Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 51


__ADS_3

Atas apa yang semua terjadi dalam hidupnya membuatnya menghargai hal-hal kecil yang selama ini tak pernah dianggapnya penting. Terbangun di tengah-tengah tempat tidur yang hangat menyaksikan rintihan hujan turun sementara api di per apian berkobar di sampingnya. Ia belajar bahwa setiap detik dalam hidup adalah hal yang sangat berharga.


Ia telah mempertimbangkan akan memperguna kan satu hari untuk kembali ke apartement dan mengepak barang-barangnya. Namun ini lebih dari sekadar mengepak, ini adalah waktunya untuk membuat keputusan.


Ia tidak akan memperpanjang sewa butik dan apartementnya. ia harus menemani dan bertanggungjawab terhadap pelayan-pelayan tua Kakeknya. Meskipun pernah bertekad untuk hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan karyanya, Rachel membuat keputusan itu tanpa ia sesali.


Dan Jenson terlibat di dalamnya.


Rachel berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan menyesal.

__ADS_1


Sejak mereka pergi ke apartement Jenson untuk menangani masalah pendobrakan apartemennya, Jenson menjaga jarak, dengan kegelisahan yang tampak jelas. Meskipun mereka berdua memahami alasannya untuk berjaga-jaga, Rachel merasa mereka berdua telah dirugikan karena kejadian itu mereka menjadi jaga jarak satu sama lain.


Penyelidikan polisi tak membuat mereka puas. Setiap anggota keluarga mereka memiliki alibi untuk satu atau lebih insiden-insiden itu. Sejauh ini sepertinya penyelidikan itu menghasilkan hasil ganda. Sejak polisi turun tangan, kejadian aneh tak terjadi lagi. Tidak ada lagi telepon tak dikenal, bayangan di hutan, pesan palsu. Hal itu, seperti juga diramalkan Rachel, telah menciptakan kegemparan.


Bersamaan dengan itu datang pula sepucuk surat dari Bianca Cornelia yang mempunyai gagasan bahwa Robert’s itu berhantu, Robert’s itu rumah angker yang sangat menyeramkan. Jenson melakukan pembicaraan telepon selama dua menit dengan Morgan yang merutukkan soal bisnis keluarga, bereaksi berlebihan, serta bermacam omong kosong. Paman Yagil, dengan gayanya yang biasa, telah mengirimkan telegram berisi pesan singkat:


Polisi dan penjahat? Kelihatannya kalian berdua satu sama lain sedang bermain-main.


Lab polisi telah memastikan kebenaran hasil analisis sebelumnya terhadap sampanye, Randall melakukan penyelidikannya dengan lambat dan diam-diam. Jenson dan Rachel melakukan apa yang sudah mereka lakukan sejak berminggu-minggu yang lalu yaitu menunggu.

__ADS_1


Jenson tak tahu bagaimana Rachel sanggup menahannya. Seraya berjalan melintasi jalur sempit yang jelannya sudah di bersihkan oleh Rachel, ia bertanya-tanya bagaimana gadis itu bisa bertahan begitu tenangnya sementara ia sendiri sudah siap mengunyah kaca. Hanya perlu beberapa hari baginya telantar dalam ketidakpastian untuk menyadari bahwa lebih buruk bila tidak terjadi apa-apa. Menunggu orang lain bertindak adalah siksaan yang paling berat baginya. Sampai ia yakin Rachel aman, ia tak bisa tenang. Sampai ia bisa mencekik leher seseorang, ia tidak akan puas. Ia terperangkap dalam ketidak aktifan yang perlahan-lahan mulai membuatnya gila. Melewati bengkel Rachel, ia melirik ke dalamnya.


Rumah itu kelihatan besar dan bodoh dengan rintikan air hujan yang menetes di atap dan berjatuhan dari pancuran atap ke penutup daun jendela. Pemandangan itu cocok ada dalam buku, pikirnya, nuansa gotik murung yang berkabut. Seperti di dalam dongeng, nuansa suramnya. Mungkin suatu hari nanti ia sendiri akan menjalin cerita tentang itu, tapi untuk sekarang, tempat itu hanyalah rumahnya.


Dengan tangan terbenam di saku, Jenson menyaksikan asap mengepul dari cerobong asap. Memang tampaknya bodoh, tapi ia selalu menyukainya. Lebih lama ia tinggal di dalamnya, lebih yakin dirinya bahwa ia memang ditakdirkan tinggal di sana. Ia masih bertanya-tanya bagaimana reaksi Rachel terhadap keputusannya untuk tinggal setelah enam bulan itu berlalu.


Naskah terakhirnya untuk musim ini sudah mulai rampung. Itu satu-satunya episode yang akan di layar kacakan sebelum acara itu ditayangkan kembali pada musim gugur. Ia bisa saja, seperti yang sering dilakukannya, libur beberapa minggu pada awal musim semi dan menemukan pantai yang hangat dan ribut untuk menenangkan pikirannya. Ia bisa saja memancing, bersantai, dan menikmati pemandangan wanita-wanita berbikini minim. Jenson tahu ia tidak akan pergi ke mana-mana.


Beberapa hari terakhir ini ia sibuk mengutak-atik naskah untuk sebuah film besar. Sebelumnya ia pernah memikirkannya, tapi entah mengapa, sesuatu selalu merintangi. Ia bisa menulisnya di sini, ia tahu itu. Ia bisa menyempurnakannya di sini bersama Rachel yang berada di dekatnya saat ini, berkarya sambil mengkritik pekerjaannya sehingga ia semakin bertekad untuk menjadikannya lebih baik. Tapi ia masih menunggu. Menunggu sesuatu yang lain untuk terjadi, menunggu untuk menemukan siapa orang yang mempergunakan rasa takut dan intimidasi untuk mencoba mengusir mereka. Dan yang utama, ia menunggu Rachel. Sampai wanita itu memberinya kepercayaan penuh, tanpa paksaan, sampai Rachel menyerahkan hatinya tanpa batas, ia masih tetap harus menunggu.

__ADS_1


Tangannya dikepalkan lalu dilonggarkan. Ia ingin bertindak.


Jenson memeriksa pintunya, dan puas karena Rachel memegang ucapannya untuk menguncinya dari dalam. “Rachel, kau baik-baik saja di dalam sana?” Diketuknya pintu itu dengan sisi tinjunya. Yang dipanggil membuka pintu dengan bor di tangan. Setelah melirik sejenak pada wajah kemerahan dan rambut kusutnya, Jenson mengangkat tangan dengan telapak menghadap keluar. “Aku tak bersenjata.”


__ADS_2