Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 21


__ADS_3

Setelah melalui tingkat demi tingkat yang melelahkan, akhirnya Rachel berhasil menyelesaikan kalung zamrud itu. Ia memberi nilai pada kalung buatannya dengan nilai yang sempurna. Penilaian itu sangat objectiv sebab ia adalah kritikus terpedas bagi karyanya sendiri.


Rachel sangat puas secara kreatif terhadap setiap potong kalung yang pernah ia buat. Ia mengamati perhiasan itu di bawah kaca pembesar, memegangnya diterangi cahaya, memeriksanya inci demi inci dan tidak menemukan adanya kecacatan. Dengan imajinasinya yang kaya ia merancangnya, lalu dengan keahliannya sendiri, ia menciptakannya. Benda itu bukan miliknya lagi sekarang, sebab ia akan segera memberikan pada pelanggannya.


Karena kalung itu sudah selesai, ia mengamati ruang kerjanya tanpa inspirasi. Ia telah mencurahkan begitu banyak waktu untuk karya yang satu itu, segenap perhatiannya, emosi, dan keahliannya. Ia belum membuat rencana apa pun untuk proyek selanjutnya. Dengan perasaan gundah, ia memungut buku sketsanya dan mulai menggambar lagi.


Anting-anting, mungkin, renungnya. Sesuatu yang berani dan bergumpal-gumpal serta penuh ornamen. Ia menginginkan perubahan setelah mengerjakan perhiasan indah dan elegan yang membutuhkan begitu banyak waktunya itu. Lingkaran dan segitiga, pikirnya. Sesuatu yang geometris dan jelas-jelas terlihat modern.


Romantis, renungnya, dan menggambar garis-garis yang tegas dan jelas. Ia sudah mengerjakan perhiasan yang romantis, mungkin itulah yang nyaris membuat dirinya sendiri tampak bodoh di hadapan Jenson. Emosinya terlibat dengan pekerjaannya, dan pekerjaannya itu ringan, feminin, serta romantis. Kini ia akan berurusan dengan sesuatu yang kuat, tegas, dan arogan.

__ADS_1


Ia membalik selembar halaman dan mulai menggambar, di tengah keseriusannya menggambar sketsa, tiba-tiba saja ia teringat akan Jenson, padahal sudah jelas bahwa perasaannya pada Jenson, tidak ada toleran lagi. Kalau kau tidak toleran terhadap seseorang, tidak masuk akal bila kau sampai tertarik padanya.


Semua yang terjadi antar dirinya dan Jenson kemarin, bukanlah ketertarikan yang sesungguhnya. Itu lebih seperti semacam rasa ingin tahu yang berbelit. Ya, rasa ingin tahu. Istilah itu cukup mewakilinya. Ia ingin tahu, apa yang ada di dalam diri Jenson Dirgantara hingga sanggup menarik hati gadis-gadis di poster majalah ternamaan ibu kota. Rachel betul-betul penasaran dan akan mencari tahu.


Rachel melihat Jenson seperti memiliki semacam keterampilan dan mungkin saja Jenson mengasahnya dengan cermat, sebagai seorang yang ahli menarik perhatian wanita. Tapi Rachel tidak akan masuk ke dalam perangkapnya, ia tidak akan pernah mau tidur dengan Jenson, terlebih Jenson hanya suami sementara. Jika Jenson sampai berhasil menidurinya, maka pria itu akan merasa sangat bangga dan menepuk dadanya selama satu bulan.


Kemandirian adalah bagian dari tabiat Rachel. Ia tidak ingin menjadi salah satu dari para wanita Jenson. Sekarang setelah rasa ingin tahunya telah terpuaskan, mereka akan melewati lima bulan berikutnya tanpa ada lagi rintangan dan akan berlalu sedikit lebih mudah lagi.


Semmentara itu di ruang kerjanya, Jenson tidak begitu berhasil dengan pekerjaannya sendiri. Ia duduk di belakang meja dan mengetik seperti seorang maniak selama lima menit. Lalu tatapannya menerawang selama lima belas menit. Itu bukan seperti dirinya. Sewaktu ia bekerja, ia bekerja dengan mantap, ahli, lancar, sampai naskahnya siap.

__ADS_1


Ia bersandar di kursinya, dan memungut sebatang pensil lalu menyusuri kedua ujungnya dengan jemarinya. Apa pun kata statistik, seharusnya ia tidak berhenti merokok. Itulah yang membuatnya begitu tidak tenang. Gelisah, ia menjauh dari meja dan berjalan ke arah jendela. Ditatapnya ruang kerja Rachel. Tempat itu kelihatan ceria di balik derai air hujan. Jendelanya tampak kosong.


Itulah yang membuatnya begitu tidak tenang.


Rachel tidak seperti yang ia perkirakan. Wanita itu lebih lembut, lebih manis. Lebih hangat. Rachel enak diajak bicara, baik jika sedang berdebat maupun mencela dan menjaganya tetap berada di batas kemarahan yang wajar, terkadang Rachel bisa menjadi sobat taupun teman yang asyik. Tidak pernah ada obrolan kecil yang sia-sia dengan Rachel. Tidak pernah ada percakapan yang hambar. Ia membuat Jenson tetap berpikir, meskipun harus mempertahankan diri terhadap serangannya selanjutnya.


Tidak mudah mengakui bahwa ia menikmati saat-saat bersama Rachel. Namun minggu-minggu kebersamaan mereka di rumah kakek Robert telah berlalu begitu cepat. Tidak, tidak mudah mengakui bahwa ia senang bersama Rachel, tapi ia telah menolak sebuah undangan menarik dari asisten produsernya karena… Karena, Jenson mengakui seraya menarik napas panjang, ia tidak ingin menghabiskan malam bersama seorang wanita saat ia tahu pikirannya mengembara bersama Rachel, terlebih Rachel adalah istrinya.


Bagaimana ia bisa menghadapi ketertarikan yang tidak diinginkan dan tidak diduga-duga terhadap seorang wanita yang lebih memilih untuk mengenakan sarung tangan dan berkelahi beberapa ronde dari pada berjalan-jalan di bawah sinar rembulan?

__ADS_1


Wanita-wanita yang romantis selalu membuat Jenson tertarik karena ia sendiri juga seseorang yang romantis. Ia menyukai makan malam diterangi sinar lilin, musik yang tenang, berjalan-jalan lama dan sendirian. Jenson memikat hati wanita dengan cara-cara kuno. Itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa ia adalah, seorang feminis yang setia. Percintaan dan paham sosiopolitis sungguh berbeda jauh.


Dan ia tahu, jika ia mengirimi Rachel selusin mawar putih, wanita itu akan mengeluh tentang durinya.


__ADS_2