
“Dan topi ini.” Rachel menemukan topi jerami bulat yang besar dengan rerimbunan bunga di sepanjang tepiannya. “Milik nenek Ketlin. Aku selalu berharap pernah bertemu dengannya. Ayahku berkata bahwa nenek ketlin sama menyenangkannya dengan Kakek Robert.”
Jenson mengamati Rachel mengusap pinggiran topi itu. “Kalau itu topi nenek Ketlin, aku percaya. Bagaimana dengan ini?” Ia menemukan sebuah topi derby hitam lalu mengenakannya dengan perlente.
“Kau ini,” Rachel berkata dengan tawa riang untuk pertama kalinya setelah berhari-hari memasang wajah tegang. “Yang kau perlukan hanya kemeja putih berkerah tinggi dan tongkat. Lihat.” Ditariknya Jenson ke arah sebuah kaca bangsawan tinggi yang butuh di lap agar bisa vercemin dengan jelas. Mareka bersama-sama mengamati diri mereka masing-masing.
“Pasangan yang anggun,” gumam Jenson, meski baju hangatnya tampak longgar di pinggul dan hidung Rachel berdebu. “Yang kau perlukan hanyalah rok lurus kecil yang menyapu lantai dan blus renda dengan bantalan bahu.”
“Dan batu cameo pada pita,” tambahnya sambil mencoba membayangkannya. “Tidak, aku mungkin akan mengenakan celana pof."
“Topi itu masih cocok untukmu.” Jenson berbalik untuk sedikit membetulkan letaknya. “Apalagi dengan rambutmu yang panjang dan terurai. Aku selalu menyukai rambutmu yang panjang, meskipun kau kelihatan sepperri orang bingung dan bermata besar ketika dulu kau memotongnya pendek-pendek.”
“Waktu itu aku berumur lima belas.”
“Dan kau baru saja kembali dari Kepulauan Canary dengan kaki paling panjang dan paling cokelat yang pernah kulihat dalam hidupku. Nyaris saja kumakan piringku sewaktu kau melangkah ke ruang tamu.”
“Kau masih kuliah dan menggandeng seorang pemandu sorak.”
Jenson menyeringai. “Kakimu lebih bagus, dari pemandu sorak itu.”
Rachel berpura-pura kurang berminat. Ia ingat sekali kunjungan itu, tapi merasa terkejut dan puas karena Jenson masih mengingatnya.
“Aku kaget kau masih memperhatikan maupun mengingatnya.”
__ADS_1
“Sudah kukatakan bahwa aku ini pengamat yang cermat.”
Rachel menanggapi serangan itu dengan anggukan singkat. “Sebaiknya kita mulai mengeluarkan dekorasinya. Kata Jesica, kotak-kotaknya ada di sebelah kiri dan sudah ditandai jelas.” Tanpa menunggu persetujuan Jenson, Rachel berbalik dan mulai mencari. “Ya ampun.” Ia berhenti lagi ketika melihat tumpukan kotak itu, dua puluh, mungkin dua puluh lima buah. Jenson berdiri di samping Rachel, lalu membenamkan tangannya di saku.
“Menurutmu kita bisa menyewa orang untuk membantu?”
Rachel mendesah. “Singsingkan lengan bajumu.”
Beberapa kali mereka sanggup mengangkut dua atau tiga kotak sekali jalan dan menuruni tangga. Kadang-kadang butuh dua orang dari mereka hanya untuk membawa satu buah kotak. Mereka berhenti berdebat, karena berdebat memerlukan terlalu banyak tenaga.
Dengan tubuh kotor dan berkeringat, mereka meletakkan kotak-kotak terakhir di ruang tamu. Mengabaikan debu di celana panjangnya, Rachel terkapar di kursi terdekat. “Tidakkah sangat menyenangkan untuk mengangkut semua kotak itu lagi setelah tahun baru?”
“Bisakah kita menggunakan Santa plastik saja?”
“Itu akan sebanding dengan usahanya” Mengumpulkan tenaga, Rachel berlutut di lantai dan membuka kotak pertama. “Ayo mulai.”
Karangan bunga berwarna putih dan keperakan melilit dan merambati pegangan tangga. Bola-bola berwarna merah terang, hijau mencolok, serta lampu-lampu kecil menunggu malam tiba.
“Kelihatannya bagus,” ucap Rachel. “Benar-benar bagus. Kira-kira bisa tidak ya, orang tuaku pulang pada hari Natal. Well…“ Rachel menghentikan bicaranya, orang tuanya tidak pernah punya waktu untuk pulang. “Aku rasa kita siap untuk menghias pohon. Ayo kita cari dulu pohonnya.”
“Kau ingin pergi mencari sekarang?”
“Tentu saja tidak.” Rachel sudah melongok jaket-jaket di lemari. “Kita akan pergi ke hutan belakang dan menggali sebatang pohon.”
__ADS_1
“Kita?”
“Tentu. Aku benci kalau orang menebang pohon lalu mencampakkannya begitu saja setelah tahun baru. Hutan itu diisi oleh pohon-pohon pinus kecil yang lucu. Kita akan menggali sebatang, lalu menanamnya kembali setelah libur usai.”
“Seberapa tangkas kau menggunakan sekop?”
“Jangan menghina tangan mungilku.” Rachel melemparkan jaket Jenson ke arah pemiliknya, kemudian mengambil miliknya sendiri. “Lagi pula, akan menyenangkan untuk menghabiskan sedikit waktu di luar setelah berada di loteng sumpek itu. Kita bisa minum teh panas kalau kita sudah selesai.”
Mereka berhenti di tempat penyimpanan perkakas untuk mengambil sekop. Jenson mengambil dua buah dan menyerahkan sebuah pada Rachel. Wanita itu menyambutnya tanpa berkedip, lalu mereka berdua berjalan beriringan menembus rintik gerimis menuju hutan. Udara dingin terasa menusuk dan aroma pinus entah bagaimana terasa lebih kuat.
“Aku suka kalau seperti ini.” Rachel menyeimbangkan sekop di bahunya dan mulai menerobos hutan. “Begitu sepi, begitu terpisah. Kakek sungguh cermat, bisa menghadirkan hutan di tengah kota seperti ini.”
Jenson punya pikiran yang sama, namun tetap terkejut ketika mendengarnya dari Rachel. “Aku selalu berpikir bahwa kau lebih menyukai mall ketimbang hitan."
“Memang. Tapi aku juga menyukai ini. Bagaimana dengan yang satu ini?” Ia berhenti di hadapan sebatang pohon cemara.
“Jangan, batangnya terlalu bengkok.”
Rachel melanjutkan jalannya. “Tidak ada salahnya sesekali ke mall untuk berbelanja. Nah ini dia pohonnya.”
“Terlalu tinggi. Sebaiknya kita menggali yang masih muda."
Rachel mengamati pohon yang sedang dipertanyakan, dan ia terpaksa sepakat dengan Jenson. “Betul juga ini sangat tinggi untuk di hias.”
__ADS_1
Mereka mencari yang berikutnya. "Yang ini kelihatannya bagus.” Ia berhenti lagi dan memandangi sebatang pohon setinggi satu setengah meter. Di belakangnya, Jenson bekerja keras untuk membungkam mulutnya sendiri. “Ukurannya pas sekali dengan ruang tamu.”
“Baiklah.” Jenson membenamkan sekopnya ke tanah. “Ayo segera bekerja.”