
“Aku tahu sekarang malam Natal, Dila.” Jenson mengangkat cangkir kopinya, mendapatinya kosong lalu mengangkat cerek dari atas kompor listrik. Ampas. Ia meredam desahnya. Masalah di rumah kakek Robert adalah kau harus jalan sejauh setengah mil ke dapur kapan pun cerekmu mengering. “Aku tahu pestanya akan berlangsung dengan meriah, tapi aku tidak bisa ke mana-mana.”
Itu tidak sepenuhnya benar, renung Jenson saat mendengarkan omongan ngalor-ngidul Dila tentang sebuah perayaan di salah satu Club malam di kawasan Kemang. Menurut perkiraannya, semua temannya akan hadir di pesta itu. Itu berarti sebuah pesta yang meriah, dengan minuman beralkohol yang berlimpah.
Jenson bisa saja mengambil libur dan datang ke pesta itu untuk bersulang barang satu-dua gelas bersama teman-temannya. Tapi sesungguhnya ia tidak ingin pergi ke mana-mana.
“Aku menghargainya… Kau hanya ingin mengucapkan selamat natal saja kan? Tidak, mungkin pesta yang berikutnya, Dila. Aneh? Yeah, mungkin.” Jenson harus tertawa. Dila adalah penari ulung dan gudang tertawa. “Tahun baru kalau aku bisa mengatur jadwalnya. Oke, babe. Yeah, yeah, ciao.”
Lebih dari sekadar agak lega, Jenson menutup telepon. Dila adalah wanita yang menyenangkan tapi Jenson tidak terbiasa terikat padanya, ia tak pernah menganggap serius hubungannya dengan Dila. Tapi kenyataannya, Dila sangat tertarik pada semua pesona Jenson.
Jenson tidak mau ambil pusing soal perasaan Dila padanya, meski Dila punya ambisi dan bakat, kombinasi yang bisa sukses dalam bisnis hiburan yang berat jika sejumput keberuntungan ditambahkan ke dalamnya.
Dari depan pintu Rachel menyaksikan Jenson mengelus bagian belakang lehernya. Dila, ulangnya dalam hati. Ia membayangkan wanita selera Jenson mempunyai nama semacam Dila, atau Robin dan Candy. Molek, mulus, memesona, dan lebih diutamakan berkepala kosong.
“Sudah kuduga, kau mamang tak pernah bisa lepas dari wanita-wanita bertubuh molek dan berotak kosong.” Di satu sisi ia merasa lega, karena kemarin ia berhasil mempertahankan diri untuk tidak tidur dengan Jenson.
Jenson berbalik di kursinya untuk memberi Rachel tatapan panjang sambil memicingkan mata. “Sayang, apa kau mendengar pembicaraanku?”
Rachel mengangkat bahu tapi tidak melangkah masuk. “Kalau kau menginginkan privasi, seharusnya kau menutup pintu.”
__ADS_1
“Sayang, kau pasti sudah salah paham terhadap pembicaraanku dengan Dila tadi.”
Dengan sebelah alis dinaikkan dan kepala agak diangkat, Rachel tampak menjaga jarak layaknya bangsawan. “Percakapan teleponmu sama sekali tidak menarik buatku, karena aku sudah menduganya. Aku hanya datang untuk membantu Nyoman. Di bawah ada paket untukmu.”
“Terima kasih. Tapi aku pikir kau harus mendengar penjelasanku, sayang.” Jenson menangkap sirot mata yang penuh amarah, kecemburuan dan kecewa dari mata Rachel.
“Sudahku katakannaku tidak tertarik, aku mau bekerja dan kau tidak boleh mengangguku." Rachel bersiap untuk pergi dari kamar Jenson, namun dengan cepat Jenson mencegahnya.
"Percayalah, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya mengucapkan selamat natal padaku dan mengajakku ke pesta tapi aku sudah menolaknya demi kau." Jenson masih memegangi tangan Rachel dengan erat, namun kemudian Rachel menghempaskannya.
"Oh mengucapkan selamat natal dengan memanggilnya babe? Berapa banyak wanita yang kau panggil seperti itu?"
“Baiklah, aku minta maaf. Aku salah, mari kita hindari percekcokan ini,” Jenson tahu, penjelasan seperti apa pun tidak akan di terima oleh orang yang tengah cemburu, jadi sebainya dia menunggu waktu yang tepat. "Sebentar lagi Natal, dan kita punya tiga minggu penuh kebebasan dan lelucon iseng keluarga kita. Gencatan senjata.”
“Untuk saat ini.” Tak sepenuhnya puas, Jenson duduk kembali pada kursinya. “Ucapan Zephaniah tentang memberitahu polisi tentang penyusup dan menyebarkan rumor tentang penyelidikan resmi mungkin bisa berhasil untuk sementara waktu, atau mungkin keluarga kita sedang mengambil jeda liburan. Apa pun alasannya, aku belum sepenuhnya bisa bersantai.”
“Kau lebih memilih mematahkan hidung seseorang daripada memecahkan masalah dengan damai,” ujar Rachel. “Sudahlah, tak usah di pikirkan. Aku sendiri akan menikmati masa liburan dan tidak akan memikirkan keluarga kita yang tersayang.” Ia meraih rantai kepang emas dimeja Jenson dan memain-mainkannya. “Kurasa Dila kecewa, kau menolak ajakannya ke pesta."
"Aku tidak peduli dengannya, dia bukan siapa-siap bagiku."
__ADS_1
Rachel memutar-mutarkan rantai itu ke satu arah, lalu memutarnya kembali ke arah lain, kemudian melepaskannya. “Jenson, aku sungguh tidak apa-apa kau menghadiri pesta itu, pernikahan kita hanya sementara, kau bebas jalan dengan siapa pun yang kau mau."
Rachel menyadari hal itu, ia tidak berhak untuk mengakang Jenson pergindengan wanita manapun yang dia mau, namun kalimat itu justru membuat Jenson sakit.
“Peraturan nomor enam” Jenson mengingatkan. “Kita tetap bersama, dan kau sendiri sudah menolak setengah lusin undangan untuk menghabiskan liburan.”
“Pilihanku.” Rachel meraih rantai itu lagi, kemudian menjatuhkan tangannya. “Tidak ada kaitannya denganmu...”
“Pilihanku juga,” potong Jenson. “Aku sedang tidak ingin datang ke pesta.”
"Aku hanya terlalu malas untuk melakukan perjalanan itu.” Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Rachel beringsut keluar ruangan dan menghilang.
Wanita yang kontras, pikir Jenson. Ia sudah mendekati tergila-gila pada Rachel. Dan gila adalah ungkapan yang sempurna. Ia tahu Rachel cemburu, tapi ia tidak suka setiap kali Rachel mengatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah sementara. Jenson tak dapat kembali bekerja, ia bangkit dan mengikuti Rachel menuruni tangga.
Ia menemukan wanita itu di ruang tamu, sedang menata ulang paket-paket di bawah pohon. “Sudah berapa banyak paket yang kauguncang-guncang?”
“Semuanya,” jawab Rachel enteng. Tapi ia tak menoleh karena Jenson bisa saja melihat betapa senang dirinya mendapati lelaki itu bersedia turun ke bawah, bersama dengannya. Ia memain-mainkan sebuah kotak yang dibungkus dengan anggun, “sepertinya aku tidak menemukan hadiah untukku darimu.”
Jenson memberinya senyum tulus. “Siapa bilang aku memberimu hadiah?”
__ADS_1
“Kalau tidak, berarti kau tidak sopan dan kau pelit sekali padaku.”
“Kau bisa membeli apa pun yang kau mau, jadi untuk apa aku memberimu?" Jenson membungkuk untuk mengamati tumpukan kotak di bawah pohon. “Siapa Boris?” tanyanya menyelidik sembari memungut sebuah kotak kecil berwarna keperakan dengan pita putih melambai.