Alih-alih mengecup kening Rachel, Jenson justru. "Apa kau maunmembantuku membuat sup?"


...****************...


Mereka tak bisa bekerja sama tanpa berdebat, tapi beberapa hari kemudian mereka mendapati bahwa mereka bisa bekerja sama. Mereka memasak, mencuci, menghilangkan debu pada perabotan, sementara para pelayan beristirahat di tempat tidur, mengobrol, duduk-duduk di sofa sambil meminum teh.


Benar, ada saatnya Jesica merasa gatal untuk bangun dan melakukan pekerjaannya, atau Nyoman terketuk hati nuraninya, tapi mereka yakin bahwa mereka melakukan tugas mereka. Keduanya merasa dibenarkan ketika mendengar suara tawa membahana di seisi rumah itu. Jesica merasa bahwa Rachel dan Jenson harus banyak melakukan kegiatan bersama untuk mempererat hubungan mereka, dan mendorong mereka agar memiliki momogan sehingga keduanya tak ada yang berpikir untuk berpisah setelah kontrak ini berakhir.


Jenson tak yakin ada saat-saat lain dalam hidupnya di mana hatinya merasa begitu senang. Ya, pada intinya, mengurus rumah, sesuatu yang sebelumnya tak punya waktu maupun niat untuk dilakukannya. Ia biasa menulis selama berjam-jam, mengurung diri di dalam ruangan, terhanyut dalam plot, karakter, dan bagaimana-jika-nya. Lalu ia bisa melepaskan diri dan kenyataan adalah aroma hidangan atau pelitur perabotan. Ia punya sebuah rumah, seorang istri, dan bertekad untuk mempertahankan keduanya.


Jenson baru saja menyalakan api di kayu bakar sewaktu Bruno berlari-lari memasuki ruangan dan mengacaukan meja. Pajangan-pajangan di atas meja itu dibuatnya beterbangan.


“Tampaknya kami harus mengirimmu ke sekolah kepribadian” ujar Jenson seraya bangkit untuk membereskan kekacauan itu. Meskipun baru sebulan berlalu sejak kedatangannya, ukuran tubuh Bruno sudah hampir bertambah dua kali lipat. Anjing itu, tanpa diragukan lagi, akan tumbuh besar sekali. Setelah membereskan meja, Jenson melihat anjing itu melongok-longok ke bawah sofa. “Kau dapat apa di sana?”


Selain besar, Bruno juga telah memperoleh reputasi sebagai pencuri yang cerdik. Sehari sebelumnya, mereka kehilangan sepotong daging. “Baiklah Bruno, kalau itu adalah ayam untuk makan malam nanti, kau akan di kurung di tempat pengasingan di garasi.” Merunduk, Jenson melihat ke bawah sofa. Bukan ayam yang sedang dikunyah Bruno dengan ributnya, melainkan sepatu Jenson.

__ADS_1


“Sial!” Jenson berusaha menyambarnya namun si anjing mundur dari jangkauan dan tetap mengunyah. “Sepatu itu lima kali lipat dari hargamu, dasar gendut. Berikan padaku.” Sambil membungkuk lebih rendah, Jenson setengah melongok ke bawah sofa. Bruno menyeret lagi sepatu itu, menikmati permainan.


“Oh, betapa manisnya.” Rachel melangkah masuk ke ruang tamu dan mengamati Jenson mulai dari pinggang ke bawah. Jenson begitu mengagumkan. “Jenson, kau sedang bermain dengan Bruno atau membersihkan debu di bawah sofa?”


“Aku akan menjadikan dia permadani.”


“Ya ampun, kedengarannya malam ini kau agak pemarah. Bruno, sini, Sayang.” Sambil menggondol sepatu itu seperti sebuah tropi, Bruno menggeliat-geliat dari bawah sofa dan berjingkrak gembira ke arah Rachel. “lnikah yang kau kejar?” Rachel mengacungkan sepatu itu ke arah Jenson sambil membelai Bruno dengan tangannya yang sebelah lagi. “Cerdik sekali kau mengajari Bruno menangkap sepatu.”


Jenson menegakkan tubuh, lalu merebut sepatu itu dari tangan Rachel. Sayangnya sepatu itu basah dan penuh bekas gigitan. “Itu sepatu kedua yang dirusaknya. Dan dia bahkan tidak berbaik hati untuk mengambil keduanya dari sepasang sepatu yang sama.”


Rachel menatap apa yang tadinya merupakan sepatu kulit Italia berwarna krem. “Kau toh tidak pernah mengenakan yang lain kecuali sepatu tenis atau sepatu bot.”


Dari kejauhan Nyoman dan Jesica memperhatikan keduanya. "Betapa serunya mereka jika di karunia bayi," gumam Jesica.


"Untuk saat ini biarkan mereka mengasuh anjing untuk belajar merawat."

__ADS_1


__ADS_2